[High School’s Freshman Journal] Society (1)

High School Journal_Freshman Year

.

.

.

“Sekedar curhatan ala anak kelas satu SMA.”

.

.

.

Bahas soal masa SMA tentu bakal menyinggung masalah pergaulan. Pergaulan yang saya maksud itu meliputi banyak hal; pertemanan, cinta monyet, rebellion, konflik, hingga permusuhan, karenanya bagian society ini sendiri nantinya akan saya bagi ke dalam beberapa part. Ya ampun, dibagi-bagi aja terus semuanya.

Awal masuk SMA, saya tentunya berharap jadi murid yang alim-alim aja dan nggak terjerumus ke hal-hal sesat. Saya nggak mau jadi siswi SMA seperti yang ada di FTV siang tontonan adik perempuan saya, yaitu siswi yang kehidupannya terlalu banyak drama. Faktanya, drama putih abu-abu memang nggak bisa dihindari, terutama bagi perempuan. Hanya saja skala dramanya berbeda-beda tiap orang. Saya bersyukur karena drama saya nggak lebay-lebay amat, walaupun kalau diingat-ingat lagi memang agak konyol dan memalukan.

Skenario drama anak SMA yang paling sering terjadi itu apa, sih? Cinta monyet. Kalau dalam bahasa Inggris, puppy love. Saya nggak paham gimana ceritanya dari monyet bisa jadi anjing. Sebenarnya saya malu mau cerita, tapi ya sudahlah nggak apa-apa. Masa muda tanpa kisah memalukan tidak afdol rasanya (asal kisahnya nggak terlampau memalukan seperti tersebarnya foto bugil atau ketahuan tawuran dengan SMA sebelah).

Kalau ditotal, saya sudah pernah dua kali pacaran, meski yang pertama itu juga nggak meyakinkan apakah bisa dihitung sebagai pacaran atau nggak. Yang pertama, waktu masih kelas 6 SD. Saya nggak paham, kok bisa pacaran waktu itu. Cowok saya waktu itu teman dekat saya sejak masih TK, kabarnya dia sudah suka sama saya sejak kelas 5 SD. “Pacaran” kita berjalan sekitar enam bulan. Sekarang anaknya bersekolah di SMA Van Lith, Muntilan.

Yang kedua, ya waktu kelas sepuluh ini. Lagi-lagi dengan teman sekelas, sebut saja Ayam. Ayam ini anak rantau dari Bekasi, di Semarang ngekos sendirian di dekat sekolah, daerah Semeru atau Kaliwiru saya lupa. Saya nggak tahu awalnya bisa suka sama Ayam itu bagaimana. Tahu-tahu saja, ia terlihat super ganteng di mata saya, mengalahkan ketampanan cowok-cowok boyband yang setiap hari saya pelototin via layar ponsel.

Saya yang pertama kali mendekati Ayam, dengan modus ngajakkin dia satu kelompok tugas drama bahasa Jawa (soalnya dia pintar mengedit video). Seminggu pendekatan, kami saling menyatakan perasaan. Saya kaget ternyata dia juga suka sama saya. Dua minggu setelahnya, kita pacaran. Pacarannya nggak lama-lama, cuma tiga minggu. Sampai di sini, kalian pasti sudah melabeli saya sebagai manusia paling absurd di dunia. Walaupun kami cuma dekat selama kurang lebih dua setengah bulan (dihitung dari awal pendekatan sampai putus), tapi dia adalah cowok pertama yang pergi ke gereja bareng saya dan ketemu orangtua saya di sana. Kami sempat ke gereja bareng sebanyak dua kali.

Ayam nembak saya pada hari Selasa, 22 September 2015 di pinggir jalan. Yes, I mean… Literally di pinggir jalan. Jadi, saya kalau pulang sekolah itu naik angkot. Dan untuk naik angkot ini, saya harus menyeberang jalan dulu dan berjalan agak jauh sampai ke Kaliwiru, karena nggak ada angkot lewat di jalan depan sekolahan. Ayam nemenin saya jalan sampai ke sana, dan sembari menunggu angkot lewat dia ngajak saya pacaran.

Saya mutusin Ayam pada hari Jumat, 9 Oktober 2015 sore hari. Saya bilang saya merasa nggak cocok sama dia, habis mau bilang bosan nggak tega. Sebenarnya waktu Ayam nembak saya, tuh saya sudah agak bosan dengan dia, soalnya memang merasa nggak cocok sifatnya dan lagi saya rasa nilai-nilai saya mulai menurun (sebagai cewek ambisius, saya nggak sudi merelakan prestasi hanya demi cinta monyet).

Setelahnya, saya berjanji pada diri saya sendiri untuk nggak pacaran sebelum lulus kuliah. Karena saya sadar diri bahwa saya nggak bisa membagi-bagi fokus saya kepada pasangan dan kewajiban belajar. Saya nggak mau hanya karena pacaran, prestasi akademis saya jeblok dan berujung ngecewain orangtua yang udah susah payah bayarin saya sekolah.

Kembali kepada watak ambisius saya. Saya nggak mau ambisi saya untuk jadi perempuan berprestasi dihalangi oleh urusan cinta monyet, kalaupun saya nggak bisa menikmati lagi yang namanya cinta monyet, toh nggak bikin saya mati terkapar dan menggelepar. Katanya, yang terbaik datang belakangan. Kali aja nanti saya dapat pasangan macam Christian Grey (minus sikap abusive-nya, ya).

Sebenarnya, mau pacaran atau tidak itu hak masing-masing pribadi. Yang bikin risih itu kalau sudah melihat teman yang pacarannya agak gimana gitu. Yang kalau berantem bikin ribut sekelas, nangis-nangis, gebrak meja, dll. Atau yang jadi semacam ketergantungan sama pasangan, walaupun mendapat perlakuan yang kurang baik. Ada teman-teman saya yang demikian, dan saya nggak bisa bohong kalau saya suka sebel lihatnya.

Kalau soal hubungan antara nilai dengan pacaran, itu tergantung orangnya juga. Sepupu saya pacaran sejak zaman SMP sampai sekarang sudah lulus kuliah dan nilainya tetap di atas rata-rata terus. Tapi beberapa teman saya ada juga yang nilainya menurun karena sibuk pacaran. Bahkan sepupu saya yang lainnya lagi sampai nggak naik kelas karena terlalu banyak pacaran. Karena saya merasa nggak bisa membagi porsi yang seimbang antara belajar dengan pacaran, jadi saya mengambil keputusan untuk nggak pacaran dulu selama tugas saya sebagai pelajar atau mahasiswi nantinya belum selesai.

Sekian sharing kali ini! See you in the next post 😀

Advertisements

3 thoughts on “[High School’s Freshman Journal] Society (1)

  1. Ngebaca tulisan kamu tentang masa SMA ini aku jadi kayak flashback gitu, apalagi yah karena baru aja tamat. Masa cinta di SMA sih aku nggak ada parah yah? Eh ada satu tapi nggak jelas, jadi dilupakan saja *curcol BTW tapi aku suka kesal sih sama teman-teman aku yang pada pacaran mesra-mesraan di kelas, nggak ngerhargain perasaan para jomblo yah? *eh

    1. Hai, Kak Dinda! Wah bagus dong cinta monyetnya jaman SMA nggak ada yang parah, hehehe… Aku keselnya soalnya mereka kalo berantem atau bercanda tuh suka berlebihan berisiknya, kan menganggu kenyamanan publik XD Makasih udah baca, Kak ^^

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s