[Ficlet] Lady Killer

large (1)

.

.

.

“Sial, mana mungkin seorang Kim Hyewon suka pada Shin Wonho?”

.

.

.

Kim Hyewon mendecakkan lidah pelan tatkala dilihat olehnya presensi Shin Wonho di ambang pintu ruang student council. Ia bahkan tak mau repot-repot membalas sapaan riang pemuda berkulit pucat itu.

Hyewon tidak pernah menyukai Wonho sejak awal ia mengenalnya.

Wonho memang menarik secara fisik. Tampan dan memiliki postur tubuh bagus, belum lagi senyumnya yang menawan. Aphrodite saja bisa mati klepek-klepek melihatnya. Tidak heran bila Wonho mendapat julukan lady killer. Selain itu, Wonho juga pandai bergaul, lucu, dan ramah.

Saking ramahnya, semua gadis ia kencani, gerutu Hyewon dalam hati. Hyewon sampai tidak bisa lagi menghitung berapa banyak nama perempuan yang Wonho sebutkan setiap kali bercengkerama dengan teman-temannya. Bahkan Hyewon pernah tidak sengaja mendengar Wonho berkata,”Pacaran itu tidak perlu terlalu lama. Enak juga pacaran sebentar, sehabis itu langsung halalkan saja di depan altar.Ha, dia pikir menikah sama mudahnya dengan memotong pita peresmian gedung baru?

Tidak hanya sifat genit dan kebiasaannya berganti-ganti pacar sesering berganti pakaian dalam yang bikin Hyewon sebal. Wonho itu belagu. Mungkin karena ia tahu ia tampan dan populer, jadi mau menari zumba sambil memakai boxer di kepala pun gadis-gadis bakalan tetap jatuh cinta padanya.

Hyewon tidak tahu mengapa ia merasa dongkol setiap kali melihat celana seragam yang dipakai oleh pemuda itu. Semua celana seragamnya dibuat ketat, jelas sekali melanggar peraturan yang ditetapkan sekolah. Belum lagi terkadang ia memakai kaos kaki hitam, itu pun pendek sekali. Oh, jangan lupakan sabuknya yang lebih sering tergantung di gantungan pakaian di kamarnya ketimbang melingkari pinggangnya. Sudah ditegur berkali-kali pun sepertinya Wonho pura-pura tuli, memang dasarnya belagu mau ditegur sampai berbusa pun percuma.

“Hai, Hyewon!” sapa Wonho lagi, kali ini sembari menghempaskan bokong di bangku sebelah milik Hyewon. “Kok sendiri?”

“Memang mau sama siapa?” Hyewon balik bertanya.

“Sama aku.”

“Tidak, terimakasih.”

Wonho tersenyum timpang mendengar jawaban bernada ketus dari gadis berambut legam itu. “Kau sedang kesal, ya?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena kau datang.”

“Aku? Aku salah apa?”

“Tidak tahu. Pokoknya aku tidak suka denganmu. Pergi sana.”

Lho, kau tidak berhak mengusirku, dong! Kursi yang kududuki ini ‘kan sedari tadi memang kosong. Aku boleh duduk di sini,” celoteh Wonho. Ia terkekeh saat melihat Hyewon beranjak dari bangku yang didudukinya, bersiap pindah tempat. Dengan segera laki-laki bermarga Shin itu menahan tangannya, mengisyaratkan agar Hyewon kembali duduk.

“Hei, jangan marah,” ucap Wonho. “Kau ini aneh, ya? Masa’ kesal padaku, padahal aku tidak punya salah apapun denganmu.”

Idih… Pokoknya kau hidup di dunia ini saja sudah salah!” Hyewon bersikeras. “Sudahlah, sekarang kau yang pindah atau aku yang pindah?”

“Tidak keduanya,” jawab Wonho. “Kau tahu, tidak? Katanya kalau kau mudah merasa sebal terhadap seseorang yang tidak pernah melakukan kesalahan apapun, itu artinya kau suka dengannya.”

Apakah Shin Wonho baru saja bilang kalau Hyewon suka padanya? Hahaha… Yang benar saja! “Diamlah,” dengus Hyewon, tidak mau berargumen lebih lanjut. Wonho masih saja betah memandanginya sembari tersenyum dan mungkin benar kata orang kalau ia ini adalah seorang lady killer. Ternyata senyumnya manis juga.

Sial, mana mungkin seorang Kim Hyewon suka pada Shin Wonho? Mau ditaruh dimana mukanya?

“Tersenyumlah,” pinta Wonho. Kalau suara itu bisa dikecap, maka suara Wonho bakal terasa semanis madu. Namun demi menjaga harga dirinya, Hyewon hanya merespon dengan satu alis terangkat.

“Kau itu cantik, sayang kalau pasang ekspresi galak terus. Kalau kau senyum pasti jadi lebih mempesona.”

“Aku ‘kan tidak mau membuat orang lain terpesona,” jawab Hyewon. “Jangan samakan aku dengan dirimu, ya!”

“Tadinya aku memang suka bikin gadis-gadis kepincut denganku,” aku Wonho, membuat perut Hyewon terasa mual seketika. “Tapi sekarang aku tidak peduli dengan gadis-gadis kelebihan hormon itu.”

Ketua mereka sudah hadir dan sebentar lagi rapat akan dimulai. Wonho mengecilkan volume suaranya, lantas berbisik,”Aku ingin membuatmu suka padaku.”

Ew, dasar laki-laki setengah gila!

“Rapat akan berlangsung selama dua jam. Dan selama itu aku akan duduk di sini,” ucap Wonho. “Kalau dalam dua jam aku bisa membuatmu suka padaku setidaknya dua puluh lima persen saja, berarti-”

“Shin Wonho, kau pilih diam atau kutampar mulutmu pakai sepatu?”

Asal tahu saja, ancaman itu hanya Hyewon gunakan untuk menghentikan mulut pandai Wonho yang mulai berhasil menghadirkan semburat merah muda di pipi Hyewon.

.

.

.

-fin

Notes :

Saya korban pesona Shin Wonho XD

Jadi ini terinspirasi oleh salah satu temenku di OSIS. Anaknya emang ganteng dan ramah banget, enak diajak ngobrol. Tapi ya gitu itu. Belagu, genit, seenaknya sendiri. Dan dia bener-bener pernah ngomong ke aku kalo dia nggak suka kelamaan pacaran, sakaw memang. Beruntung kayaknya dia udah dibikin tobat sama pacarnya yang sekarang.

FYI sebenernya namanya Wonho itu Shin Hoseok, tapi daripada nanti rancu sama J-Hope alias Jung Hoseok, aku tetep nulis namanya Wonho.

Dan btw aku baru sadar sebenernya nyaris semua karakter cewe dalam fanfic-ku itu selalu punya sifat jaim-jaim-gemes gitu, ya? Ckckck… Betapa tidak kreatifnya diriku ini~

Advertisements

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s