Do Our Beliefs Really Define Our Mental States?

Sebenarnya tadinya ingin diam saja, tetapi lama-lama mengganjal juga kalau nggak ditumpahkan ke sini.

Halo, lama nggak menulis di sini. Kesibukan dan ketiadaan ide untuk menulis (dalam bentuk apa pun) menguasai saya akhir-akhir ini, dan kebetulan sekarang mendapat sedikit waktu luang serta sesuatu yang ingin ditulis.

Saya nggak tahu apakah berita ini masih berlalu lalang di media cetak maupun elektronik, tetapi seperti yang kita semua tahu, sekitar seminggu yang lalu Indonesia dibuat gempar oleh video seorang pria gantung diri yang ia siarkan secara live melalui akun Facebook-nya. Videonya memang sudah dihapus, dan mungkin sudah ditarik peredarannya dari dunia maya, tetapi saya sempat menonton karena kebetulan ada salah seorang teman yang menyimpan videonya di ponsel.

Saya nggak menontonnya sendirian. Waktu itu bersama beberapa teman saya yang lainnya, dan komentar mereka semua rata-rata sama. “Ih, dia nggak takut dosa, ya?”, “Memangnya dia pikir kalau seperti itu bakal masuk surga?”, “Wah, kalau seperti itu, sih sudah jelas tempatnya di neraka.”, “Dasar bodoh.”, dan lain sebagainya.

Ketika mendengar komentar-komentar tersebut keluar dari mulut mereka, entah kenapa secara spontan saya menanggapi,”You guys don’t even know what is it like to suffer a mental illness.”

Jujur, sampai sekarang kalau ingat, saya masih merasa jengkel sekaligus sedih. Memang terkadang reaksi verbal yang keluar dari mulut kita tidak selamanya bisa disaring terlebih dahulu, terlebih ketika mendengar atau melihat sesuatu yang bagi kita nggak biasa, kita akan cenderung memberikan reaksi spontan. Mungkin begitu juga yang dialami teman-teman saya, tetapi bukan berarti saya membenarkan begitu saja.

Sebelum saya bicara lebih lanjut mengenai ini, mohon diingat kembali bahwa apa pun yang saya tulis di sini adalah murni pendapat pribadi dan pemikiran saya sendiri yang tidak sepenuhnya valid. Saya nggak meminta kalian setuju, saya hanya ingin kalian mengerti.

Mental illness. Apa, sih itu? Tanpa perlu saya jelaskan menggunakan kutipan dari Wikipedia atau situs kesehatan lainnya, saya rasa kalian pasti sudah tahu apa definisinya.

Semua orang-termasuk saya-tahu apa definisi dari penyakit mental. Tetapi apakah semua orang bisa memahami penyakit mental itu sendiri?

Harus saya akui bahwa saya prihatin dengan masyarakat yang masih cenderung memandang sebelah mata penyakit mental. Anggapan bahwa mereka yang memiliki penyakit mental sesungguhnya hanyalah segelintir orang-orang yang tengah mencari perhatian menjadi salah satu alasan mendasar mengapa penyakit mental masih diremehkan. Well, untuk hal ini, sebenarnya saya nggak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka, karena kenyataannya ada saja orang-orang yang mengaku punya penyakit mental untuk cari sensasi, hahaha…

Tetapi mengesampingkan hal tersebut pun, faktanya sebagian orang simply meremehkan penyakit mental, melabeli jidat para penderitanya dengan label “attention seeker“, dan bersikap acuh tak acuh. Bahkan ketika para penderita penyakit mental tersebut harus berakhir diisolasi di tempat rehabilitasi atau bahkan mengambil keputusan untuk mengakhiri hidup mereka, tanggapan orang-orang nggak juga membaik. Alih-alih menunjukkan sedikit simpati, mereka malah melontarkan komentar,”Pantas saja dia gila, nggak dekat dengan Tuhan, sih.” atau komentar lain yang senada.

Sekarang, izinkan saya berbicara sedikit mengenai pengalaman pribadi saya. Saya pernah menjadi seseorang yang menolak percaya pada Tuhan maupun agama selama beberapa tahun. Dan saya pernah mengalami masa-masa di mana kondisi psikis saya sangat labil, when both anxiety and depression attacked me like there’s no tomorrow. Saya juga pernah mencoba melakukan self-harming, yang saya rasa tak perlu saya jelaskan lebih detail seperti apa karena sepertinya kurang etis.

Saya yang sekarang… well, saya sendiri juga bingung harus menjelaskannya dengan kata-kata yang seperti apa. To say that I am still an Atheist would be an understatement, but to say that I am a Catholic “again” would be questionable. Lupakan soal kepercayaan saya dan tetek-bengeknya, biarkan itu menjadi pergolakan batin bagi diri saya sendiri, hahaha… Bicara mengenai kondisi mental saya yang sekarang, I feel much better than before, but that doesn’t mean I am 100% okay. Terkadang saya menjadi overthinking akan sesuatu yang sebenarnya sepele, dan terkadang sebuah masalah kecil membuat saya menjadi down untuk waktu yang cukup lama. I am no longer doing self-harming, but there are still times when I think about doing that again, even sometimes I think about death.

To be honest, having anxiety and depression at the same time is confusing because there will be times when depression says I want to die, but anxiety says what if I die, hahaha…

Yang mau saya tekankan di sini adalah bagaimana kepercayaan kepada Tuhan dan agama tidak selalu memiliki keterkaitan dengan kondisi kejiwaan seseorang. I know some people who I consider religious but turn out they suffer mental illness, some of them choose to end their life by themselves. Nggak usah bawa-bawa penyakit mental, deh, sederhananya, orang-orang yang katanya religius dan dekat dengan Tuhan tapi kelakuannya masih bejat juga banyak. Tapi kalau saya bilang seperti ini, nanti ada yang menyangkal dengan argumen,”Namanya manusia, ‘kan nggak luput dari dosa.” Hahaha… basi.

Saya pernah menceritakan tentang kondisi kejiwaan saya kepada beberapa orang yang berbeda, dan mendapat reaksi yang berbeda-beda pula. Ada yang berusaha menghibur saya, ada yang berusaha membantu saya agar saya bisa merasa lebih baik, ada yang tidak peduli, dan yang paling menyebalkan… ada yang ceramah. For goodness’ sake I don’t need people to talk to me about religion and give me bunch of prayers to pray or Holy Bible’s verses. My belief doesn’t have anything to do with my mental state.

Saya beri tahu, ya, penderita penyakit mental itu nggak butuh ceramah. Kami (atau setidaknya saya) nggak butuh siraman rohani panjang lebar, apalagi kalau sudah menyangkut agama dan relasi dengan Tuhan. Seriously, sealim-alimnya orang pun kalau jiwanya sudah sakit pada akhirnya bakal lupa juga dengan identitas dia sebagai orang beriman.

Mental illness sufferers need supports. Kami membutuhkan seorang teman yang sanggup mendampingi kami, bahkan ketika kami sedang berada di titik terendah kami dalam hidup. Kami nggak bermaksud mencari perhatian atau menyakiti perasaan orang lain, tetapi ketika kami berusaha mengucilkan diri atau mengusir mereka yang berusaha mendekati kami, sesungguhnya kami nggak benar-benar ingin jauh dari mereka. Intinya, deep down kami butuh teman.

Kembali lagi ke kasus gantung diri di atas. Nggak hanya komentar dari teman-teman saya, rupanya di dunia maya pun para netizen memiliki komentar senada. Lucu bagi saya, ketika melihat begitu banyak orang mendadak alim dan menjadi tokoh agama dadakan, berkoar-koar tentang agama dan Tuhan, mengutip ayat dari Kitab Suci agama masing-masing, dan mempostingnya di kolom komentar. Pertanyaan saya sederhana, buat apa, sih ceramah ke orang yang sudah mati? Seperti bicara sama tembok. Sampai mulut kita berbusa, temboknya bakal tetap diam saja.

Lewat tulisan ini, saya hanya ingin kalian semua paham what’s really going on when a person suffers mental illness. Saya juga ingin kalian semua paham bahwa religion and belief don’t always define who we are, in this case, when it comes to mental state. Sekali lagi saya tekankan bahwa apa yang telah saya tulis adalah opini saya sendiri, dan saya nggak menuntut kalian untuk setuju, tapi tolong pahamilah sedikit demi sedikit. Kalau nggak paham, ya mending lain kali kalau ada isu yang berhubungan dengan penyakit mental diam saja, daripada melontarkan komentar yang nggak berdasar dan banal, hahaha…

Sekian dari saya, sampai bertemu lagi di tulisan saya selanjutnya.

Advertisements

2 thoughts on “Do Our Beliefs Really Define Our Mental States?

  1. Really agree, Rani. Mental illness sufferer needs support. Aku sepenuhnya setuju juga kalau seseorang yang religius bisa saja juga mengalami mental illness karena banyak faktor di belakangnya. Semoga tulisan ini bisa menyadarkan banyak orang untuk lbh aware sama penderita mental illness.

    1. Hai, Kak Mala!
      Yup aku agak-agak jengkel dengan orang-orang yang close-minded perihal mental illness, padahal mental illness is not that simple loh kenapa masih aja diremehin huft. Aku juga berharap tulisanku kali ini bisa berguna bagi orang-orang yang baca 🙂
      Thanks for reading and sharing your opinion, Kak!

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s