[Ficlet] Seven Minutes

tumblr_m8cof99XpO1qzvlpuo1_1280

.

.

.

You make me waste my precious seven minutes talking about random and useless stuffs.”

.

.

.

Diana nyaris tersedak salivanya sendiri tatkala sepasang maniknya tanpa sengaja bertemu pandang dengan sepasang lain yang familiar. Sial, sial, sial, kata itu berdentam dalam benak sementara sepasang kaki beralaskan sepatu hak tinggi membawanya berjalan cepat. Lorong demi lorong dalam toko buku yang cukup besar itu berhasil ia lewati, demi menghindari sang empunya sepasang manik kelam yang tampaknya turut berjalan cepat mengikutinya.

Apa boleh buat, lawannya memiliki sepasang kaki jenjang dengan tubuh menjulang setinggi 180cm. Di antara lorong buku psikologi Diana terjebak, lantaran sosok yang ia hindari sudah terlanjur berdiri kurang dari dua meter di depannya.

“Kamu kenapa kabur?” tanyanya to the point. Suaranya yang dalam namun ringan masih sama seperti setahun yang lalu. “Diana Irawan, benar?” Diana hanya menjawab dengan anggukan ogah-ogahan.

“Apa kabar?” tanya sosok itu lagi, memanfaatkan lorong psikologi yang kebetulan tengah sepi untuk memulai konversasi dengan gadis di hadapannya.

“Baik, Pak,” jawab Diana, berusaha terdengar stay cool.

“Jangan panggil ‘pak’, kan sudah bukan atasan kamu lagi,” pemuda itu terkekeh pelan. “Panggil Jeanno saja.”

Diana menggeleng. “Bagaimanapun Anda lebih tua tiga tahun daripada saya.”

“Ya sudah, panggil Mas Jean.”

Gadis itu mengernyitkan dahi. “Mas Jean?” ulangnya ragu-ragu.

“Iya,” sahutnya. “Apa kabar dengan pekerjaan dan kantor baru?”

“Baik, Pak— Eh, Mas Jean.”

“Sudah nggak ada atasan rese lagi?” Jeanno tersenyum usil, membuat Diana kelepasan mendengus.

“Puji Tuhan, nggak ada, Mas,” jawab Diana tanpa bisa menyembunyikan kekesalan dalam nada bicaranya. “Mas Jean sudah ada pegawai baru yang bisa dikerjai?”

“Hei, aku nggak ngerjain kamu waktu itu,” ucap Jeanno. “Tapi memang kamu lagi sial saja, waktu itu ada di bawah pimpinanku, bukan pimpinan Jordy yang bak malaikat.”

Diana memutar bola mata. Stephen Jeanno Kurniawan dan sikap perfeksionis serta mulut menyebalkannya, tiga alasan utama mengapa Diana hanya bisa bertahan selama kurang dari enam bulan di kantor tempat ia mendapat pekerjaan untuk pertama kalinya. Tadinya, ia sudah cukup ikhlas dengan anggapan,”Namanya juga hidup, ada senang, ada susahnya.” Tapi insiden bertemu kembali dengan Jeanno siang ini, ditambah dengan sikap usilnya yang belum juga lenyap, mau tak mau bikin Diana panas luar dalam.

“Di, aku sudah minta maaf, kan waktu itu?” Jeanno mengingatkan. “Lagipula kamu juga bilang sendiri, lho, senang bisa angkat kaki dari kantor, jadi nggak perlu bertemu aku lagi.”

Seven minutes,” ucap Diana, mengalihkan tatapan datar dari jam di tangan kanannya kepada Jeanno. “You make me waste my precious seven minutes talking about random and useless stuffs.”

Okay,” kata Jeanno. “Kalau begitu, biar aku buat kamu menyia-nyiakan kurang lebih dua jam lagi. Tapi di lain tempat.”

Pernyataan macam apa itu? “Lunch with me?” tawar Jeanno, menaikkan sebelah alis. Ih, dia pikir dia sudah paling ganteng kalau begitu? Eh, tapi memang ganteng, sih. Sayang, suka bikin capek urat, omel Diana dalam hati.

Can I trust you?” bukan salah Diana kalau dia punya trust issue dengan laki-laki itu. Di mata Diana, Jeanno tak ubahnya serigala berbulu domba.

“Bisa, kok,” Jeanno mengangguk yakin. “Aku yang bayar, kamu boleh request mau makan dimana.”

Diana menghela nafas. Mau menolak juga percuma, karena Jeanno bakal mengerahkan sejuta cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia mengangguk, kemudian berucap,”Karena Mas Jean yang ajak, Mas Jean juga yang pilih tempat.”

“Yakin nggak kamu saja?”

“Nggak.”

“Oke. But one day, kamu yang pilih tempat buat kencan resmi kita yang pertama, ya?”

.

.

.

-fin.
Advertisements

4 thoughts on “[Ficlet] Seven Minutes

  1. HAH GILAK W BAPER RAN DEMI NAON. ADUDUHHH, MAS JEAN JUNGKOOK .g
    Btw, tulisan kamu SENPAI banget ya, ampunn aku merasa jauh di bawah banget:”””) Bolehkah aku berguru pada tulisanmu ran, ato sama kamunya? Wkwkwk dua-duanya aja wess x))
    Serius aku suka tulisan kamu, ngalir enak dibaca…huhuhu ajari aku seperti ini…
    Salut sama kamu ran, udah tulisannya keren, produktif lagi:””)
    Semangat dan keep writing ya ran! ❤

    p.s: Aku bingung gimana dgn smgsquad:""3

    1. REFINA KENAPA MAS JEAN JUNGKOOK AKU MAU KETAWA DULU 😄
      Ya ampun jangan menyenpaikan aku ref akumah apa atuh cuma remah-remah rengginang di kaleng khong guan :” Aku juga masih belajar dari penulis-penulis lainnya termasuk dari kamu juga hehe…
      Ini kebetulan lagi produktif aja ref, kalo lagi writer’s block sumpah ga berfaedah banget berjam-jam mantengin layar komputer habis kerasukan valak.
      Aku juga bingung wkwkwk habis mau meet up susaaahh xD

  2. Ini jean siapa ran? Celana jean? /ga nad/
    Atuhlah mas jangan genit2, ga liat apa itu diana udah hampir ilfeel :’)
    Btw aku juga punya oc namanya diana wkwk tapi aku pair sama jimin 😄
    Keep writing lah ran pokoknyaaah 😉

    1. Hai, Kak Nadya! Sorry for the late reply karena baru pulang mudik, hehehe…
      Celana jean kenapa sih ku ketawa 😄 Btw itu dua-duanya OC, Kak! Wah kita samaan kalo gitu Diana-ku sama Diana-nya Kak Nadya dijodohin aja //ya ndak gitu ran
      Makasih Kak udah baca! Keep writing juga buat Kak Nadya ^^

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s