[Ficlet] Mantan Terindah

tumblr_m6d2caRAWJ1r3oy3eo1_1280

.

.

.

“Salah nggak, sih kalo gue kangen sama Agnes?”

.

.

.

[warning] informal language and curses here and there.

***

“Kucel banget,” komentar Bram tatkala Satria berjalan dengan langkah diseret-seret ke dalam kamar kos mereka. “Muka apa lap basah, Bang?”

“Berisik,” sahut Satria sembari melempar kunci mobilnya ke atas meja.

“Galak, ih,” namanya juga Bramantya, tidak akan berhenti menggoda Satria kalau belum ditendang. “Emang tadi skripsi lo ditolak sama dosen pembimbing lo, Sat?”

“Nggak, lah. Gue kan pinter,” tukas Satria, membuat Bram cuma memasang tampang datar, sebab apa yang Satria ucapkan memang benar. Pemuda itu pintar walau kalau bertingkah seolah urat malunya sudah putus.

“Terus?”

“Tadi abis ketemu dosen gue mampir ke Starbucks.”

“Gaya banget, biasa minum kopi warung nasi kucing aja.”

“Ini gue jadi cerita nggak, sih?”

“Iya, iya, ngambekan.”

“Bodo amat. Gue ketemu mantan gue di Starbucks.”

“Yang mana?” Bram tersenyum meledek. “Mantan lo ada banyak, kali.”

“Agnes,” jawab Satria dengan ekspresi ingin mencakar muka Bram.

Oh, yang itu!” Bram tergelak puas, mengaduh ketika pemuda yang lebih tua setahun darinya itu menendang tulang keringnya. “Pantesan pulang-pulang muka lo udah nggak berbentuk!”

“Ketawa terus, Ler. Ketawa…” dengus Satria. “Gue doain lo ketemu si Keke, ya.”

“Sial, jangan!” sahut Bram di sela-sela tawanya. “Bisa dikejar dari Kutub Utara sampe Kutub Selatan gue kalo ketemu dia.”

Kali ini Satria turut tergelak, mengingat mantan kekasih Bram yang kelewat sayang dengan laki-laki berambut arang itu. “Makanya, jangan ngetawain gue terus.”

“Ya, habis gue geli aja, dari sekian banyak mantan lo, kenapa harus banget ketemunya sama Agnes?” Bram masih nyengir bajing. “Terus gimana, tuh, Sat?”

“Dia yang ngelihat gue duluan, terus dia juga yang nyapa duluan. Kicep, deh gue,” Satria menyeruput es teh milik Bram.

“Tambah cantik pasti,” tebak Bram sambil meraih gitarnya, kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap kali Satria mulai curhat padanya. Kata Bram,”Biar berasa syuting film kita, ada background music-nya.”

“Iyalah,” Satria merebahkan tubuh jangkungnya di kasur Bram. “Mana udah lepas behel sama sekarang rambutnya diwarnain ombre gitu, aduh… Abang nggak kuat, Neng.”

Idih…” desis Bram. “Eh, tapi Agnes kan yang paling lama pacaran sama lo, ya, Bang?”

“Iya,” jawab Satria. “Setahun lebih itu gue jalan sama Agnes.”

“Ya, pantesan lo susah move on,” timpal Bram. “Lagian Agnes, mah berasa bidadari. Cantik, baik, pinter, kurang apa lagi coba?”

“Kurang jadi teman hidup gue, lah!”

“Setan, udah putus!” Bram menoyor kepala Satria. “Wake up and face the reality, Dude.”

“Nggak mau. Kenyataan menyakitkan, mau mati suri aja terus.”

“Bayi, cupu banget.”

“Bercanda, Mas Bram~”

“Sekali lagi manggil gue kayak gitu gue kunciin di luar, ya.”

Tck, udah kaya nyokap gue lu,” komentar Satria.

Keduanya tidak berkonversasi selama lebih dari satu menit, dimana hanya terdengar suara kipas angin dan lantunan melodi dari permainan gitar Bram—entah lagu apa yang pemuda itu mainkan.

Eh, Bram,” panggil Satria.

Hmm?”

“Salah nggak, sih kalo gue kangen sama Agnes?”

“Nggak,” jawab Bram singkat. “Yang salah kalo dia udah jadi istri orang terus lu ajak berzinah.”

“Mulut lo emang belum pernah dicium sandal, ya, Bram?”

Bram terkekeh sekali lagi. “Ya emang nggak salah, Sat. Rindu itu kayak kentut, makin ditahan makin menyakitkan.”

“Analogi lo nggak ada yang bagus dikit?” cibir Satria. “Ah, tapi bener, sih. Gue kangen berat, Ler.”

Chat lagi aja. Masih punya kontaknya, kan?”

“Malu, ih! Ternyata dia udah punya pacar, mati kutu, deh gue.”

“Emangnya lo punya malu?”

Satria memukul bagian belakang kepala Bram sembari mengumpat. “Omong-omong, udah punya pacar belum, ya?”

“Udah, lah. Satu-satunya orang tolol yang nyia-nyiain bidadari kayak dia, kan cuma lo,” celoteh Bram.

Satria menghela nafas, kemudian menatap langit-langit kamar mereka yang dihiasi sarang laba-laba, lantaran keduanya terlalu malas untuk bersih-bersih. “Dasar mantan terindah,” gumam Satria, yang disambut tawa milik Bram yang khas.

“Mana ada mantan terindah?” tanya Bram sarkastik. “Kalo terindah, ya harusnya jangan sampe jadi mantan, dong.”

Iya juga. Satria hanya menyahut dengan tawa miris. “Gue ajak balikan mau nggak, ya?”

“Kalo gue jadi Agnes, sih nggak mau. Lo brengsek,” Bram meletakkan gitarnya dan mengalihkan atensi pada laptopnya. “Tapi dicoba aja dulu. Hidup ini, kan kayak kuis coba-coba berhadiah.”

Well, Bram and his bad analogy on everything, dengus Satria. Sayangnya analogi Bram bener semua.

“Bram?”

Hmm?”

“Kita pacaran aja gimana?”

“Tai.”

.

.

.

-fin.
Advertisements

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s