[Ficlet] End of A Torture

maxresdefault

.

.

.

“Are you sure it’s okay?”

.

.

.

Jayceline tahu bahwa sejak kedatangan wanita bergaun merah menyala itu ke kediamannya sepuluh tahun silam, hidupnya takkan lagi sama. Terlebih sejak ayahnya terserang penyakit keras dan tak mampu melakukan apapun selain berbaring lemah di atas ranjang, Jay tahu apa saja yang akan dilakukan Lana—nama wanita itu.

Mulai dari mendepak Jay dari kamarnya, sehingga gadis itu pun harus tidur di gudang yang terletak di loteng selama satu dekade terakhir. Kemudian menjadikan Jay sebagai babu dua puluh empat jam per tujuh hari penuh, merampas semua pakaian dan perhiasan Jay untuk memperindah penampilan Lana sendiri, dan menampar wajah ayunya–baik menggunakan tangan maupun kata-kata–setiap kali ia melakukan sesuatu yang Lana anggap salah.

Jay hanyalah sesosok gadis kesepian yang terampas hak asasinya, hingga sesosok pria pirang berpakaian kelam datang entah dari mana di dalam kamarnya yang singup. Enggan memberikan terlampau banyak informasi tentang dirinya, pria itu hanya mau melontarkan sebaris kalimat perkenalan yang berbunyi,”Namaku Kai dan mulai sekarang kau tidak akan lagi merasa kesepian.”

Well, bagaimanapun Kai tidak ingkar janji. Ia selalu berada di sana, tak pernah sekalipun berniat atau mencoba untuk pergi. Ia tidak pernah mengulas senyum atau melambungkan suara tawa, namun ia selalu memastikan untuk menyapa Jay setiap gadis itu membuka mata di pagi hari dan menjelang tidur. Ia dingin; secara literal maupun kiasan, namun Jay menyukai ketika Kai diam-diam naik ke atas ranjang tipisnya dan merengkuh tubuh mungil Jay dalam pelukan tatkala menduga gadis itu sudah terlelap. Ia tidak pernah sekalipun keluar untuk menemui Lana atau mencari apapun yang bisa dimakan di dapur. Dan fakta terakhir tentang Kai, pria itu tidak punya refleksi.

Semua tentang Kai membuat Jay menyimpulkan, pemuda itu mungkin adalah hantu. Atau makhluk gaib apapun yang dingin, tidak kasat mata, dan tidak perlu makan maupun tidur. Siapapun dirinya, Jay tidak peduli. Kai mungkin memang bukan manusia, tapi ia dapat melakukan apapun untuk memanusiakan diri Jay, sesuatu yang sudah lama ia dambakan.

Ada satu hari dimana Jay kembali ke dalam kamarnya dengan raga babak belur. Lebam dimana-mana dan darah mengalir dari hidung serta bibirnya yang pecah. Kai tahu apa yang telah gadis itu dapatkan setelah lebih dari dua belas jam bekerja untuk Lana, iblis berkedok wanita paruh baya. Yang Kai tidak tahu adalah mengapa gadis itu tetap diam. Ia tidak menangis atau mengeluh. Ia hanya menarik sebuah buku tebal bersampul kulit dari dalam laci, kemudian membaca beberapa halaman dengan seksama.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Kai.

“Membaca Kitab Suci,” jawab Jay.

“Aku tahu, aku tidak buta,” sahut Kai lagi. “Inikah yang selalu kau lakukan setiap kali mendapat perlakuan buruk dari Lana?”

“Menurutmu bagaimana?”

“Kau pikir benda itu bisa menyelamatkanmu?”

Jay mendesah. Ia tidak suka berdebat, terlebih lagi soal keyakinan. “Kai, tolong…”

“Tidak, Jayceline,” pemuda itu menatapnya dalam, kemudian menunjuk salib yang terpaku pada dinding. “Lihat Dia, Jay. Apakah Dia menyelamatkanmu dari penderitaan?”

“Belum.”

Belum?” Kai mendengus remeh. “Lalu kapan? Sudah satu dekade, Sayang. Sepuluh tahun kau terbelenggu dalam siksaan Lana, sepuluh tahun kau menaruh harapan pada-Nya, tapi mana? Kau menggantungkan angan pada sesuatu yang tidak ada, Jayceline.”

Gadis itu menggeleng dan mengulas senyum tipis. “Aku tidak peduli apakah kau percaya atau tidak, Kai. Tapi aku percaya pada-Nya. Aku tidak peduli harus seberapa lama aku menunggu Dia menurunkan tangannya padaku, yang kutahu hanyalah aku tidak boleh berhenti berharap.”

Ya, setidaknya sampai beberapa hari kemudian dimana ulah Lana makin menjadi. Ketika Jay kembali ke dalam kamarnya dengan keadaan yang makin buruk, Kai tahu ia tak bisa selamanya diam. Jay gadis yang baik dan ia berhak mendapatkan sesuatu yang baik pula. Malam itu, kali pertama Kai melihat air mata turun membasahi pipi Jay yang terlampau tirus. Kali pertama pula Kai mendengar Jay berucap,”Apakah benar katamu kalau selama ini aku menggantungkan angan pada sesuatu yang tidak ada, Kai?”

“Tidak tahu, menurutku begitu,” gumam Kai. “Tapi kalau kau percaya, aku bisa apa?”

Pria itu mengulurkan tangan untuk menghapus air mata Jay, kemudian berkata,”Aku berada di posisi yang sama denganmu bertahun-tahun silam.”

“Aku menerima begitu banyak kekejaman manusia yang berperilaku bagai hewan buas dalam jangka waktu yang cukup lama, karena aku memiliki kepercayaan yang sama denganmu. Hingga akhirnya tiba suatu waktu dimana aku sadar, bahwa apa yang kupercaya selama ini tidak mampu menyelamatkanku.”

You deserve better, Dear,” ucap Kai.

Then show me,” jawab Jay. “Show me what I deserve.”

Jay pergi dengan Kai yang menggenggam tangannya, mengajaknya pergi ke suatu tempat yang tidak pernah ia kunjungi sebelumnya. Malam sudah terlampau gelap, langit tak dihiasi bintang bahkan rembulan. Jay berdiri di ujung sebuah tebing karang bersama Kai yang berkata,”Tempat yang sama dimana aku akhirnya lepas dari semua rasa sakit, Sayang.”

Gadis itu menatap Kai sekali lagi, seolah memohon kepastian. “Are you sure it’s okay?” ucapnya lirih.

Kai mengangguk dengan senyum, satu yang baru dilihat oleh Jay pertama kali setelah sekian lama mengenal Kai. “You deserve it.”

Dan dengan begitu, Jay membiarkan tubuhnya jatuh ke lautan yang dingin, melepaskan semua beban duniawi di pundaknya, melantunkan dua baris kalimat sebelum lepas dari raga dan bergabung dalam dunia dimana Kai berada.

“Kai benar, Kau tidak ada. Dan omong kosong-Mu tentang penyelamatan umat manusia tak ubahnya dongeng isapan jempol belaka.”

.

.

.

-fin.

Notes :

Jadi, aku nggak bermaksud menghina kepercayaan tertentu. Tetapi aku cuma berusaha mengkisahkan realita tentang penderitaan dari sudut pandang lain. Because however, people like Jay do exist. Mereka yang menderita dalam jangka waktu lama namun tetap percaya kepada Tuhan–or whatever it is–dan kemudian mengalami semacam perang batin itu ada.

Aku sendiri juga pernah mengalami saat-saat dimana I doubted my own religion, aku ragu apakah benar “penyelamatan terhadap umat manusia yang menderita” itu ada, dan aku tahu rasanya berada dalam dilema seperti itu.

Terus, cast-nya Kai (bukan Kim Jongin, yha.) karena terinspirasi dari teaser photo Monster where this guy looks like a demon LOL. Setelah kubaca ulang, kayanya gagal banget, sih aku nulis fiksi bertema dark gini ><

P.S. : Also inspired by the lyrics of Jeff Buckley’s “Eternal Life” and Nine Inch Nails’ “Terrible Lie”.

Advertisements

5 thoughts on “[Ficlet] End of A Torture

  1. Hai, Ran 🙂 /semoga kamu tidak bosen ngeliat aku muncul lagi, dek/
    Aw, kalo kemarin aku baca yg Jongin, sekarang aku baca versi Kai (ya, kerasa bgt perbedaannya antara jongin & kai, haha)
    Waduuh… Kai menstimulasi anak org buat bunuh diri, wkwkwkwk ((jgn ajak-ajak dongs bang))
    Oiya, kai itu… makhluk jenis apa? 😂 (yg jelas salah satu makhluk yg dpt mencuri napas ketika menatap matanya) /abaikan/
    Ran… ini kerasa banget gloomy-nya, trus itu aku suka nama Lana tpi kenapa sifatnya setara iblis heuu ;___;

    Bhay yaa, sebelum aku makin ngelantur 😁

    1. Hai juga, Kak Nau! Wkwkwk ngga lahh silahkan datang kapan saja, you’re welcomed here 😀
      Makhluk apa ya, wkwkwk… Mungkin bisa dibilang dia kaya hantu penasaran yang suka nyelakain orang kali ya? Sebenernya aku ngga mikir secara spesifik Kai itu makhluk macem apa waktu nulis ini, jadi sesuka imajinasi pembaca aja.
      Aku juga suka nama Lana, kesannya kaya nama cewek yang kalem-kalem gitu, tapi di sini dibikin macem iblis lah heheh…
      Makasih Kak udah mampir, baca, dan komen ^^

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s