A Love with Respect

a5977874e83ca000

Di kelas saya, ada dua pasang temen yang pacaran. Keduanya menjalani hubungan heteroseksual. Ya iyalah, kalo homoseksual bisa diamuk ormas yang mengaku suci tapi anarkis. Ehe. Yang satu pacaran sejak Agustus 2015, dan yang satunya lagi sejak Oktober 2015. Sampai sekarang masih jalan hubungannya.

Terus inti dari postingan kali ini apa?

Saya pengen mereka putus.

Eh, nggak, ding. Lha emang aku sapa, hehehe…

Kehadiran dua pasang lovebirds ini menjadi warna tersendiri dalam kelas kami, sekaligus seringkali membuat saya jadi memikirkan sesuatu. Soalnya selama ini saya nggak pernah mikir. Terlalu goblok. Yha.

“Lo ngapain, sih nulis beginian? Yang pacaran kan mereka, kenapa lo yang bacot?”

“Makanya cari pacar, jangan suka ngurusin orang, deh! Kurang kerjaan!”

Ya emang saya mendedikasikan hidup saya untuk ngurusin orang. Calon anak IPS, sih. Namanya aja Ilmu Sosial, berarti harus berurusan dengan apa yang terjadi di sekitar saya, dong! Iyain aja, biar saya seneng.

Sebenernya saya juga nggak peduli, wong mereka yang pacaran. Mau pacaran, mau menikah, mau ena-ena, mau jungkir-balik, mau naik turun lembah bersama Ninja Hattori… Bebas, selama nggak nyusahin saya. Cuma kebetulan kadang sikap-sikap mereka dalam pacaran itu got me deep in thoughts. Nggak deep banget juga, ding. Otak saya rada cetek soalnya.

Meski jadian di tanggal dan bulan yang berbeda, tapi sebenernya kalo dilihat-lihat ada persamaan yang mendasar dari keduanya. Persamaan yang nggak ada bagus-bagusnya sama sekali dan nggak bisa dibanggakan apalagi dijadikan teladan.

Both boys are abusive and both girls are too submissive.

Dari dua pasang lovebirds tersebut, kedua cowoknya sama-sama kasar dan abusif, baik secara verbal maupun non-verbal. Sedangkan kedua ceweknya sama-sama terlalu penurut.

Kebetulan sekali, hari ini pasangan yang jadian bulan Oktober—sebut saja cowok C dan cewek T—sedang dipisahkan oleh jarak karena C lagi liburan ke luar pulau. Sementara T tetap masuk sekolah karena hari ini ada kegiatan classmeeting. Pasangan yang jadian bulan Agustus—sebut saja cowok D dan cewek V—juga kebetulan lagi dipisahkan oleh jarak, sih. Cuma kalo yang ini kasusnya karena D bolos aja.

Classmeeting hari ini diisi dengan kegiatan lomba olahraga, yaitu mini football dan voli. Kebetulan T diminta ikut lomba voli karena kelas kita kekurangan orang. Kalo nggak bolos, ya masuk tapi nggak pakai baju olahraga. V nggak ikut soalnya dia pengurus MPK bareng saya. Pengurus OSIS/MPK dilarang keras ikut sama salah satu mbak OSIS kita yang Maha Agung dan Maha Benar, sekalipun kelas kekurangan personel. Biarin lah, biar dia senang.

Titik permasalahannya adalah ketika T bilang bahwa C marah-marah via chat. Jadi, C ini maunya T nemenin dia chatting terus, padahal T harus ikut lomba voli. Kekanakan sekali, ya? Yang bikin saya cringing so hard adalah ketika T menceritakan kata-kata seperti apa yang C lontarkan melalui chat.

“Lha kowe kok bangsat dikongkon melu lomba voli gelem?” (lha kamu kok bangsat disuruh ikut lomba voli mau?)

Saya sama temen saya dengernya sampe jaw-dropping karena— Wow, a boy said things like that to his BELOVED girlfriend? Saya nggak tahu harus ketawa sarkastis atau menangis iba.

Sebenarnya kekerasan verbal seperti ini seperti sudah menjadi ciri khas dari hubungan antara C dengan T maupun D dengan V. Saya juga pernah nggak sengaja lihat chat D ke V, si D nge-chat dengan kata-kata,”tai” serta “tak tampar kamu”.

Nggak cuma secara tertulis, kedua cowok ini nggak jarang melontarkan makian dan umpatan secara lisan kepada cewek mereka. Untuk kekerasan yang non-verbal, sih nggak terlalu menonjol… Paling cuma bercanda sampe dorong-dorongan yang menurut saya berlebihan, sih. Nggak tahu kalau menurut mereka seperti itu wajar.

Yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah mengapa kedua teman perempuan saya ini memilih untuk nggak mengambil tindakan atas sikap abusif pacar mereka. Saya pernah pura-pura tanya ke mereka di waktu dan kesempatan yang terpisah, dan jawaban mereka itu bikin miris. At least buat saya.

“Karena aku udah capek denger dia ngomong gitu terus. Jadi ya udahlah aku milih ngalah, aku diemin aja tiap kali dia ngomong begitu. Aku merasa dengan bersikap seperti ini aku sudah membuat keputusan yang lebih dewasa.”

Keputusan yang lebih dewasa.

Definisi “dewasa” bagi setiap orang memang berbeda-beda, ya. Definisi dewasa bagi saya dan teman saya jelas berbeda. Mungkin bagi mereka berdua, sikap diam mereka adalah tindakan paling dewasa yang telah mereka ambil. Tapi tidak bagi saya.

Mereka memilih diam untuk menghindari pertengkaran lebih lanjut. Both girls insist to maintain their relationship as long as they could. Itu kalau melihat dari perspektif mereka.

Kalau dari perspektif saya, sih… Nggak. Buat apa long last kalo dipenuhi dengan pertengkaran bodoh dan tindakan-tindakan yang bisa dikatakan nggak sehat? Kalau mau melihat dari kacamata saya sebagai seorang perempuan feminis, saya jelas menentang tindakan kekerasan verbal seperti yang dilakukan oleh teman saya.

Jawabannya jelas. Tindakan seperti itu adalah salah satu bentuk diskriminasi terhadap kaum perempuan. Aftermath dari tindakan tersebut nggak bisa disepelekan. Mungkin nggak akan langsung terlihat sesaat setelah terjadi, tapi lambat laun akan menimbulkan efek yang mengerikan.

Kebiasaan diperlakukan secara abusif secara nggak langsung akan membuat seseorang menjadi merasa terintimidasi dan nggak lagi memiliki nyali untuk menyampaikan pendapat mereka. Mereka akan merasa nggak punya tempat untuk menjadi diri mereka sendiri. Yang lebih memprihatinkannya, mungkin sampai mereka dewasa dan menikah nanti, mereka akan tetap merasa “nyaman” dengan perlakuan abusif dari suaminya. Nggak hanya berefek pada pihak wanita, tapi juga kepada pihak pria. Pihak pria yang didiamkan saat melakukan tindakan abusif akan merasa bahwa tindakan yang mereka lakukan itu benar. Mereka akan merasa superior dan punya kendali penuh atas wanita ketika mereka sudah melakukan tindakan abusif.

Semuanya hanya akan membentuk sebuah lingkaran setan. Bila diteruskan sampai menikah dan punya anak, anak mereka akan melihat bagaimana ibunya diperlakukan oleh sang ayah. Anak perempuan dari keluarga itu akan belajar menjadi seorang wanita pasif yang merasa nyaman diperlakukan kasar, sedangkan anak laki-lakinya akan belajar menjadi seorang pria kasar yang merasa hebat ketika bisa memperlakukan wanita dengan abusif. And the cycle will always go like that.

Sungguh sedih ketika seorang pria melakukan kekerasan terhadap kekasihnya dengan alasan,”Saya cuma ingin melindungi kamu.”, sedangkan si wanita terima-terima saja dengan alasan,”Saya bertahan karena saya cinta kamu.” Yang saya pertanyakan apakah mencintai seseorang membuat saya (sebagai wanita) harus menjadikan diri saya like a slave, seperti budak? Kalau iya, saya nggak mau punya hubungan asmara sampai mati. Mana sudi saya diperlakukan macam binatang?

Saya nggak paham mengapa seorang wanita harus menurunkan self-respect kepada dirinya sendiri demi cinta? Rela dicaci, dimaki, bahkan dianiaya atas nama cinta? Yang bikin saya makin nggak paham adalah ketika para wanita tersebut memilih bertahan dengan alasan,”Saya yakin saya bisa membuat dia berubah.

Pernah suatu kali Bapak saya bilang,”Ketika kamu berhubungan dengan seorang cowok, jangan pernah kamu menaruh harapan terlalu tinggi bahwa kamu bisa mengubah segala sifat buruk dan kekurangan dia. Karakter bukanlah sesuatu yang mudah diubah, semudah membalik telapak tangan. Seseorang saja belum tentu bisa mengubah sifat buruknya sendiri, apalagi orang lain. Jangan mudah terlena ketika seorang cowok bermanis-manis di masa pendekatan dengan kamu, dan jangan mudah mengiyakan ketika seorang cowok menggunakan alasan,’Aku memang begini, tapi aku nggak akan lakukan ketika ada kamu.’. Semuanya hanya omong kosong, dan kamu nggak akan mendapatkan apa-apa darinya kecuali sebuah luka.

Begitu pula sebuah kutipan yang saya ambil dari novel “Sabtu Bersama Bapak” karya Adhitya Mulya : “Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.”

Sekarang, misalnya saya punya cowok abusif, sementara saya sendiri orangnya pasif. Saya selalu berusaha menutupi kelemahan cowok saya dengan mendiamkan dirinya ketika mulai ngedan, begitu terus sampai kita menikah, punya anak, dan mati. To say I got a real happiness was a lie. Seseorang yang merasa nyaman dalam hubungan seperti itu mungkin hanya merasakan sebuah kenyamanan dan kebahagiaan semu, tanpa menyadari bahwa jauh di dalam lubuk hatinya telah tergores luka.

Inti dari tulisan saya kali ini adalah, jangan pernah menurunkan self-respect kamu hanya demi cinta. Jangan mudah kemakan omongan “saya begini demi melindungi kamu”. Bullshit, Sayang. Kalau dia cinta sama kamu, dia nggak bakal memperlakukan kamu macam binatang.

Selain itu, jangan mudah menaruh harapan tinggi dan berpikir kehadiran kamu bisa merubah sikap orang. Nggak menutup kemungkinan, bahwa sebagian orang berhasil. Tapi kalau dalam prosesnya terlalu menyiksamu, lebih baik jangan diteruskan. Bukannya kamu nggak boleh berguna bagi orang lain. Tetapi menjadi berguna nggak perlu sampai melukai diri sendiri dengan cara-cara konyol.

Dan yang nggak kalah penting adalah… Jangan pernah menyakiti orang lain dengan mengatasnamakan cinta. Sama seperti yang telah saya tulis di atas, kalau kamu cinta setulus hati, kamu nggak akan tega menyakiti dia.

Semua berawal dari respek. When you respect someone, you will love them as time passed by. And when you self-respecting yourself, people will also respect you even more.

Sekian dari saya, see you in the next post ^^

.

.

.

-fin.
Advertisements

2 thoughts on “A Love with Respect

  1. Makanya selain pakai hati, cinta juga harus pakai otak ya. Nggak ngerti sih sama pikiran cewek-cewek yang mau aja dikasarin sama cowoknya. Kalau aku digituin kayaknya mending diputusin aja sih pacarnya. Nggak guna, malah bawa dampak negatif.

    1. Hai, Kak Dinda!
      Yups setuju sekali sama Kak Dinda, antara perasaan (hati) dan logika (otak) itu memang harus digunakan secara seimbang dalam segala aspek.
      Makasih Kak udah baca dan berbagi pikiran ^^

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s