[Ficlet] Stranger at My Porch

tumblr_nx1rxqQoCz1tk45kno1_500

.

.

.

“So kiss me on the mouth and set me free,

but please don’t bite.”

.

.

.

Recommended song : Troye Sivan – Bite

***

Aku tidak pernah pulang larut malam seperti ini sebelumnya. Aku akan berusia sembilan belas tahun satu setengah bulan lagi, tapi demi surga dan seluruh isinya, aku memiliki nyali tak ubahnya seorang anak kecil yang mudah sekali ditakut-takuti. Aku melirik jam tangan berwarna hitam yang melingkar di tangan kiriku. Nyaris pukul dua belas.

Deru mesin mobilku memecah keheningan dan membelah jalanan yang tidak terlampau besar. Kompleks perumahanku sudah sepi sekali, lampu neon dari dalam rumah-rumah itu sudah padam, hanya menyisakan cahaya remang-remang lampu teras pada masing-masing rumah. Ya ampun, kenapa jalan menuju rumahku rasanya jauh sekali?!

Aku mengerutkan dahi saat melihat seseorang yang tampak tinggi berdiri di teras rumahku. Orang itu menghadap pintu utama rumahku dan membelakangiku. Sesaat, baru kuingat bahwa dua hari terakhir ini aku ditinggal sendirian oleh kedua orangtuaku menjenguk Nenek yang sedang sakit keras. Oh, tidak! Lalu orang itu siapa? Sebentar, apakah ia memang benar-benar “orang”? Atau ia hantu? Bagaimana kalau ia pencuri? Atau lebih parahnya pembunuh berdarah dingin?

Aku menyorotkan lampu depan mobilku ke arah sosok asing itu. Seorang pria yang memakai- Jubah? Penampilannya yang terlihat misterius serta sosoknya yang tidak bergeming saat kusorot lampu membuatku makin takut dan mengaduk isi perutku.

Ah, tapi tidak mungkin ‘kan aku bakal terus-terusan diam di sini? Lagipula, aku ingat bahwa aku menyimpan sebuah pisau lipat di mobilku. Setidaknya bisa kugunakan sebagai senjata kalau ternyata pria itu memang punya niat jahat.

Mematikan mesin mobil dan keluar dengan tas terkalung di bahu kiri serta pisau lipat dalam genggam tangan kananku yang gemetaran, aku memberanikan diri untuk berjalan mendekati pria berjubah itu yang masih saja diam seperti patung.

“Permisi,” ucapku dengan suara bergetar. “Ada perlu apa di rumahku, Tuan?”

Nafasku tertahan saat ia membalik tubuhnya ke arahku perlahan. Oh, kalau saja ia bukanlah pria aneh yang berdiri di terasku pada pukul dua belas lebih tujuh menit di malam hari, aku akan dengan suka hati memuji ketampanannya yang nyaris mendekati kata ‘sempurna’. Rambut warna biru metalik yang ditata dengan gel, sepasang mata beriris kelam, hidung bangir, bibir sebentuk busur panah Cupid, serta rahang yang tegas. Belum lagi tubuhnya yang sangat tinggi, kira-kira aku hanya sebahunya saja, jadi aku harus sedikit mendongak agar dapat memandang wajahnya. Ia memakai jubah dan pakaian layaknya bangsawan Eropa zaman dulu. Ha, memangnya dia pikir dia hidup di tahun berapa?

Satu nama lolos dari lidahnya dan mataku terbelalak kaget.

Itu namaku. Darimana dia tahu?

“K-Kau ini sebenarnya siapa?”

“Kau akan tahu nanti,” jawabnya. “Tapi yang perlu kau tahu sekarang, aku menginginkanmu.”

“Apa?”

“Aku…” pria itu sedikit membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada milikku, menatap tajam tepat ke sepasang manik cokelatku yang aku yakin tengah menyiratkan ketakutan. “…menginginkan darahmu.”

Kali ini kakiku benar-benar terasa selemas agar-agar. Jadi, kisah para tetangga tentang kompleks perumahan ini yang dulunya adalah pemukiman para vampir serta kabar burung bahwa hingga saat ini masih ada beberapa vampir yang hidup di sekitar sini itu bukan sekedar dongeng isapan jempol belaka?

Jantungku serasa jatuh ke dasar perutku saat kulihat bibirnya menyunggingkan seulas senyum timpang, bisa kulihat sekilas taringnya yang tampak tajam dan berkilau. Ia makin mendekatkan wajahnya dan aku harap aku bisa berlari menjauh, berteriak histeris, dan membangunkan para tetanggaku agar mereka bisa membekuk makhluk penghisap darah ini. Sayang, kakiku seolah tak bisa diajak bekerjasama. Seperti ada paku tak kasat mata yang tertancap di antara kakiku dengan lantai, sehingga aku tak bisa kemana-mana.

“A-aku…” kurasakan cairan hangat meleleh dari mataku dan turun ke atas pipiku. Sialan, kenapa aku harus secengeng ini, sih?! Pria ini pasti bakal makin senang kalau melihatku tampak lemah begini.

“Kau takut. Klise, aku tahu itu, Sweetheart,” ujarnya kepalang santai, suaranya terdengar begitu dalam dan sedikit serak. Jemarinya terangkat untuk menghapus air mataku. Tangannya terasa sedingin salju di bulan Desember.

“Aku tidak akan membuatmu berada dalam bahaya jika kau melakukan apa yang kuperintahkan,” ucapnya lagi.

“K-kau tidak akan menghisap darahku?” Pertanyaan bodoh. Air mataku meleleh lagi saat kulihatnya mendengus geli.

No, Dear. I want your blood, but I won’t kill you if you do as what I tell you later,” jawabnya. “Semuanya tergantung pada dirimu. Kau mau menurutiku atau tidak?”

Aku mengangguk kaku. Jemarinya kini menyentuh bibirku, sementara tangan yang satunya merengkuh pinggangku. Semuanya terasa begitu gila dan sureal. Separuh hatiku berharap ini hanyalah sebuah mimpi buruk dan aku segera terjaga.

Bibirnya hanya berjarak beberapa milimeter saja dari milikku, perpaduan antara aroma cologne dan nafas peppermint-nya membuatku nyaris mabuk. Namun sebelum ia sempat memagut bibirnya pada bibirku, aku bergumam,”Kiss me and set me free.”

Ia hanya mengangkat satu alis.

But, please… Don’t bite me.”

Jika yang tadi adalah pertanyaan bodoh, maka yang ini adalah pernyataan bodoh. Pria itu sekali lagi mengulas senyum miring, lantas menjawab,”Maaf, Sweetheart. Tapi aku buruk dalam menuruti perkataan orang lain.”

.

.

.

-fin.

Note :

Saya belon bisa move on dari vampire!Mingyu.

Sebenernya saya suck banget disuruh bikin fiksi bergenre fantasi gini tapi lagunya Troye bikin gamon mulu sama vampire!Mingyu aih gakuku mz //jedotin pala ke tembok

Also posted at my Wattpad account ^^

Advertisements

2 thoughts on “[Ficlet] Stranger at My Porch

  1. WAH BENAR SEKALI aku juga masih suka deg-deg an liat mingyu dalam kemegahan vampirnya :”( aku memang lemah:(
    Tapi sebentar mbaknya kok aku banget sih kalo udah dihadapin sm cowok ganteng plus tinggi MAKSUDKU ITU BAWA2 PISO NGAPAIN KALO GA DIGUNAIN :”

    1. HALO KAK MEY aku terkenyut kak mey main-main ke blog acakadut ini bahkan ngefollback juga huw thanks loh kak //nangis alay
      Same here Kak Mey aku lihat cowok ganteng tinggi aja udah lemah, apalagi cowoknya itu jadi vampir-vampiran gini makin klepek-klepek jha :”) Si ‘aku’ aja di hadapan Mingyu ngomongnya jadi gagu, gimana mau nusuk pake piso kak wkwkwk
      Makasih Kak udah baca ^^

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s