Coming Out as An Atheist

angelaranee©2018

.

“Tulisan ini didedikasikan kepada:

semua orang yang telah menjadi inspirasi saya,

komunitas ateis yang ada di luar sana,

kalian yang belum memiliki kesempatan dan keberanian untuk mengungkapkan identitas kepercayaan kalian yang sebenarnya,

dan yang paling penting, diri saya sendiri; yang hidup di masa lalu, sekarang, maupun masa depan.”

.

Halo, lama tidak bersua di sini. Apa kabar kalian semua? Semoga dalam kondisi yang baik, karena saya pun sedang dalam keadaan yang baik pula.

Saya tahu, judul dari tulisan kali ini akan terdengar cukup mengejutkan bagi sebagian dari kalian, bahkan mungkin juga mengundang ribuan tanya. Tapi nanti, tahan dulu pertanyaan-pertanyaan kalian sembari merampungkan proses membaca tulisan ini dari awal sampai akhir. Jangan tanya kalau membacanya tidak tuntas, dijamin bakal menimbulkan kesalahpahaman dalam pikiran kalian sendiri. Orang yang bingung mudah terpicu, orang kalau sudah terpicu pasti bakal memancing keributan dan mencari masalah. Saya tidak sedang dalam suasana hati yang tepat untuk berkonflik dengan orang lain.

Pertama, untuk mengawali tulisan yang saya yakini akan menjadi sangat panjang ini, saya ingin memberikan klarifikasi terlebih dahulu mengenai judul di atas. Singkat saja, klarifikasinya hanya terdiri dari satu kata: ya. Saya adalah seorang ateis.

Saya mulai menyadari ada yang berbeda dari pemikiran saya dengan yang dimiliki oleh orang-orang di sekitar saya, kalau tidak salah ketika saya duduk di bangku kelas 9 silam. Saya tidak ingat kapan pastinya. Tiba-tiba saja, saya mulai mempertanyakan perihal agama dan eksistensi Tuhan.

Saya mulai berperang dengan diri saya sendiri. Saya tahu meski orangtua saya bukan tipikal teis fanatik, mereka jelas-jelas menentang ateisme. Tidak hanya itu, saya menghabiskan masa kecil tinggal di rumah eyang saya yang kebetulan sangat fanatik terhadap agama yang mereka anut. Tentu saja, pada saat itu, sebagian dari diri saya menolak mengakui bahwa sedikit-banyak saya tidak percaya terhadap konsep agama dan ketuhanan.

Butuh dua tahun bagi saya untuk akhirnya benar-benar meyakini apa yang saya mau yakini, yaitu sebuah konsep di mana eksistensi Tuhan tidak diakui dan semua yang terjadi di alam semesta dapat dijelaskan secara ilmiah, melalui serangkaian proses analisis dan murni menggunakan logika. Itu saja saya tidak serta merta merasa bebas. Selain karena keputusan saya memang berisiko besar, juga karena masih ada rasa minder dalam diri saya.

Menjadi kaum minoritas itu tidak mudah, itu yang saya pelajari dalam perjalanan hidup saya selama 3-4 tahun terakhir. Saya sebut komunitas ateis sebagai kaum minoritas, kendati belum pernah ada survei yang dapat menyediakan data kuantitatif ateis di Indonesia, namun saya tetap yakin bahwa jumlahnya tidak akan banyak. Kalaupun banyak, saya rasa sebagian besar akan lebih memilih untuk menutupinya.

Sejauh ini, saya memang belum pernah mendapat diskriminasi secara langsung dari masyarakat karena saya seorang ateis. Mungkin karena lingkup pergaulan saya masih cenderung itu-itu saja, tidak tahu kalau sudah lulus dari SMA dan selanjutnya. Walaupun begitu, saya lumayan sering mengalami peristiwa-peristiwa tidak mengenakkan di lingkungan sekolah setelah saya coming out sebagai ateis. Bahkan beberapa datang dari teman-teman dekat saya sendiri. Tidak apa-apa. Justru dari kejadian seperti ini, saya jadi tahu kualitas teman-teman saya itu seperti apa.

Sebenarnya, saya belum bisa menyatakan bahwa saya telah benar-benar coming out. Yang tahu bahwa saya itu ateis hanya teman-teman saya, baik yang di sekolah maupun yang saya kenal di dunia maya. Oh, dan guru Sosiologi saya, nanti akan saya ceritakan sedikit.

Saya akui saya belum berani coming out di hadapan keluarga saya, setidaknya sampai saya bisa hidup mandiri. Terkesan oportunis, tapi bagaimanapun saya masih sangat bergantung kepada orangtua, terutama secara finansial. Mereka bisa saja mengancam tidak mau membiayai pendidikan saya, atau mengekang dan membatasi pergaulan saya, hanya karena saya coming out. Berpura-pura jadi orang lain itu melelahkan. Tetapi untuk sekarang, saya rasa lebih baik seperti ini saja dulu. Biarlah orangtua saya tahunya putri mereka anak baik-baik, biar tidak stres.

Kembali ke guru Sosiologi saya. Bagaimana awalnya, kok bisa beliau tahu saya ateis? Faktanya, saya memang cukup dekat dengan beliau. Selain karena beliau pribadi yang menyenangkan, selisih usia yang hanya 10 tahun di antara beliau dengan saya dan teman-teman juga menjadi salah satu alasannya.

Beliau tahu saya ateis baru-baru ini, ketika pelajaran Sosiologi sedang berlangsung di kelas saya, waktu itu membahas materi mengenai nilai dan norma sosial, kemudian beliau meminta saya menjelaskan mengenai diversitas gender dan orientasi seksual. Saya bilang di depan beliau dan teman-teman sekelas, bahwa secara pribadi saya mendukung komunitas LGBTQ. Kemudian beliau bertanya,”Tetapi kamu tahu hal itu dianggap tidak lazim di Indonesia, dianggap tidak sesuai nilai dan norma, terutama norma agama. Nah, kira-kira bagaimana cara kamu memandang hal tersebut melalui perspektif agama?”

Di sinilah, saya kemudian menjawab bahwa saya tidak pernah memandang sesuatu melalui perspektif agama. Saya bilang bahwa bagi saya seseorang bisa hidup tanpa agama, tapi tidak bila tanpa rasa kemanusiaan. Mengakui, mendukung, dan memperjuangkan komunitas LGBTQ bagi saya adalah salah satu tindakan memanusiakan manusia. Mendengar pernyataan saya, beliau lantas bertanya, siapa itu Tuhan bagi saya? Dan saya yang kala itu merasa tidak perlu lagi menutupi identitas saya di hadapan teman-teman saya pun menjawab sejujur-jujurnya. Saya katakan saya tidak tahu siapa itu Tuhan, saya tidak kenal, dan saya tidak tahu seperti apa wujudnya karena bagi saya ia tidak ada.

Hari itu menjadi hari pertama saya secara “resmi” coming out di hadapan banyak orang. Lega rasanya, walaupun setelahnya saya dibanjiri banyak sekali pertanyaan dari teman-teman yang belum tahu kalau saya ateis. Beberapa pertanyaannya agak konyol, tapi tidak apa-apa. Mereka pasti juga merasa asing dengan hal seperti ini, wajar menanyakan hal-hal sepele dan lucu.

Coming out sebagai ateis itu tidak mudah, dan tidak akan pernah mudah bagi saya, selama status saya masih sebagai warga negara dan penduduk Indonesia. Akan selalu ada tantangan baru yang menanti dan mau tidak mau harus saya hadapi. Kalau boleh jujur, tantangan paling menyiksa bukan penolakan secara mentah-mentah, melainkan kemunafikan orang-orang di sekitar saya, hahaha…

Saya punya salah satu teman dekat (dulu, sekarang, sih saya merasa sudah tidak begitu dekat dengannya karena merasa kurang cocok dengan karakternya). Waktu pertama kali tahu saya seorang ateis, dia bilang,”Tidak masalah, sih. Itu ‘kan pilihan pribadi kamu.” Tapi selanjutnya, yang dia perbuat terhadap saya berbanding terbalik dengan ucapannya. Ia sering sekali mengucapkan kata-kata yang intinya memaksa saya untuk “kembali menjadi seorang teis”, atau yang lebih lucu lagi, menggurui saya.

Katanya kalau saya masih bisa menangis, berarti saya belum jadi ateis yang sempurna. Ateis yang sempurna itu tidak punya perasaan. Wow, menarik! Perasaan saya ini coming out sebagai ateis, loh, bukan sebagai robot. Sedikit memprihatinkan ketika tahu ada orang-orang yang menyamakan ateisme dengan egoisme. Ini bahkan lebih parah dengan orang yang menyamakan ateisme dengan komunisme. Sekadar informasi, teman saya ini pernah menertawakan teman kami yang tidak bisa membedakan ateisme dengan komunisme. Ah, rupa-rupanya dia lebih tolol. Shame on you, Dude.

Oke, walaupun begitu, saya yakin orang-orang awam masih banyak yang bertanya-tanya, apakah mungkin bagi seorang ateis untuk berbuat kebaikan? Jawabannya, ya, sangat mungkin. Kembali lagi ke prinsip saya mengenai humanitas, berbuat kebaikan adalah sebuah tindakan kemanusiaan. Agama memang menjadi sebuah sarana untuk mengajari manusia berbuat baik, tetapi tanpa agama pun, manusia tetap bisa melakukannya.

Kemudian, pertanyaan lain seputar ateisme yang paling sering ditanyakan adalah kepada siapa ateis bersyukur? Jawabannya, kami berterima kasih kepada sesama manusia. Contohnya, kami mendapat makanan gratis. Kami bersyukur dan berterima kasih terhadap orang yang telah memberi kami makanan secara cuma-cuma tersebut. Sebenarnya jawabannya sesederhana itu, tapi terkadang orang kalau melontarkan pertanyaan itu suka terlampau puitis. Bertele-tele ucapnya agar yang ditanya bingung, lantas tidak tahu mau menjawab apa, dan mereka bisa bilang,”Tuh, ‘kan! Kamu jawab saja tidak bisa, berarti aslinya kamu tidak paham, toh dengan apa yang kamu percayai?”

Sebenarnya masih banyak lagi pertanyaan seputar ateisme, tapi lain kali saja saya bahas, saya bikinkan tulisan sendiri, kalau sempat dan niat. Tulisan ini saya buat semata untuk mencurahkan isi hati dan berbagi pengalaman. Seandainya tulisan ini bisa menginspirasi orang lain agar menjadi lebih berani dalam mengakui identitas dirinya sendiri, maka saya akan turut senang.

Bagi para ateis di luar sana, yang diasingkan, didiskriminasi, diremehkan, yang merasa kecil hati dan takut, yang belum mempunyai kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri, remember this: you are not alone, and you will never be.

.

.

.

–end.

Advertisements

3 thoughts on “Coming Out as An Atheist

  1. Hai, there! Saya bukan ateis. Tapi sedikit banyak saya seperti tersentil ketika membaca ini dan ingin lebih kenal kamu. Tidak seperti kamu yang sudah berani tampil, saya masih dalam tahap ‘memahami diri sendiri’ dalam konteks yang lain. Pergolakan batin benar-benar melelahkan saya, ketika saya baca tulisan ini saya benar-benar merasa kamu sedang berbicara dengan saya ‘iya, saya tidak sendiri’, terima kasih.

    Keluarga saya, lingkungan sekitar dan lingkungan pekerjaan membuat saya masih perang dengan hati saya. Saya bahagia kamu merasa lega setelah tampil seperti apa yang kamu yakini, dan doakan, ya, saya bisa lega seperti kamu suatu hari nanti.Dan saya senang juga karena saya follow blog kamu dan akhirnya tulisan kamu ini masuk notifikasi e-mail saya.

    1. Hai juga! Sebelumnya ayo kenalan dulu! Aku Ranee, kelahiran tahun 2000. Salam kenal dan terima kasih sudah baca tulisanku!

      Senang kalo tulisan ini bisa membuat kamu merasa tidak sendirian. I feel sorry to hear that you’re now having a conflict with yourself, semoga di sana kamu punya teman ngobrol supaya kamu nggak perlu bottling it up sendiri. Dan semoga, apa pun yang sedang jadi masalah buatmu sekarang, bisa segera menemukan titik terang. It always feels good to be ourselves, akan tiba waktunya diri kita yang menang, bukan omong kosong dari orang lain.

      P.S. : Anytime you need a company, or someone to talk about stuffs, do not hesitate to ask my contacts 🙂

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s