Sabtu Bersama Bapak, Review and The Story Behind

146425329429707_300x430

***

Halo!

Minggu terakhir dari liburan panjang dan rasanya makin males masuk sekolah, hahaha… //ditabok Simply, I’m just too lazy to deal with the people at school. Rasanya ingin kabur ke Segitiga Bermuda terus bertapa di sana selamanya. Baru saja saya mengikuti tiga writing event di tiga blog yang berbeda dan sesaat kemudian saya langsung diserang writer’s block. Ahelah.

Jadi, daripada saya baper karena WB, mendingan saya pakai untuk melakukan kegiatan lain, yaitu menonton film. Frekuensi saya menonton film di bioskop itu terbilang sangat jarang, last time I went to theater was about a year ago, waktu itu saya menonton film “Jurassic World” dengan keluarga. Jangankan frekuensi menonton film, frekuensi keluar rumah saja bisa dihitung jari. Saya termasuk anak yang kuper dan pemalas, hahaha… I prefer to stay at home writing fiction or doing the other stuffs daripada keluyuran di luar. Pantas teman saya juga itu-itu saja.

Film yang saya tonton ini berjudul “Sabtu Bersama Bapak” yang diangkat dari novel karya Adhitya Mulya. Novel yang memiliki titel sama ini diterbitkan untuk pertama kalinya pada 1 Juni 2014 oleh Gagas Media dan menjadi salah satu novel bestseller. Saya meminjam novel ini dari teman kalau nggak salah November 2015 lalu dan sukses menangis alay seharian (bahkan semalaman), hahaha… Padahal waktu itu, besoknya saya harus pergi ikut kegiatan Bela Negara di Bandungan.

Mendengar bahwa “Sabtu Bersama Bapak” diangkat ke layar lebar, tentu saja membuat saya menjadi sangat berambisi untuk menonton di bioskop. Saya sebenarnya nggak terlalu sreg dengan film Indonesia, karena harus diakui dari berbagai macam aspek film karya anak bangsa kita sendiri masih banyak kekurangan. Tapi aspek yang paling menonjol (dan paling nyebelin) adalah tema dan jalan ceritanya. Rata-rata kalau nggak menjual humor yang itu-itu saja, ya kisah kasih di sekolah atau kisah kasih apalah yang ala chick-lit. Atau film horor, bonus paha dan dada. Sungguh menyegarkan, ya?

Film “Sabtu Bersama Bapak” sendiri tayang perdana di bioskop pada tanggal 5 Juli 2016 silam, H-1 hari raya Idul Fitri dan saya sudah mudik ke rumah Mbah di Bandungan. Saya dan teman saya (yang punya novel “Sabtu Bersama Bapak”) akhirnya memutuskan buat janjian nonton di hari Selasa, 12 Juli 2016 setelah briefing LDK panitia MOS di sekolah paginya. Which is very annoying karena molor satu jam, padahal briefing nggak ada setengah jam. Untung kami nggak perlu berlama-lama menunggu BRT (semacam bis trans kalau di Jakarta) dan BRT-nya pagi itu kosong tanpa penumpang, jadi nggak perlu berdiri dan bergoyang-goyang asoy ketika sopirnya ngerem mendadak atau ngepot dengan kelewat bernafsu.

Di Semarang, Cinema XXI itu hanya ada 3; di E-Plaza, Citraland, dan Paragon City Mall. Di E-Plaza kebetulan nggak tayang, sedangkan di Paragon City Mall mahal. Kalau nggak salah selisihnya bisa hampir Rp20.000,-. (atau memang segitu). Sebagai anak remaja yang sadar diri kalau kami belum punya penghasilan sendiri dan sebagai calon anak IPS yang menganut prinsip Ekonomi (ini cuma saya, soalnya teman saya kelas XI nanti masuk IPA), maka diputuskan bahwa kami akan nonton di Citraland.

Sesampainya di Citraland, kami sudah cengengesan senang karena masih sepi. Entah karena memang barusan buka (Citraland buka jam 10.00, kami sampai di sana sekitar jam 10.30) atau karena hari biasa (mana itu masih H+2 setelah lebaran). Eh, begitu naik ke lantai 3, kami langsung jaw-dropping dan mengumpat sampai berbusa.

Gila, antre sembako lebaran juga sepertinya nggak sampai se-lebay itu. Citraland itu bentuknya kayak melingkar (ya bukan melingkar juga, seperti persegi panjang tapi tengahnya bolong), dan antreannya itu mengular dari sudut ke sudut. Kita langsung putus asa duluan dan anxious. Mencoba antre selama beberapa menit dan antreannya sama sekali nggak bergerak bikin kita akhirnya menyerah. Di saat seperti ini, jiwa preman senggol-bacok kami mulai muncul. Tanpa rasa berdosa (dan rasa tahu malu), kami berdua ndusel-ndusel masuk ke dalam bioskop dan baris di antrean dalam.

Eh, lagi damai-damainya antre, didatangi satpam sembari bertanya,”Pakai Movie Card?”

“Nggak, Pak.”

“Keluar.”

Ngehe. Kita keluar dengan lemas. Terus kami benar-benar putus asa dan teman saya bilang,”Udah lah, kita jalan-jalan aja, percuma kita mau antre sampe kapan?” Oke, apalagi saya mulai lapar. Kalau lapar, hawanya saya kepingin marah sekaligus bego sendiri. Jadi kita masuk ke Food Fair (pujasera di Citraland) dan makan siang. Rp22.500,-. untuk semangkuk mie ayam Bandung dan sebotol teh, dengan pelayan mie ayam yang nggak ramah sama sekali, hahaha… Langsung nggak respek saya, untung mienya enak.

Setelah kenyang, saya masih penasaran sama antrean nontonnya, saya berpendapat,”Lihat dulu, siapa tahu udah berkurang.”

Eh, bener kata saya. Antreannya masih panjang, tapi udah berkurang. Dari dua lajur jadi cuma satu lajur, mana nggak diam di tempat alias gerak maju terus. Akhirnya kita memutuskan untuk tetap antre, walaupun mungkin dapatnya tiket yang jam 14.25 (tadinya kita mau nonton jam 12.15). Anxiety made me hard to breathe begitu kami mulai berada di antrean dalam bioskop, soalnya takut waktu bagian kami, eh ternyata tiketnya yang jam 14.25 juga sudah habis. Ngehe (2). Begitu dapat tiket dan bisa dapat kursi belakang, rasanya ingin mengumpat keras sambil menyanyikan “Lelaki Kardus”. Untung masih ada sedikit kewarasan jiwa yang tersisa dalam diri saya, sehingga hal tersebut nggak sampai terjadi betulan. Nggak sia-sia ngendon di dalam mall dari jam 10.30 demi tiket seharga Rp30.000-.

Waktu itu masih jam 13.00 kalau nggak salah. Males juga, sih kalau dipikir disuruh menunggu satu setengah jam dengan keadaan bioskop yang crowded. Sampai banyak yang duduk di lantai. Mengesampingkan harga diri, kami berdua memutuskan untuk ikut duduk di lantai daripada berdiri satu setengah jam.

Momen yang paling berkesan adalah ketika mas-mas penjual popcorn dan minuman (yang biasanya baru dijual waktu penonton sudah masuk ke dalam teater) itu mau keluar-masuk dari Teater 1 (saya nontonnya di Teater 4) sementara di luar crowded. Tak ambil pikir, mas yang gigih dan tangguh ini berteriak dengan logat medhok,”MISI MISI MISI AER PANAS AER PANAS MESEEEEE!!!” dan dengan ekspresi wajah lelah campur ingin mengajak tawuran. Ya namanya selera humor saya mendlesep, dengar begitu saja ketawa ngakak. Mana masnya lewat nggak cuma sekali-dua kali dan setiap kali lewat meneriakkan hal yang sama.

Oke, mending langsung bahas filmnya aja.

Film “Sabtu Bersama Bapak” sendiri digarap oleh Monty Tiwa, dengan Ody Mulya Hidayat sebagai produser, dan diproduksi oleh Max Pictures. Film yang berdurasi 111 menit ini dibintangi oleh aktor-aktris yang sudah punya nama di Tanah Air, seperti Abimana Aryasatya (Gunawan), Ira Wibowo (Itje), Arifin Putra (Satya), Deva Mahenra (Cakra), Acha Septriasa (Risa), dan Sheila Dara Aisha (Ayu).

Overall, film-nya bagus. Ya udah terlanjur biased sama novelnya, sih. Guyonannya lucu dan timing-nya tepat, pun nggak terlalu maksa atau menghina yang lebay begitu, deh. Rasa kekeluargaannya dapet, sedihnya nggak lebay mendayu-dayu, dan romance-nya nggak ala sinetron. Realistik gitu lah.

Ada beberapa bagian dari novel yang diubah dari film, sih… Misalnya, di novel ‘kan anaknya Satya-Risa itu ada tiga, lah di sini cuma dua. Terus, di novel ceritanya mereka tinggal di Denmark (atau Belgia, saya lupa), tapi di film jadi Perancis. Ah, sudahlah… Nanti jadi spoiler, hehehe…

Ada satu bagian dari novel yang menurut saya seharusnya dimasukkan ke dalam film karena lumayan penting, yaitu bagian ketika Salman menyatakan perasaan ke Ayu dan bilang kalau mereka bisa saling melengkapi kelemahan dan kelebihan masing-masing. Sementara Cakra sendiri berpendapat kalau sebuah pasangan itu keduanya harus sama-sama kuat, bukannya saling mengisi kelemahan (yang ini dimasukkan ke dalam adegan). Saya rasa kalau adegan waktu Salman bicara seperti itu nggak dimasukkan, jadi kesannya agak janggal ketika Ayu menerima Cakra jadi pacarnya. Karena nggak ada sesuatu yang bisa dijadikan alasan mengapa Ayu lebih memilih Cakra daripada Salman.

Sangat disayangkan karena film “Sabtu Bersama Bapak” tayang bersamaan dengan “ILY from 38000 Feet” dan “Koala Kumal” yang notabene jauh lebih digandrungi oleh masyarakat. Ini hanya pendapat pribadi yang bersifat subyektif, ya… Tapi sepertinya “ILY from 38000 Feet” nggak begitu worth it untuk ditonton. Tadinya, saya kira ini terinspirasi dari kisah mendiang pramugrari maskapai Air Asia QZ8501 yang jatuh di Pulau Belitung pada Desember 2014 silam, dan kebetulan saya nggak tertarik dengan film yang cuma menjual kesedihan serta membuat kita menghabiskan uang sekaligus air mata. Setelah saya baca sinopsisnya, ternyata ceritanya cuma tentang seorang gadis yang bertemu dengan cogan di pesawat kemudian jatuh cinta. LOL, lebih parah dari perkiraan awal saya malah. Agak kesal karena film ini membuat antrean di bioskop jadi panjang dan melelahkan. Ketika saya masuk ke Teater 4, kursi penonton ada lumayan banyak yang bolong-bolong. Mungkin kalau “Sabtu Bersama Bapak” ditayangkan nggak bersamaan dengan dua film yang telah saya sebutkan di atas bisa laris sekali.

Ehe. Sudahlah.

Menurut saya, film “Sabtu Bersama Bapak” ini recommended untuk ditonton karena temanya menarik, jalan cerita tidak membosankan, dari segi visual juga tidak buruk, dan yang cukup penting adalah soundtrack-nya bagus-bagus. By the way, this is my first time reviewing a movie jadi maaf kalau kesannya terlalu subyektif, toh saya nggak melarang kalau ada yang mau berbagi pendapat di kolom komentar.

Sekian review (sekaligus curhat) dari saya. See you in the next post ^^ 

Advertisements

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s