Pemerkosaan dalam Perspektif Remaja Perempuan

a4bcf0c426d98000

***

Sebenernya saya mau nulis ini waktu lagi marak-maraknya kasus pemerkosaan Yuyun, tapi waktu itu bingung mau memulai darimana dan akhirnya lupa. Ide untuk menulis topik serupa kembali muncul sekitar dua hari yang lalu.

Ketika itu, saya lagi iseng buka Ask.fm terus lihat ada seseorang (kebetulan seorang pria) ditanyain anon “Kalau ada kasus pemerkosaan (pria sebagai pelaku dan wanita sebagai korban), yang salah siapa?” Si pemilik akun jawab yang salah cowoknya alias si pelaku, dia bilang intinya,”Siapa suruh situ nafsu?” Kemudian biasalah namanya adik-adik anon di Ask.fm, tuh kan suka nggak nyantai terus menyerbu akun tersebut dengan berbagai macam pertanyaan, intinya ngajak debat. Tapi bahasanya kayak orang ngajak tawuran. Edyan.

Beberapa pendapat dari anon tersebut, antara lain (bahasanya nggak sama persis, cuma saya ambil intinya saja) :

  • Yang salah dua-duanya, dong. Sekarang kalau cewek nggak mau diperkosa, ya dia pakai bajunya yang sopan dan nggak “mengundang”. Cowoknya juga sama aja, kenapa dia nggak bisa mengontrol diri?
  • Coba, deh. Mana ada kasus pemerkosaan dengan korban cewek-cewek yang memakai pakaian tertutup (hijab/gamis/cadar/dll)? Jadi secara nggak langsung pakaian juga menjadi salah satu faktor.
  • Ibaratnya kayak ada dua permen, yang satu masih terbungkus rapat, sedangkan yang satu bungkusnya udah dibuka. Otomatis permen yang udah nggak dibungkus akan lebih cepat dirubung semut atau lalat. 

Mungkin sampai di sini, saya terkesan kayak,”Ngapain, sih orang yang ditanyain orang lain, kok kamu yang ribut sampai nulis beginian?” Iya. Kelihatannya saya kayak ikut campur banget, tapi maksud saya bukan seperti itu. Bagaimanapun, kasus pemerkosaan di Indonesia ini makin lama makin memprihatinkan, belum lagi ditambah dengan beberapa pola pikir masyarakat yang… How to describe it? Mau dibilang nggak logis, ya memang sedikit-banyak seperti itu.

Saya menulis ini bukan untuk serta-merta nyalahin pendapat anon-anon tadi, juga bukan mau sok-sok pinter. Saya hanya ingin menyampaikan opini saya melalui kacamata seorang remaja perempuan dari kelas middle/lower. Terkadang, perspektif para remaja perempuan seringkali diabaikan karena dianggap masih belum dewasa, padahal remaja perempuan ini rentan sekali diperkosa atau dilecehkan secara seksual.

***

Sekarang, mari kita bahas opini di atas satu-persatu!

“Yang salah dua-duanya, dong. Sekarang kalau cewek nggak mau diperkosa, ya dia pakai bajunya yang sopan dan nggak “mengundang”. Cowoknya juga sama aja, kenapa dia nggak bisa mengontrol diri?”

Anon pertama berpendapat bahwa kedua belah pihak bersalah, karena pelaku nggak bisa mengontrol hawa nafsu, sedangkan korban membuka kesempatan lebar-lebar dengan mengenakan pakaian terbuka. Pemilik akun yang mendapat pertanyaan ini menjawab bahwa urusan berpakaian itu hak masing-masing pribadi dan saya setuju banget dengan jawabannya.

No one should judge you and what you wear. Saya nggak jarang mendengar orang dengan mudahnya melontarkan kata “murahan” ketika melihat seorang perempuan memakai pakaian yang terbuka, even if it’s just a hot pants or tank top.

Saya sendiri termasuk suka pakai celana pendek dan kaos tanpa lengan, simply because Semarang dan sekitarnya panas. Pernah suatu kali saya pakai celana pendek (sekitar 10-15 cm di atas lutut) ketika menjenguk Mbah Kakung di sebuah rumah sakit umum di Ambarawa. Even Ambarawa dan Bandungan aja sekarang panas banget, sekedar informasi, hehehe… Saat itu saya bertemu dengan salah satu saudara jauh, namanya siapa saya lupa. Tante ini punya anak perempuan seumuran saya yang kebetulan berhijab, terus dia bertanya kepada saya.

Kok nggak pakai hijab, Mbak?”

“Saya non-Muslim, Tante.”

Oh, lha kamu nggak dingin pakai celana pendek?”

“Nggak, soalnya sudah terbiasa, hehehe…”

Terus saya ditatap dengan tatapan nista, saya juga nggak tahu kenapa. Kemudian Tante ini kayak senyum mengejek dan bergumam,”Ih, kalo anak saya yang kayak gitu udah saya pukul, masa ngobral paha di depan umum?”

Sebelumnya tolong jangan bahas soal agama saya maupun Tante itu, soalnya di sini poinnya bukan di soal agama dan adat berpakaiannya. Lagian saya males bahas soal agama.

Sebenarnya di situ saya merasa sedih. Ehe. Satu, karena secara nggak langsung saya dicap “murah“. Dua, karena celana yang saya pakai sama sekali nggak mengekspos paha saya. Ingin berkata kasar.

Saya nggak melarang Tante ini untuk berpendapat bahwa perempuan itu hendaknya berpakaian tertutup, kalaupun tidak berhijab setidaknya memakai celana panjang atau baju yang nggak kelewat terbuka. Yang bikin saya gusar adalah ketika dia dengan mudahnya mengecap seseorang murahan hanya karena sepotong celana pendek 10 cm di atas lutut.

Bagi saya, memakai pakaian apapun selama itu pada tempatnya nggak masalah. Mau pakai bikini? Silahkan, as long as you’re in a beach or swimming pool, bukannya pakai bikini terus naik motor keliling kampung. Mau pakai celana pendek? Silahkan, selama kamu nggak memakainya di tempat ibadah, sekolah, atau tempat kerja. Kecuali kalau celana olahraga kamu di sekolah memang kebetulan celana pendek.

Saya nggak pernah mengecap siapapun murahan hanya karena dia memakai bikini, pamer perut, pamer paha, pamer payudara, dll. Begitupun saya sendiri juga nggak pernah merasa saya “jual diri” hanya karena saya pakai celana pendek atau kaos tanpa lengan. Seorang perempuan berhak merasa bangga atas keadaan fisiknya sendiriTubuh kita adalah mahakarya yang berhak mendapatkan apresiasi. I don’t mind when someone says I’m sexy/attractive/have a nice curves, selama pujian-pujian itu nggak diikuti dengan tatapan mata maupun kata-kata berkonotasi mesum lainnya.

You can say,”Ih, dasar anak muda zaman sekarang nggak tahu adat!” upon reading my opinion. But, hey! As I said before, everyone has their own rights to wear whatever they want, as long as it’s worn at the proper place. Sedih rasanya ketika melihat artis atau manusia-manusia hits yang memposting fotonya berbikini ria di pantai atau kolam renang, kemudian ada yang berkomentar negatif. Terus kamu berharap mereka pakai sarung dan gaun kuntilanak di pantai gitu? Ingin berkata kasar (2).

***

Lanjut ke opini kedua!

“Coba, deh. Mana ada kasus pemerkosaan dengan korban cewek-cewek yang memakai pakaian tertutup (hijab/gamis/cadar/dll)? Jadi secara nggak langsung pakaian juga menjadi salah satu faktor.”

Ada. Percaya atau nggak, kasus pemerkosaan dengan korbannya adalah wanita berpakaian tertutup itu ada dan jumlahnya nggak sedikit.

Ibu saya adalah seorang bidan. Beberapa bulan yang lalu, beliau mendapat pasien seorang gadis remaja asal Rembang yang hamil karena diperkosa tukang ojek di sana. Lantaran depresi, gadis itu nggak mau makan dan minum obat, sehingga gadis itu diantar orangtuanya untuk tinggal bersama bibinya di Semarang, sebab gadis ini katanya penurut sekali kalau sama bibinya.

Gadis yang hamil itu adalah seorang murid pesantren. Ayahnya adalah seorang tokoh agama yang mempunyai nama dan pengaruh di daerah tempat tinggalnya. Dengan latar belakang seperti itu, kita sudah bisa menebak pakaiannya seperti apa. Tapi ia tetap diperkosa, bahkan sampai mengandung bayi yang sama sekali nggak ia inginkan.

Jujur, saya sedih banget dengernya. Saya nggak bisa bayangkan bagaimana kalau saya berada di posisinya, dimana saya masih muda dan memiliki sejuta angan, tapi dihancurkan begitu saja oleh kemaluan lancang milik seorang pria. Excuse my words, but I can’t write it without feeling upset. Belum lagi soal reputasi. Bagaimana dengan reputasi dia dan orangtuanya? Semua orang memang tahu ia mengandung karena diperkosa, tapi kita kan nggak bisa mengontrol gunjingan-gunjingan orang.

Masih nggak percaya? Saya sendiri pernah menjadi korban pelecehan seksual bulan Maret silam.

Ketika itu kebetulan saya pulang sekolah agak sore karena ada rapat pengurus OSIS/MPK di sekolah. Saya pulang sekolah naik angkot, tapi karena rumah saya masuk gang jadi biasanya turun di apotek dekat gang kemudian jalan ke rumah saya.

Ketika itu sekitar jam 15.30, saya berjalan sendirian menuju rumah saya yang kebetulan berada di tikungan gang. Kebetulan keadaan memang sepi karena sore itu mendung, biasanya ramai tetangga saya pada nggosip di depan rumah masing-masing atau anak-anak kecil pada main. Saya memakai seragam OSIS dengan rok abu-abu sekitar 10cm di bawah lutut dan sweater hitam saat itu.

Dari arah berlawanan, ada seorang mas-mas naik motor sendirian, tapi saya jelas nggak ada kecurigaan apa-apa sama mas-mas itu. Saya masih nggak ngeh ketika motornya makin mepet dengan saya, saya mikirnya karena lewat tikungan jadi motornya agak mepet pinggir jalan. Tiba-tiba mas-mas tersebut menjulurkan tangan dan meremas payudara saya. Saya yang kaget dan marah cuma bisa meneriakkan umpatan. Mau teriak maling, masnya keburu keluar ke jalan raya. Mau ngejar, kalau masnya keburu kabur saya seperti orang gila lari-lari sendirian. Sebenarnya di dekat saya waktu itu ada batu berukuran kira-kira sekepalan tangan orang dewasa, mau saya lempar ke masnya tapi perasaan saya udah terlalu campur aduk, lagian tinggal lima belas langkah juga udah sampai rumah.

Setahun sebelumnya, yaitu ketika saya masih kelas 3 SMP, saya juga pernah dilecehkan seorang bapak-bapak di bus yang saya tumpangi untuk pulang dari sekolah, tapi tidak separah mas-mas tadi. TAPI TETEP AJA, SIH PELECEHAN IH INGIN BERKATA KASAR. Karena jarak dari sekolah ke rumah kalau naik bus itu sekitar setengah jam, jadi saya suka ketiduran di bus. Biasanya saya selalu duduk di bangku paling belakang dan dekat pintu, biar gampang turunnya soalnya bus Klipang-PRPP selalu penuh sesak kalau siang menjelang sore. Tapi hari itu saya kebetulan dapat tempat duduk di bagian tengah, kursi yang saya duduki di samping lorong bus, bukan yang di bagian dalam atau mepet jendela.

Saya terbangun karena merasa ada tangan yang mau memegang dada saya. Eh, bener. Sialan. Untung saya cepat bangun. Saya langsung mengangkat wajah, menatap kesal bapak-bapak itu yang cuma memasang tampang tanpa rasa bersalah. Ya, namanya juga bajingan. Ternyata kelakuannya nggak cuma sampai di situ. Memanfaatkan penuh sesaknya bus sore itu, bapak tadi menurunkan tangannya untuk megang-megang paha saya. Nggak megang, sih… Cuma kayak jari-jari tangannya digesekkin ke paha saya. Kebetulan waktu itu saya pakai celana olahraga sekolah dan bahan celananya memang agak tipis.

Untung saya udah mau turun sebentar lagi. Ketika berdiri dan hendak turun, tidak lupa saya mendorong bapak itu dengan tas saya yang seberat dosa dan menyikut kemaluannya. Sebenernya saya mau teriakin, tapi entah kenapa waktu itu saya merasa takut. Saya menyesal kenapa saya harus merasa takut padahal saya tengah diperlakukan secara tidak hormat oleh orang lain.

Dalam dua pengalaman di atas, saya sama sekali nggak memakai pakaian minim. Saya memakai seragam sekolah, dan seragam saya selalu sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh sekolah, dalam artian tidak terlalu pendek atau ngepas badan.

Menurut dr. Roslan Yusni Hasan, spesialis bedah saraf, organ seks yang utama bukanlah di alat kelamin, melainkan di otak. Otak kita sendirilah yang menentukan apa yang dianggap dapat merangsang hawa nafsu.

Logikanya, sih sederhana. Organ seks yang utama itu di otak, bukan di alat kelamin, apalagi di pakaian orang lain. Kalau organ seks kamu ada di pakaian orang lain, baru kamu berhak menyalahkan mereka yang suka pakai pakaian minim.

***

Lanjut ke opini terakhir, ya!

“Ibaratnya kayak ada dua permen, yang satu masih terbungkus rapat, sedangkan yang satu bungkusnya udah dibuka. Otomatis permen yang udah nggak dibungkus akan lebih cepat dirubung semut atau lalat.” 

Kalau yang ini saya beneran nggak setuju, sih. Basi. Mengapa menyamakan wanita dengan permen? Di Ask.fm saya juga melihat seseorang (bukan yang di atas) mendapat pertanyaan tentang perumpaan wanita dan permen ini, kemudian orang itu menjawab,”Mau masih terbungkus atau tidak, pada akhirnya permen itu akan dikonsumsi juga. You will suck it, lick it, or probably drop it on the ground.

Intinya, kita nggak bisa mengibaratkan cara berpakaian wanita (atau siapa saja) dengan permen yang masih terbungkus atau nggak. Pada akhirnya, kamu juga akan makan permen itu. Permen itu bakal diemutin juga, dijilatin, terkontaminasi air liur, dan mungkin juga bakal jatuh ke tanah. Being a wrapped candy doesn’t make you less dirty.

Saya bukannya mau menjelekkan agama lain, tapi saya suka sebel melihat kelakuan murid-murid SMP maupun SMA yang kelihatannya saja menutup aurat dan mengenakan hijab, tapi kelakuannya benar-benar mencela kesucian hijab itu sendiri. Percuma kamu mengenakan hijab kalau omonganmu nggak baik, kelakuanmu urakan, yang ada malah mempermalukan agama kamu. Padahal setahu saya, hijab itu bukan cuma sekedar kain penutup kepala. Memakai hijab memerlukan keputusan dan niat yang sungguh-sungguh dari dalam hati. Saya seorang non-Muslim, tapi saya benci melihat orang yang memakai hijab nggak niat apalagi kalau kelakuannya urakan. Itulah yang saya maksud dengan “tertutup bukan berarti sepenuhnya suci“. 

***

Kebiasaan buruk masyarakat adalah mereka seringkali play victim, bersikap seolah-olah mereka adalah korban atau pihak yang dirugikan.

“Saya merkosa dia soalnya dia cuma pakai celana pendek dan tank top!”

“Saya merkosa dia soalnya saya lihat dia jalan sendirian tengah malem!”

“Payudaranya besar, sih! Kan saya jadi nafsu, nggak tahan, akhirnya saya perkosa!”

Itu yang saya maksud dengan play victim. Pelaku dalam tindak kriminal apapun, mau pemerkosaan, pencurian, pembunuhan, penganiayaan, dll. seringkali menggunakan alasan-alasan basi yang membuat mereka terlihat seolah-olah dirugikan. Kembali lagi, organ seks kamu ada di otak, bukan di pakaian mereka. Kamu nggak berhak menyalahkan korban perkosaanmu karena mereka kebetulan begini, kebetulan begitu, dll.

Kebiasaan play victim ini terkadang cenderung merugikan pihak perempuan, yang umumnya menjadi korban pemerkosaan. Kita terbiasa mewanti-wanti perempuan untuk berpakaian santun, tapi tidak diimbangi dengan mendidik laki-laki untuk tidak melecehkan secara seksual. Karenanya, ketika kita melihat seorang perempuan berpakaian terbuka, kita akan langsung memandang buruk dirinya. Apalagi kalau perempuan berpakaian terbuka kemudian diperkosa, kita pasti bakal cenderung menyalahkan perempuan itu dan sedikit-banyak membenarkan pria sebagai pelaku.

Opini masyarakat tentang “wanita lebih rentan jatuh reputasinya dan dicap buruk” itu bagi saya merupakan hasil dari kebiasaan di atas. Kita terbiasa berkata,”Nduk, kalau pakai baju yang sopan.”, tapi nggak pernah berkata,”Le, jangan memperkosa, ya.”. Karenanya, reputasi perempuan secara nggak langsung menjadi rentan dijatuhkan. Sekalinya kamu melihat seorang cewek pakai bikini, kamu bakal bilang,”Ih, murahan.” dan mungkin sampai seterusnya setiap kali kamu lihat cewek itu kamu akan terus mengecap dia murahan karena pakaian yang ia pakai tidak sesuai dengan “konsep berpakaian dengan benar” milikmu.

Do not tell her how to dress, tell him to not rape. 

***

Di luar tiga opini di atas, ada satu lagi hal yang bagi saya cukup menarik untuk dibahas :

Lantas kalau ada orang yang lapor diperkosa pacarnya itu gimana? Kan pacaran, berarti suka sama suka.

Nope. Dalam sebuah hubungan pacaran, nggak selamanya sebuah pasangan selalu sependapat. Wong soal mau makan dimana aja suka nggak sependapat dan kadang bikin berantem seminggu.

Nggak bisa dipungkiri bahwa ada saja orang-orang yang punya keinginan melakukan hubungan seksual dengan pacarnya, tapi kita nggak bisa serta-merta menganggap pasangannya bakal setuju dan mau-mau saja melakukan. Tergantung iman dan akal sehat masing-masing pribadi. Kalau kebetulan pacarnya nggak mau, inilah yang kadang menimbulkan perselisihan dalam sebuah hubungan. Biasanya, orang akan menggunakan kata-kata sakti,”Katanya kamu cinta aku.”

Hell, Darling. Love is not only about sex. Love and sex are totally two different things. Kamu nggak bisa seenaknya menggunakan seks sebagai lambang cinta yang tulus. Kemudian kalau orangnya nggak juga insyaf, ia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya melakukan hubungan seks dengan sang pacar, yang pada akhirnya berujung pada tindak pemerkosaan.

Sedikit pesan saja, kalau pacarmu (atau siapapun) mulai ngajakin kamu melakukan seks di luar nikah, tinggalin aja. Sekalipun dia cuma bercanda, cermati dulu sikapnya selama ini dan ke depannya, apakah ia terlihat cenderung “ngebet” sama kamu atau nggak. Kalau iya, jangan ragu-ragu untuk menjauhi mereka. Jangan takut galau karena merasa kehilangan orang yang spesial. Kamu nggak perlu mengistimewakan seorang bajingan. You deserve a better person who will treat you with respect.

***

Semuanya saya rangkum melewati satu kutipan dari Kurt Cobain :

“Rape is one of the most terrible crimes on earth and it happens every few minutes. The problem with groups who deal with rape is that they try to educate women about how to defend themselves. What really needs to be done is teaching men not to rape. Go to the source and start there.”

Mungkin sekian saja opini yang bisa saya sampaikan. Kamu mungkin nggak setuju dengan pendapat saya atau punya pendapat sendiri, sah-sah saja kok untuk mengungkapkannya di kotak komentar.

See you in the next post ^^

***

.

.

.

-fin.
Advertisements

8 thoughts on “Pemerkosaan dalam Perspektif Remaja Perempuan

  1. RANEEEEEEEEE TAU GA AKU MAU NGELIKE SEJUTA KALI BUAT INI OKE HUHU MAU IYA IYA AJA SEMUA. Now, excuse my words because mungkin aku bakal komen panjang banget yang bikin enek LOL ((dispam gapapa kalo annoying huhu))

    (Terus bingung mulainya dari mana)

    Mmm … menurutku itu agak diskriminatif sih (dan juga sedikit sexist) kalo masalah ngelarang berpakaian. Di satu sisi, emang butuh satu rule buat nge-border cara berpakaian yang sopan itu bagaimana, apalagi orang Jawa itu kan apa-apa harus sopan kalau ada orang tua gitu kan emang nggak sopan pake pakaian yang serba minim. Tapi di sisi lain, asal tahu diri, tahu tempat juga nggak apa-apa sebenernya. Santai santai ya pakenya santai, kalo formal ya tahu sendiri lah. The point is, sama-sama tahu diri aja menurutku antara yang negur sama yang ditegur (yang berpakaian)—and, no, negur itu nggak salah sepanjang yang ditegur itu layak ditegur. Tapi kalo Tantemu itu nyebelin parah sih, aku aja ikut kesel LOL.

    Terus, untuk nyalahin pakaian atas pemerkosaan yang udah dilakuin itu juga salah banget. Kalau memang iya murni karena pakaian, terus kenapa Yuyun bisa diperkosa? Dia masih kecil, dan kasus-kasus pemerkosaan yang menimpa perempuan berpenampilan tertutup juga bukannya nihil—banyak dan sama-sama tahu lah, ya. Setahuku, kasus pemerkosaan yang ‘cangkul’ itu (SEDIH BGT BTW ITUUU) korbannya juga berhijab? CMIIW ya. Artinya, pemerkosaan itu gabakal terjadi kalo ada niat, karena sekali ada niat perempuan macam bagaimana pun yang make kerudung kek, yang bikinian kek, itu juga bisa jadi korban. Sumpah yang bilang itu salah pakaian perempuannya close-minded bgt, ada faktor di luar itu yang lebih krusial.

    Terus … iya. People (or maybe … including us) mistake sex for romance. C’mon, you can do sex with anyone, even with strangers, but that’s not how romance works. Romance is when you love someone, and you have tendency to protect your lover. Cacat banget otaknya yang berdalih kasih sayang untuk kesenangan seksual semata, itu udah beda konteks BANGET. Like dude, please basi banget!?

    Terus.. aku bingung mau komen apa lagi HAHAHAHAHAHAHA banyak bgt baru nyadar. HUHU KAMU JD AKTIVIS SANA AJA RANEE OK!!! Have a great day, yaaa!

    1. Hai Kak Tata! Wow aku kaget lihat komenannya panjang sekali wkwkwk 😀
      Well, aku nggak menentang mereka yang punya prinsip like “cewek kalo keluar rumah mending pake celana panjang or smth yang ga terlalu mengekspos badan” karena setiap orang berhak punya konsep proper clothing mereka sendiri. Yang aku sayangkan adalah ketika mereka mulai berusaha memaksakan konsep mereka ke pola pikir orang lain. Okelah, kalo kamu ngga suka aku pake baju renang yang terbuka yaudah sih bebas tapi kan ngga perlu kemudian mencerca dengan kata-kata “murahan” apalagi sampai ngebawa-bawa agama.
      Terus soal yang pakaian dianggap sebagai faktor utama pemerkosaan itu nggak bisa dibenarkan juga karena- Hei, kalo pakaian adalah faktor utama pemerkosaan, apa kabar dengan Yuyun dan pasien ibuku yang aku ceritain di atas?
      Ya soal sex and romance itu aku mengakui kalo dulu aku pernah sempat punya pikiran kalo menikah itu tujuannya untuk menghalalkan seks dalam sebuah hubungan. Ya ampun, aku bodoh banget waktu itu, hahaha… But as I grow up, I learned that sex and romance could be related to each other, tapi mereka adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Orang kalo emang mau pacaran including seks di luar nikah ya bebas sih asal ada komitmen di antara mereka, tapi kalo sampe maksain dan ngatasnamain cinta itu udah sakit edan kali ya. Kalo lo cinta lo nggak bakal nyusahin pasangan lo dengan tuntutan having sex dong?
      Jadi aktivis ya ampun kayaknya aku memilih jadi aktivis behind the screen alias lewat tulisan-tulisan gini aja 😀
      Makasih sudah baca dan ikut berbagi opini, Kak! Have a great day as well ^^

  2. Serius, aku setuju banget sama tulisannya. Aku juga suka kesal kalau misalnya ada orang-orang yang malah nyalahin si korban dengan alasan pakaiannya, kayak yang ini orang pikirannya gimana ya? Lagian nggak semua korban pelecehan seksual itu pakaiannya yang minim, ada juga yang udah pakaiannya sopan tetap aja jadi korban. Apapun alasannya si pelaku tetap aja dia yang salah, salah karena nggak bisa nahan hawa nafsunya sendiri yang semua orang juga punya, tapi nggak semua orang ngikutin hawa nafsunya.

    1. Halo, Kak Dinda!
      Yang lebih memprihatinkan lagi adalah kebanyakan para korban pemerkosaan enggan melapor kepada polisi karena pasti ujung-ujungnya bakal play victim lagi, terutama bila kebetulan nggak ada bukti fisik yang bisa divisum (seperti hasil luka bekas kekerasan). “You were asking for it.” adalah senjata yang sering digunakan para pelaku ketika disalahkan. Yha menurut u aja mana ada cewe minta diperkosa -___-
      Makasih udah baca dan ikut berbagi pikiran, Kak ^^

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s