[Oneshot] New Neighbor

tumblr_mvwdi36sxm1rpouqmo1_500

.

A collaboration of aminocte, dhamalashobita, fikeey, Io, kkeutkaji, Lt. Von, shiana, and me— Angela Ranee.

***

Yang kudengar dari kicauan landlady-ku, sepertinya flat kosong samping kamarku akan diisi penghuni baru. Sejujurnya aku tak tahu harus bersyukur atau mengeluh, sih. Di satu sisi, aku jadi merasa lebih tenang. Menjadi satu-satunya makhluk hidup di lantai empat bukanlah gagasan yang menentramkan, asal kau tahu. Namun di sisi lain, dengan adanya penduduk baru jelas aku dituntut untuk lebih bertanggung jawab menjaga privasi mereka. Mengingat aku sering menyetel musik dengan volume speaker maksimal, sepertinya masalah satu ini akan menjadi kerja keras bagiku.

Huft. Siapa pun calon tetanggaku itu, kuharap ia bukan termasuk jenis-jenis yang menyebalkan. Tapi yang lebih penting dari syarat pertama barusan, semoga ia punya sepasang kaki yang menapak tanah.

Aku melihatnya menurunkan barang bawaan menggunakan mobil pick-up lusuh keesokan harinya saat pulang kerja. Awalnya aku hendak menawarkan bantuan, namun ketika kulihat sosok tingginya tengah mendorong boks terakhir melewati pintu, deret kata yang hendak kuucapkan melebur begitu saja. Selanjutnya terdengar debum agak anarkis lalu sunyi kembali mewarnai. Ah well, setidaknya ia berwujud dan bukan seseorang yang gemar menyapa ke sana-kemari hanya karena aturan tak tertulis penghuni baru. Hah. Aku agak canggung dalam hal menemui orang asing, jujur saja. Jangankan orang baru, landlady­-ku yang terdengar ramah saja baru benar-benar kuajak mengobrol setelah dua minggu aku tinggal di sini. Pathetic.

Tapi tentu kesan pertama bukanlah segala-galanya, iya ‘kan? Bayangkan ketika kau memutuskan untuk terjaga semalam suntuk mengerjakan tugas tambahan bosmu, lalu kau mendengar desis suara asing yang jelas-jelas bukan berasal dari ruanganmu? O, bagus. Bagus sekali.

Besoknya—lagi-lagi—saat aku tiba di gedung setelah pulang kerja, si tetangga baru sedang berdiri di tengah-tengah lorong. Entah apa yang dia lakukan di sana, namun sosok tingginya membuatku merasa terintimidasi. Hah. Baris sapa yang hendak kuutarakan hilang begitu saja kala kaki jenjangnya tiba-tiba bekerja dan mengantarkannya ke dekat pintu. Sebuah debum singkat dan akhirnya aku sendirian.

Menghela napas panjang, aku pun memutuskan untuk beranjak dari tempatku mematung, berjalan dengan langkah panjang-panjang menuju flatku. Diiringi derap stiletto yang menggema di lorong, kutepis rasa penasaran akan bagaimana rupa si tetangga baru dan mengingat-ingat apakah ada persediaan makanan di kulkas. Sungguh, aku tak sanggup jika harus memesan Chinese food untuk yang kesekian kalinya. Bukan karena apa, tapi ini mengacu pada kenyataan sudah seminggu lebih aku hidup dengan sup pangsit dan udang goreng karena pekerjaan menumpuk di kantor. Alhasil pulang larut pun tak terhindarkan dan aku terlalu lelah untuk memasak. Mual rasanya jika aku harus berhadapan lagi dengan salah satu makanan itu.

Begitu sampai di flat, aku segera melangkahkan kaki menuju dapur. Kelegaan luar biasa hinggap kala pandanganku mendarat pada sebungkus daging sapi dan sayuran beku di dalam lemari pendingin. Dari ujung mata, kulihat sebotol minyak sayur yang masih rapat tersegel. Steak for tonight’s dinner, then.

Kubuka saluran YouTube di ponsel dan sembari mendengarkan berita hari ini, aku mulai bekerja menyiapkan makan malam.

Dalam hitungan menit, indera penciumanku sudah disesaki oleh aroma daging sapi—yang mengeluarkan suara mirip desisan halus di atas teflon—dan saus barbeque. Selagi aku sibuk melakukan ini-itu, satu titik dalam otakku mengentakku hingga sebuah pemikiran datang serta-merta. Apa yang tengah kulakukan sekarang—bersibuk dengan alat masak; sesekali mengaduk saus, sesekali mengecek kematangan daging—membuatku merasa bahwa sudah lama sekali aku tidak melakukan rutinitas normal seperti ini. Dalam ingatan, kesempatan terakhir kali aku berlaku selayaknya gadis biasa seakan terpental sangat jauh di belakang.

Dan … ah, pada akhirnya benih pikiran ini akan menggiringku menyalahkan pekerjaan lagi.

Aku segera mematikan kompor ketika fokusku telah kutata kembali. Buru-buru, aku memindahkan daging beserta saus ke piring. Tungkaiku bergerak cepat ke sofa, tak sabar ingin mengisi perut yang seakan mengomeliku sedari tadi.

Aku baru menelan satu suap penuh ketika suara gedebug keras terdengar dari luar. Aku menoleh cepat ke arah pintu. Gerakan mengunyahku lantas terhenti.

Detik itu juga kurasa serebrumku terbelah jadi dua; sisi satunya menyarankan untuk melanjutkan laju sendok yang terhenti di udara, sedangkan sisanya meneriakkan sejumlah pertanyaan dan rayuan—yang sebenarnya sangat ingin kuabaikan. Apakah itu suara pencuri? Atau mungkin Spiderman? Jika mengintip dari celah pintu, sedikit saja, pasti tidak akan ketahuan, ‘kan?

Oh astaga. Betapa selama ini aku membenci adegan film horor dimana para pemeran protagonisnya bertingkah bodoh dengan mendekati sumber masalah karena menuruti dorongan altruisme mereka yang membuncah. Tapi sialnya, apa yang sedang kulakukan adalah sebaliknya. Untuk saat ini aku tidak yakin apakah aku lebih membenci sepasang kakiku yang sok tahu, atau sepiring steak yang memandang tanpa daya di atas sofa, bukannya memikat akal sehatku dengan aromanya.

Kenop pintu sudah berada dalam jangkauanku. Yang perlu kulakukan sekarang adalah merapatkan diri sedekat mungkin dengan celah daun pintu, memutar kenopnya dengan perlahan dan melebarkan celahnya dengan hati-hati. Lalu secepat kilat kembali menguncinya rapat. Well, setidaknya itu yang kurencanakan.

Tapi, o … oh—terlambat.

Apa pun itu yang ada di luar pintu, kurasa ia telah mendeteksi presensiku. Jantungku mencelos hingga ke dasar perut ketika ia mengetuk pintu dengan tempo sedang, diikuti suaranya yang memanggil namaku. Ya Tuhan, rasanya aku mau menyublim saja sekarang.

Ia masih setia mengetuk pintu, kali ini lebih pelan dan lambat. Frekuensinya menyebut namaku tidak sesering dua menit yang lalu, tapi tetap saja setiap kali ia memanggilku, aku merasa semakin tertekan. Aku seratus persen yakin, ia takkan menyerah begitu saja sebelum aku membukakan pintu dan menyambut kehadirannya yang sama sekali tidak aku harapkan. Memang bukan berarti ia bakal berdiri di sana sampai besok subuh, ya, setidaknya sampai satu jam ke depan, mungkin?

Srek.

Aku mendesiskan sumpah serapah tatkala mendengarnya. Suara itu, terdengar seperti suara garukan pelan pada permukaan pintu.

Goddammit, batinku setengah kesal setengah putus asa.

Kini aku tidak tahu lagi mana yang lebih tepat, membiarkan presensi siapa pun itu di luar pintu kamar atau memilih melihatnya. Well, sebenarnya bukan seperti aku berani menekan kembali kenop pintu untuk mengkonfrontasi kehadirannya. Tetapi membiarkannya mengetuk pintu lambat-lambat membuat jantungku semakin berdebar cepat.

Srek.

Garukan pelan di balik pintu terdengar lebih lemah dan lambat. Hampir mirip gerakan orang sekarat yang tengah meminta bantuan. Tunggu. Bagaimana jika dia memang tengah melemah di balik pintu.

Beberapa menit, pikirku. Setelah beberapa menit suara itu tidak terdengar, setidaknya aku harus memastikan apa yang ada di luar pintu kamar. Aku tidak akan bisa tidur nyenyak sebelum memastikannya. Membayangkan diriku tertidur dengan seseorang—atau sesuatu—di depan kamar cukup membuat bulu kudukku merinding.

Dan coba tebak, kurasa dia bisa membaca pikiranku. Suaranya berhenti. Ini sudah lebih dari lima menit. Aku menarik napas dalam-dalam, tanganku meraih kenop pintu dengan gerakan lambat. Oh ayolah, dia mungkin sudah pergi.

Bodohnya, mengapa aku harus memejamkan mataku ketika akhirnya tanganku membuat celah di antara daun pintu?

Grep.

Daun pintuku tertahan. Sialan.

Dalam hitungan detik, sebentuk jemari yang kurus dan pucat mencengkeram pintu flatku. Kakiku gemetar hebat, mengalahkan frekuensi getar ponselku saat berada dalam modus sunyi. Aku ingin berteriak meminta tolong, tetapi ketakutan rupanya lebih dahulu mencekik tenggorokanku.

Bersamaan dengan celah pintu yang terus melebar, aku mendengar desahan ganjil dari sebuah sosok yang menyerupai bayang-bayang. Sekujur tubuhnya berwarna hitam tanpa lekuk dan batas yang jelas, seakan ia adalah kain yang dijatuhkan begitu saja, tetapi mampu bergerak layaknya manusia. Wajahnya seputih cat pembatas jalan dan kedua matanya lebih mirip lubang hitam yang mampu mengisap jiwaku sekarang juga.

Sementara itu, bunyi derit pintu membuatku sadar bahwa jarak antara aku dengan sosok itu semakin menipis.

“Lapar,” ujarnya setengah berbisik.

“A-apa maksudmu?”

“Aku ingin makan daging.”

“Da-daging?”

Ia menggerung pelan. Telunjuknya teracung padaku, lalu pada dirinya sendiri. Kepalanya mengangguk-angguk dengan cepat.

Aku. Dia. Daging. Anggukan. Apakah maksudnya aku memiliki daging yang lezat? Apakah maksudnya dia ingin memakanku sekarang juga?

Tidak, jangan sekarang. Kumohon, jangan sekarang.

Apa yang harus kulakukan? Membiarkan makhluk ini melakukan keinginannya, meski dengan cara mengigit dan mencabik-cabik tubuhku sekalipun? Atau melawan kehendaknya dengan mengerahkan segenap kekuatanku yang tak seberapa?

Kurasakan keringat dingin membasahi punggungku, lalu dahiku. Rasa kebas merambat dari ujung-ujung jari kakiku, membuat telapak kakiku mulai mati rasa. Kedua tungkaiku tak sanggup lagi menopang tubuhku, yang bahkan belum mendapat asupan kalori yang cukup malam ini. Oh ya, salahkan keingintahuanku yang tak kenal waktu dan tempat itu.

Pandanganku mengabur. Di saat yang sama, tubuhku terasa seperti diguncang-guncang.

“Hei, jangan pingsan! Aku hanya mengerjaimu. Ini aku, Fred, tetangga barumu. Happy Halloween!

“Sekarang sudah November, Bodoh.”

Lalu semuanya gelap.

.

.

.

-fin.

Advertisements

One thought on “[Oneshot] New Neighbor

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s