[Ficlet] The Reason Why

tumblr_static_audi-driver

.

.

.

“Girl, just take my hand,

and let me be a man,

though it’s not what you used to.”

.

.

.

Recommended song : Trevor Wesley – Chivalry is Dead

***

Aku tidak ingat bagaimana ceritanya aku bisa mengiyakan tawaran Elang Kencana untuk pulang bersama sepuluh menit lalu. Elang Kencana. Tampan, tinggi, ramah, dan humoris. Pegawai favorit sejuta umat sekaligus pegawai yang paling banyak gosipnya. Baru dua bulan aku bekerja di sini, namun aku sudah terlalu sering mendengar desas-desus bahwa Elang adalah seorang womanizer. Salah satu caranya untuk menggaet wanita adalah bersikap ramah, seperti menawarkan bantuan untuk membawakan barang atau menawarkan tumpangan pulang ketika harus lembur sampai malam di kantor.

Aku tahu seharusnya aku tidak percaya dengan gosip yang tidak jelas juntrungannya seperti itu, terlebih lagi menyadari bahwa posisiku di sini masihlah tergolong anak baru. Tetapi di sisi lain, aku tetap harus berusaha menjaga diri. Sekarang ini, orang jahat tidak harus berwajah sangar dan bersembunyi di sudut gang yang sempit serta gelap. Banyak orang jahat bertopeng seulas senyum manis, aku tidak bisa memungkiri fakta ini.

“Lang, tapi rumahku lumayan jauh, lho,” ucapku sesaat setelah Elang menyalakan mesin mobilnya. “Lagian aku naik angkot saja bisa, kok.”

“Yakin?” tanya Elang sembari menaikkan satu alis. “Kamu sudah pernah naik angkot sendirian di atas jam tujuh malam?”

Belum. Aku menggeleng dalam diam. Sial, bila saja mobilku tidak sedang menginap di bengkel, maka aku tidak perlu terjebak dalam situasi seperti ini.

“Yakin mau turun dan nyegat angkot?” tanya Elang lagi. “Aku nggak memaksa kamu pulang bareng aku, kok.”

“N-nggak, deh,” jawabku. “Terimakasih, tapi maaf, ya kalau jadi merepotkan.”

Pria itu cuma tertawa pelan. Hening menyelimuti kami selama beberapa menit, dimana Elang mengemudikan sedan hitamnya dalam diam sementara aku menatap lurus ke jalanan dengan kepala yang terasa kopong, entah kenapa aku bingung mau memikirkan apa.

Mind if I turn on the radio?” tanya Elang lagi.

“Nggak,” jawabku singkat, dibarengi dengan gerakan tangan kiri Elang yang terjulur untuk menyalakan radio. Selang beberapa detik, lagu bertitel “Chivalry is Dead” yang disenandungkan dengan suara merdu milik Trevor Wesley memenuhi seisi mobil.

“Kamu mungkin merasa nggak nyaman waktu aku ngajak pulang bareng,” ujar Elang. “Kamu pasti nganggap aku modus, ya?”

Aku tidak menjawab, walaupun tebakan Elang benar adanya.

“Alasanku sederhana,” ujarnya lagi sembari menyugar rambutnya menggunakan jemari tangan. “There are many bad people outside. Kita nggak bisa memungkiri kalau kasus kejahatan terhadap perempuan bisa terjadi dimana saja, kapan saja, kepada siapa saja, dan dalam bentuk apa saja. Aku cuma berusaha menghindarkan kamu dan temen-temen cewek kita yang lain dari hal-hal seperti itu.”

Aku tidak sadar sejak kapan aku menatap Elang dengan mulut terbuka. Sebuah alasan yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Betapa jahatnya aku malah menganggap Elang genit dan nyaris termakan gosip-gosip basi itu.

“Maaf, ya,” ucapku malu-malu. “Aku sudah berprasangka buruk sama kamu. Tapi, kenapa kamu nggak pernah menceritakan alasanmu sama yang lain?”

“Karena seorang pria yang mencoba respek terhadap wanita keberadaannya dianggap nggak nyata, they would say it was bullshit anyway.”

Aku manggut-manggut saja mendengar jawabannya, lantas tersenyum dan berkata,”Thanks, Lang.”

“Buat?”

For respecting me.”

.

.

.

-fin.

Notes :

Yha ini nggak jelas banget sih sebenernya.

Aku cuma pingin curhat tentang “kenapa cowok yang mencoba respek selalu dianggap modus” lewat cerita di atas. Padahal kalo kita mau mencoba cermat, keliatan jelas banget perbedaan antara cowok yang nawarin bantuan cuma buat modus sama cowok yang murni pengen nolong.

Terus, aku butuh stok cowok semacam Elang dalam hidupku LOL 😀

Hope you enjoy ^^

P.S. : But for real, you should listen to Trevor Wesley’s “Chivalry is Dead”! Liriknya bikin baper >.<

 

Advertisements

3 thoughts on “[Ficlet] The Reason Why

  1. Halo, Rani? Aku Sher 98L, salam kenal 🙂 Udah sering liat nama kamu tapi baru kesampaian buat baca tulisanmu.

    Hmm, ini apa ya, mungkin bisa dijadikan reminder sama cewek yang gak percaya ada cowok baik atau cewek yang terlalu kegeeran kalo dibaikin hahaha. Aku gak tau sih kalo yang lain, tapi… selama ini cowok-cowok yang nawarin nganter aku ke rumah niatnya baik aja. Terus kalo emang cara modus pdkt dengan baik, why not? Selama tujuannya baik—buatku sih hehe.

    Aku sudahkan saja rambling-nya, soalnya aku ngetik makin gak jelas LOL. It’s a nice peace! And keep making something! 🙂

    1. Ya Gusti aku kaget lihat nama Kak Sher di notif bikos aku juga sering lihat nama Kak Sher and you look like a senpai to me, jadi kadang aku mau ngajak kenalan merasa insecure, ya ampun maafkan akuuu >< Salam kenal juga, Kak. Rani dari garis '00 nih 🙂
      Yup! Aku sendiri sebagai "cewek yang sering dapet tawaran pulang bareng sama temen cowok" kadang suka risih dengan komentar "Tiati si X modusin kamu loh" karena di mataku, cowok modus dan cowok yang pure baik itu kelihatan beda sekali. Toh, menurutku "offering free ride" itu adalah cara terbaik buat pdkt ke cewek, haha…
      Nggak apa Kak justru kalo dateng ke sini harus rambling sebanyak mungkin 😄 Thanks udah datang dan baca, Kak! I'm going to visit you back ^^

      1. Pertama, aku bukan senpai kok 😉 dua, kalo sama aku mah santai-santai aja, asal gak aneh-aneh LOL.

        Yes, betul sekali, people shouldn’t take conclusion too early, apalagi yang seringnya cuman “kayaknya” atau perasaan.

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s