[Oneshot] Devil’s Dare

pexels-photo-167964

.

A collaboration of dhamalashobita, fikeey, Io, kkeutkaji, Lt. Von, shiana, and me— Angela Ranee.

***

Janet seharusnya mendapat penghargaan sebagai Pacar Terbaik Tahun 2016 atas kesabarannya yang sederas air terjun Niagara dan sikap manisnya yang mengalahkan kembang gula. Walaupun acap kali aku pulang kelewat malam dan sering melupakan tanggal-tanggal penting dalam hubungan kami—ulang tahunnya, anniversary, dan apalah yang sering dibicarakan anak muda sekarang—ia hanya akan melempar senyum padaku dan berkata: “Tidak apa. Toh kau dan aku masih baik-baik saja sekarang, ‘kan?” Dan ketika tangannya bergerak untuk mengelus bahu, ada rasa mual di perutku terkait dengan apa yang kulakukan di belakangnya.

Yeah, Janet memang seorang pasangan sempurna bagiku—sangat sempurna malah. Kadang aku sering bertanya pada diriku sendiri, hal baik apa yang pernah kulakukan di masa lalu hingga Tuhan mengirim Janet padaku.

Aku menahan keinginan untuk menghela napas panjang dan mengalihkan atensi dari layar komputer. Jarum jam pendek di ruangan telah mengarah ke angka sebelas dan aku masih bergelut dengan laporan yang harus diserahkan kepada kepala direktur besok. Kulirik ponsel yang tergeletak di sebelah mouse—menimbang untuk menelepon Janet—namun segera kutepis gagasan tersebut. Tadi pagi aku sudah memberitahu kekasihku agar tidak perlu menunggu dan langsung beristirahat jika dia lelah. Janet pasti sudah terlelap sekarang.

“Kau tahu, mengabaikanku bukanlah suatu langkah yang bagus, Tuan Manusia.”

Suara berat nan halus itu nyaris membuatku terjatuh dari kursi. Aku memutar tubuh—dan di sana, berdiri dengan pose santai bersandar pada dinding ruangan, adalah iblis yang kujumpai tepat dua minggu yang lalu.

“Dan mengagetkanku juga bukan hal yang bijak, Demon!

Suaraku serak dan tentu saja indra pendengaran ekstra sensitif makhluk itu menangkap getar ketakutan di antara sentakan yang kulontarkan. Karena dwimanik sewarna merah darah miliknya segera melebar dengan antusias, lantas dalam satu kedipan presensinya memangkas jarak dan berdiri tepat di hadapanku dengan jemari telunjuk berkuku runcing yang siap menggores tulang hidungku kapan saja.

“Bukankah sudah kubilang aku punya nama? Cih! Ingatan kalian, Kaum Manusia, benar-benar payah!”

Dengan posisi yang kurang menguntungkan—terduduk di kursi, sedangkan si iblis berbadan besar sekelas atlet gulat berdiri menjulang, ditambah ingatanku yang payah telah melupakan namanya—membuatku memilih menekan kuat-kuat ego yang hendak balas menyalak. Mulutku terkunci rapat sementara ia melempar pandang ke sekeliling ruangan, sebelum akhirnya kembali menatapku dengan jengah.

“Langsung saja ke inti masalah. Aku kemari untuk menagih janji manismu, Tuan Manusia.”

Sungguh, aku ingin sekali berlagak songong dengan menjawab, “Menghapal ulang tahun Janet saja aku kepayahan, apalagi mengingat apa pun janji manis yang kuumbar untukmu.” Bahkan berkacak pinggang sekalian kalau perlu, sembari menyangkal bahwa aku pernah mengobral kesepakatan. Tapi, yah, mengetahui fakta bahwa aku melupakan namanya saja sudah berhasil membuatnya keki, bisa-bisa aku berakhir tinggal nama kalau nekat menjawab demikian. Maka, kujawab ia dengan tak kalah ambigu ….

“Tak masalah, asal kau tak melibatkan Janet sebagai bagian dari tagihanmu.”

“Kau yang berjanji sendiri, Manusia!”

Lubang hidungnya menyemburkan napas serupa kobaran api—dan walau aku tak punya sedikit pun bayangan mengenai anatomi tubuh seorang (atau seekor?) iblis, aku tetap tahu gesturnya tadi menjadi tanda bahwa ia tersulut emosi. Hardikannya membuatku pekak, dan aku tak percaya aku mengatakan ini, tapi aku bersyukur siapa pun pejuang lembur malam ini tak punya kemampuan melihat iblis, atau kubikelku sudah disatroni beberapa paranormal.

Dude, tenang dulu,” aku masih muka tembok mengajukan negosiasi. “Kau tahu Cindy, bagian HRD? Cantik, lulusan Harvard, jago bermain piano, lekuk tubuhnya aduhai.” Aku mengedip, mengisyaratkan dimulainya percakapan antarlelaki. Sosok di hadapanku masih bertahan dengan ekspresi garangnya, walau dengusan napasnya tak lagi berpotensi membumihanguskan kantorku. “Bagaimana?”

“Mana yang lekuk tubuhnya lebih indah, wanita bernama Cindy itu atau Janetmu?”

O, ternyata iblis garang itu bisa tergoda juga. Kulihat kini ia menyeringai licik. Wajahnya lebih mirip rubah yang tengah berusaha mengelabui domba. Well, jika ya bertanya seperti itu, jelas Janet yang punya tubuh lebih molek. Tapi firasatku buruk soal ini. Makhluk di depanku lebih mirip buaya darat yang haus lekuk tubuh wanita ketimbang iblis yang ingin menghabisi manusia.

“Kau tahu gitar Spanyol? Seperti itu bentuk tubuh Cindy,” seruku.

Ia memukul meja kosong di dekatnya, kemudian mendengus marah. Api dari hidungnya benar-benar keluar dan berhenti sekitar lima sentimeter di depanku. Nyaris saja! Iblis itu cukup sensitif rupanya.

Aku menghenyakkan tubuh ke sandaran kursiku sambil memikirkan janji pada makhluk di hadapanku. Yang muncul malah angka tagihan telepon, janji makan malam dengan Janet besok lusa, dan tak ada secuil pun tentang janji yang iblis itu maksudkan.

“Apa kau mau menukar tagihanku ini dengan dirimu saja, Kawan? Kurasa aku tidak akan keberatan.”

Tunggu! Apa katanya? Aku?

“Kau tidak salah bicara, ‘kan?”

Iblis di hadapanku mengumbar tawa yang tidak enak didengar, well, setidaknya olehku. “Demons have no fault, Dear Human,” ucapnya setelah puas terbahak-bahak menertawakan pertanyaan yang menurutku sama sekali tidak mengandung unsur lelucon. “Akan kuulangi tawaranku untuk kedua kalinya, wahai Makhluk Hina. Kau mau menukar tagihannya dengan dirimu sendiri atau tidak?”

O, di saat-saat seperti ini, aku berharap malaikat Mikael mendadak turun dari surga dan menumpas iblis gila ini dalam sekejap mata, tidak peduli bagaimana caranya. Entah mau dihunus dengan pedang atau dipukul pantatnya dengan rotan bukan urusanku, yang penting ia musnah dari hadapanku.

“Kenapa lama sekali buatmu untuk berpikir?” tanyanya lagi. “Percayalah, kalau kau sudah mengiyakan, aku tidak akan menyusahkanmu lebih jauh lagi. Tapi kalau kau menolak, kau tahu sendiri apa yang bakal terjadi—“

“Ya.”

Sungguh, aku sendiri juga tidak percaya bahwa aku baru saja menyetujui tawaran iblis sialan di hadapanku. O, Tuhan, ke mana lagi hamba harus mencari perlindungan?

Rahangku mengeras, menanti respons semacam senyum culas dan kalimat-kalimat sombong penuh dengan kemenangan dari mulutnya. Yeah, kupikir ini adalah jalan terbaik. Momentum dimana aku—yang bahkan tidak pantas mendapat penghargaan sebagai Pacar Terbaik Tahun 2016 sebagaimana aku memberikannya pada Janet—harus membalas segala kebaikan gadisku selama ini. Tidakkah aku terlalu berengsek untuk bersanding dengannya?

O, sial. Gagasan barusan benar-benar membuatku terdengar sangat putus asa.

Baru saja aku hendak mengusir jauh-jauh pikiran melankolis tersebut, gelak membahana sarat akan cemoohan menggetarkan udara di sekitar. Atensiku kembali kuarahkan pada iblis itu; kini ia tampak mondar-mandir dengan kobaran api yang meledak-ledak karena tertawa.

Ada apa dengannya? Sepuas itukah ia mendengar aku bersedia menumbalkan diri?

Beberapa detik lewat tanpa suara usai ia puas menertawakan entah-apa-itu. “Kenapa diam saja, Manusia?” ia bertanya dengan nada main-main, tapi aku juga mendeteksi adanya keheranan dalam suaranya.

Uhm, well, kupikir tak ada yang harus kukatakan lagi, bukan?”

Iblis itu terkikik. “O, demi nachos renyah Texas!” Suaranya menggelegar. Tangannya terentang ke atas—tampak seolah ia habis memenangkan juara Olympic. Alisku meliuk heran. “Manusia Bodoh—naif dan penuh akan nafsu. Kau tidak berpikir bahwa aku—“ Ia membuat suara seperti ketika seseorang menahan kekeh susah payah. “—bahwa aku sesungguhnya menginginkan dirimu, bukan?”

Aku belum sempat mengolah kata dan iblis itu main serempet mendahului. “Malangnya kau, Manusia. Sayangnya, aku lebih menyukai yang berlekuk seperti gitar Spanyol; pasangan yang cocok untuk kuajak menari di lantai dansa. Dan …,” ia mendekat, vokalnya ia buat lebih rendah dari sebelumnya, “tentu saja aku akan sangat menyukai seseorang yang sempurna dan penyabar … barangkali seperti … Janetmu? O! Tidak, tidak. Kini ia telah menjadi Janetku seutuhnya!”

Mataku melebar segera, tungkaiku kuat menapak ketika aku berdiri dari kursi. Sementara iblis sialan itu terbahak-bahak seperti orang gila dan memamerkan tarian yang tidak akan pernah sudi untuk kutonton.

“Apa maksudmu? Bukan itu kesepakatannya!” aku menghardik.

Well, well …. Wanna hear something interesting?” Nyala api di sekitarnya membara lebih besar, bahkan suara gemeretak yang tadinya tidak kudengar kini memenuhi runguku. Mendorongku selangkah menjauhinya. Dwimaniknya bertambah pekat, membangkitkan sesuatu yang sudah kukunci rapat-rapat sepanjang beberapa menit terakhir; ketakutan. “Dear Human, once you make a deal with the devils, you must let them lead. And that’s—the deal.

Suara POP! terdengar bersamaan tawa yang kian menjauh kala makhluk itu menghilang dari pandangan.

Satu-satunya hal yang memenuhi kepalaku setelah itu adalah,

gadisku, Janet.

.

.

.

-fin.

Advertisements

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s