[High School’s Freshman Journal] Come and Go

High School Journal_Freshman Year

.

.

.

“Sekedar curhatan ala anak kelas satu SMA.”

.

.

.

Tadinya ini mau saya jadiin satu di bagian “Society”, tapi kemudian saya pisah karena topik kali ini saya rasa nggak cuma mencakup pergaulan, even mostly I’m going to talk about it, though. Sebenernya ini lebih ke curhat as an introvert ketimbang curhat as an (ex)freshman.

Come and go. Datang dan pergi. Disadari atau tidak, dalam setahun terakhir telah banyak sekali hal yang datang dan pergi dalam hidup saya. Besar maupun kecil, baik maupun buruk, ada yang saya cuek-cuek aja mau datang mau pergi, ada yang bikin saya merasa nggak rela untuk melepas. Dan “hal” yang saya maksud di sini bukan cuma benda mati, tetapi people. And by people, I mean friends.

Tepat satu hari sebelum penerimaan laporan hasil belajar, I said this to my parents,”Kalo dipikir, setahun terakhir aku sama sekali nggak punya temen, kecuali temen bawaan dari SMP. But is it normal if I think it’s okay to have no friends?”

Saya nggak tahu kenapa kehilangan teman nggak memberi pengaruh yang terlalu besar dan dramatis dalam hidup saya. I was just like,”Ya udah, sih… Berarti emang nggak jodoh buat temenan,” and move on with my life. Apa mungkin karena efek terlalu banyak dari mereka yang datang dan pergi begitu saja, until I reach that level where I don’t care whether I have friends or not? Saya sendiri juga nggak tahu pasti.

Kehilangan teman rasanya tak ubahnya kehilangan karet sayur. Saya nggak tahu kenapa rasanya numb (maaf, saya nggak bisa jelasin “numb” dalam bahasa Indonesia) ketika melihat mereka yang kemarin habis haha-hehe bareng saya sekarang memandang saya pun tak sudi, mereka yang kemarin habis pulang bareng saya sekarang nyapa saja males, mereka yang kemarin habis berbagi cerita dengan saya sekarang malah saling ngomongin di belakang. Bener-bener feeling numb yang… Marah nggak, sedih nggak, dendam nggak, pengen nangis nggak, stres juga nggak. Diperlakukan seperti itu, entah kenapa nggak bikin saya merasa,”Sampah, lupa kalo dulu kebelet boker di sekolah juga merengek-rengek minta saya yang temenin ke WC?” Instead, yang saya pikirin cuma,”Aww, ya udah, good luck with the new page of your life without me.”

Sebenernya saya sadar diri, sih kalo personalitas saya itu suka bikin orang bingung. People tend to call me as a walking contradiction. Saya adalah orang yang vokal dan cenderung frontal serta apa adanya, because I don’t know how to sugarcoat things, seriously. To be honest, I like to be the center of attention, dalam artian saya suka menyuarakan pendapat saya di depan orang banyak. But at the same time, seeing a crowd of people also make me nervous and want to puke. At the same time, I hate hanging out and meeting new people.

Mungkin karakter saya yang seperti itulah yang bikin orang cenderung nggak betah temenan sama saya, hahaha… Karena, satu, orang Indonesia adalah orang paling banyak basa-basi-bacot yang pernah saya tahu. That’s why, they tend to dislike straightforward people like me. Dua, saya kurang mainstream. Terlalu unpredictable dan complicated dimana orang mungkin mikir,”Ini anak freak apa gimana, sih? Bangke, jadi males.” Well, Honey, siapa bilang semakin misterius orang semakin yang lain penasaran dan pingin kenalan sama dia? Justru semakin unpredictable karaktermu, makin kamu dihina-hina. Ini pendapat pribadi dari pengalaman pribadi pula, lho, ya 😀

Kembali ke soal “teman datang dan pergi”. Jujur, saya nggak paham kenapa ketika saya berusaha move on with my life dengan melepaskan mereka yang memang mau pergi dari kehidupan saya, saya malah dibilang egois/sombong/sok eksklusif/dll? Orang itu suka bikin kita kayak lagunya Raisa. Serba salah. Kita berusaha move on, dikatain,”Wah, lupa temen ya? Gitu-gitu dulu kan kalian juga sukanya ganti baju bareng kalo mau pelajaran olahraga!” Kita berusaha memperbaiki diri agar orang yang ninggalin kita balik lagi ke kita, dikatain,”Ngapain, sih try hard banget? Apa yang kamu perjuangkan? Lepasin aja, temen banyak.”

Gitu, deh. Society tells us to be ourselves, tapi di saat yang sama menghina kita kalau kita menjadi pribadi anti-mainstream. Kalo saya ngikutin kata orang, dibilang plin-plan. Saya berusaha jadi diri sendiri, dibilang freak. Maunya apa? Begini amat dunia.

Ehem.

Dalam hal relasi dengan orang lain, saya akui bahwa saya ini agak needy. Karena saya susah sekali menerima kehadiran orang baru dalam hidup saya, dan saya merasa setiap kali saya menganggap seseorang sebagai teman dekat saya, saya berhak mendapat perhatian dari mereka. Ya bagi saya, buat apa deket kalo saling cuek?

There was one time when I didn’t attend the school, karena hari itu dipake untuk remidi UKK dan saya nggak remidi sama sekali. Daripada saya ora ana gawean luntang-lantung di sekolah sampe jam satu siang, ya mending saya nggak masuk sekalian. Toh, udah nggak ada absensi dari pihak sekolah. Saya tahu hari itu saya absen karena kemauan saya sendiri, but one thing that hurts my feeling is… Ketika sehari itu sama sekali nggak ada temen yang tanya ke saya kenapa saya nggak masuk.

Needy banget nggak, sih? Hahaha… Seperti yang sudah saya tulis, yang saya pikirin adalah,”Lo temen deket gue, gue berhak, dong meminta perhatian dari lo sesedikit apapun itu.” Pada akhirnya ada satu temen cowok (kalo yang ini emang beneran temen, lho, hahaha…) yang tanya ke saya, dan di akhir chat saya ngomong,”Makasih udah tanya.” Introverts appreciate little things, hahaha…

Dan setelah kejadian itu, saya mulai berpikir,”Bener, nggak empat orang cewek itu temen deket saya?” As I said before, introverts appreciate little things. Hal-hal kecil seperti ajakan ke kantin bareng, ajakan pulang bareng, ajakan main bareng, dll itu sangat saya hargai walaupun mungkin pada akhirnya saya nolak karena satu dan lain alasan. And yeah, dalam hal sesederhana itu saja saya nggak pernah dapatkan dari mereka. Saya mencoba ramah dengan mengajak mereka duluan, tapi selalu nolak dengan some shitty reasons. Saya mulai mikir ke kejadian-kejadian yang sudah berlalu, sampai ke hal-hal kecil yang pada akhirnya membuat saya menyimpulkan,”Hell, kamu bahkan nggak pernah mendapat tempat di antara mereka, tapi kamu tetep bertahan dan tries to fit in.”

All those experiences lah yang membuat saya menjadi berpikir,”I have no friends in a year and it’s okay.” which is saya tahu sebenernya nggak sehat bagi psikis saya karena yang namanya manusia, kan harusnya makhluk sosial, ya. Harusnya saya merasa nggak baik-baik saja ketika saya nggak punya temen, tetapi kenapa saya merasakan yang sebaliknya? It’s not normal, it’s unhealthy, but what can I do?

Ah, sudahlah. Kenapa saya jadi kayak anak emo gini?

Intinya, saya cuma pengen ngomong ke siapapun yang baca tulisan saya untuk menghargai hal-hal kecil. Mungkin yang kita lakukan cuma minta ditemenin ke WC, pulang naik angkot bareng, ngajak jajan cimol boraks bareng, tapi kadang dari hal-hal kecil itulah seseorang merasa presensinya dihargai.

Saya harap cuma saya yang mengalami hal seperti ini.

Sekian, see you in the next post ^^

Advertisements

2 thoughts on “[High School’s Freshman Journal] Come and Go

  1. Raniii sebenernya aku udah bacain jurnal kamu, tapi belum sempat komen ((padahal kupengin banget ngoceh karena beberapa hal)) bcos aku aja bacanya kepotong-potong. Lewat baca jurnal kamu aku jadi sedikit-sedikit tau bagaimana sosok dibalik angelaranee ((kok ingin tertawa ya, terlalu formal sepertinya))

    Terus yang part ini ENTAH KENAPA YHA AKU JUGA SEDIKIT MERASA SEHATI. Bagian yang menuntut perhatian dari temen deket, tapi bedanya aku suka sering baper sedih sedih ngunu, merasa aku ada yang kurang nggak ya atau apa aku terlalu nyebelin atau mereka marah karena aku kebanyakan utang dan berakhir nggak memberi perhatian yang sangat q butuhkan :” terus yang bagian “begini amat dunia” aku setuju sekali x) kita hidup emang kayaknya serbasalah ya. Dan bagian penutupnya itu, bener-bener yang bikin aku mikir. Waktu SMP aku pernah punya temen seangkot/sebus gitu, dan karena shia adalah anak yang kuper, maka aku agak seneng ada dia yang notabene banyak temen di mana-mana. Dan di situ entah hal-hal kecil kayak minta pulsa dan bayarin angkot sesekali itu buat aku kayak dibutuhin dan somehow I like it very much, who doesn’t rite. Yha tapi sedihnya yha itu lha, temen apa temen HEHEHEHE. Temen di kala butuh. Tida papa, lantas apa gunanya kalimat, “I’ll always there by your side whenever you need me.”

    Kutunggu jurnalmu yang lain Ran!! ❤ ❤

    1. Wkwkwk ayo ayo silahkan ngoceh curhat sakpuase nganti kemropok XD Sosok dibalik angelaranee sebenarnya hanyalah seonggok gadis remaja labil yang emo, baperan, dan alay kok ngga istimewa banget LOL
      Aku kadang juga ngerasa “kalo gini needy banget ngga sih?” atau “kalo gini cuek banget ngga?” dan berujung menyanyikan lagunya Raisa lagi. Serba salah. Ya gimana lagi ya kita yang hidup, orang lain yang komentar. Begini amat dunia (2155234). Terus sayangnya temen di kala butuh itu akan selalu ada dan senantiasa menyertai hidup kita, jadi ya kudu sabar wae hehe…
      Makasih udah baca dan berbagi pengalaman yas, Shia juga semangat nulis! 😀

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s