Twenty Things About Angela Ranee

original_hello-beautiful-wall-sticker

Hello! Buka blog dan tetiba di-tag beginian sama shiana. Sebenernya aku suka sih suruh jawabin tag-tag lucu kayak gini, mungkin ada hubungannya dengan kenarsisanku dan kepedeanku terhadap diri sendiri yang sudah mendekati taraf ‘kurang tahu malu’.

Setelah selesai jawab 20 pertanyaan di bawah, aku harus tag sepuluh orang blogger lainnya. Bagi yang di-tag, tolong dijawab juga, ya so we can know each other more! Toh pertanyaannya juga menarik, kok untuk dijawab, hehehe…

So, here we go! Twenty things about Angela Ranee~

  1. Your real name?

Angela Ranitta Kusumadewi. Tapi sejak sakramen penguatan dua tahun lalu, jadi Josephine Angela Ranitta Kusumadewi. FYI, I chose ‘josephine’ because I think every name that starts with ‘J’ sounds sexy //yha

2. Your current pen-name? When do you start using your current pen-name?

My current pen-name is Angela Ranee/angelaranee. I actually forgot when I started to use this name, maybe almost a year?

3. The story behind your pen-name?

Well, it’s from my real name, tho. Angela adalah nama permandian, sedangkan Ranee adalah versi alay dari ‘rani’ karena semakin hari nama panggilanku ini semakin pasaran aja. There’s nothing special about my pen-name, to be honest.

4. Where to find you?

Here, of course. Karena tempat ini adalah blog pribadiku. You can also find my writings at The Writers’ Secrets, cuma dua sih but feel free to read. You can find me at Instagram, Twitter, and LINE.

5. Why do you write?

Because it’s my talent? I don’t mean to brag, but I just constantly realized that writing is my number one talent since I was 10. Selain itu, melalui menulis aku juga bisa mengekspresikan perasaan dan menuangkan opini yang mungkin tidak bisa dengan mudah kuucapkan secara langsung. For me, writing also keeps me from depression and helps me to build my own confidence.

6. Where do you usually get inspiration for your writing?

Waktu lagi di exam week (this is the most annoying karena peraturan dalam keluargaku selama aku atau adikku lagi tes nggak boleh pake PC), di tengah-tengah pelajaran yang bosenin, waktu lagi perjalanan ke luar kota, lagi di gereja, sehabis baca karya orang lain entah di Tumblr, WordPress, Asianfanfics, dll., dan setelah menemukan seabrek quotes atau gambar yang aesthetic af, waktu insomnia, dan terutama waktu di kamar mandi.

7. Genre you usually write?

Fluffy and cheesy stuffs about romance, friendship, siblings, etc. Sometimes also cracking some unhealthy jokes, trying to write something sad but God knows it’ll be failed anyway, and there are times when I sound like someone who has been reincarnated for seven times, then write about something philosophical and deep.

8. Genre you usually read?

Fluff because I’m a sucker for cutesy things. I like to suffer by reading about sad/angsty stuffs. I also like AU fictions (esp. about mythical creatures, mafia!AU, secret agent!AU, barista!AU, or AU from movies like Divergent!AU or Harry Potter!AU, etc.), sometimes I challenge my intelligence by reading riddles, I also like dystopian stuffs (hell yeah The Maze Runner and Divergent for life).

9. Current interest in writing?

Currently I work on a #PlaylistProject based on my friend’s playlist on 8tracks, tapi macet di tengah jalan karena mendadak writer’s block yha kebiasaan buruk emang. Lately I’m really into writing about my opinion mendadak sok bijak sok yes gitu ceritanya, dan kalo untuk menulis fiksi lagi demen banget nulis yang berlatarbelakang persahabatan anak SMA/kuliahan gatau kenapa sih mainstream sekali seleraku.

10. Your typical favorite fictional character?

Banyak banget, sih. Because I’m way too perfectionist kali ya? Dulu aku suka banget sama yang namanya karakter cowok gombal dan cewek bad-ass, tapi makin ke sini makin berubah mungkin menyesuaikan usia dan tipe ideal juga //nggak deng

Untuk karakter cowok, aku suka menulis tentang cowok yang dewasa, well-mannered, pintar, mungkin agak insecure dan panikan dan ambisius (typical type A person), karena basically di dunia nyata aku menilai pria dari sikap dan intelektualnya. I’d like to call them ‘the prince charming’, karena bagiku prince isn’t only about looks, seseorang yang pantas disebut ‘prince charming’ itu nggak cuma modal ganteng, tapi juga modal sikap, intelektual, dan kedewasaan. Itu untuk karakter cowok bikinanku sendiri. Tapi kalo baca dari karya orang lain, aku paling tertarik dengan ‘bad boy’ yang petakilan, usil, cengengesan, gombal, dll.

Sedangkan untuk karakter cewek, aku suka membuat karakter cewek yang mencerminkan sebagian dari karakterku sendiri. I’m half bad-ass and half nerd. Untuk karakter buatan sendiri, I’m more comfortable to write about a girl who likes to break the rules, keras kepala, open-minded, percaya diri tingkat dewa, agak ceroboh, sebenernya pinter tapi males dan terlalu petakilan. Kadang aku juga suka menulis tentang typical basic bitch yang sarkastik, kalo ngomong sedikit tapi nyakitin, tukang mengumpat, tukang gosip, hahaha…

Untuk karakter cewek favorit untuk dibaca, aku suka dengan karakter cewek yang pendiem, tertutup, but actually has the whole universe in her head. Kayak typical wallflower/loner gitu. And I know it’s kinda weird but aku suka membaca cerita dengan karakter cewek yang punya anxiety disorder/selective mutism atau trauma masa lalu yang membuat dia jadi tertutup/pendiam itu tadi.

 

11. Name your own favorite fiction(s) and the reason why?

Tbh I’m really satisfied with the writing prompts I wrote about a month ago, entitled “Ian’s Flower Crown” which was published in The Writers’ Secrets and reblogged here. Because I’m really into Ian and Josie’s character there and… Nggak tahu, suka aja. Kemudian fiksi berjudul “Colors” yang merupakan bagian dari Playlist Project. Dan salah satu fanfiksi yang udah lumayan lama aku posting, yang judulnya “Americano” dengan tema persahabatan koplak antara the grumpy Kim Minseok and the basic bitch Vanessa (she’s an OC).

12. It might sound narcistic, but what’s something special from your writing?

I think I’m pretty good at making fluffy fictions full of cheese here and there. Like- Sebenernya aku orangnya gombal dan koplak banget, lho. Cuma karena nggak ada yang dideketin dan nggak ada yang deketin jadi pada nggak tau aja //maklum terlalu edan jadi cowo pada jijik Dan kegombalanku itu tercermin sekali di beberapa fiksi yang pernah aku tulis. And I think I’m pretty open-minded, so sometimes I could write something about my own opinion yang sedikit-banyak bikin orang “oh iya ya? kok ga kepikiran?”. Bukan bermaksud sombong ya, cuma sebagai penulis kan aku juga harus bangga dengan karya dan kemampuanku sendiri, hehehe… 😀

13. Aspects you still feel lacking?

Grammar error. Aku suka nulis pake bahasa Inggris but my English is pretty damn bad. Karena jujur aku dulu belajar bahasa Inggris nggak di sekolah. Aku lebih banyak belajar dari fanfiction di internet, novel, film, YouTube. Selain itu waktu belajar dulu, aku mendahulukan vocabulary banks dan pronunciation, bukan grammar. Bahasa Inggrisku bisa dibilang “kasar”, tbh. Sampe sekarang masih jadi kelemahanku kalo pelajaran Inggris di sekolah. Kalo di sekolah kan mesti kita diajarin susunan kata yang bener, nah di situlah aku selalu ada satu-dua kesalahan.

Nggak cuma grammar error dalam bahasa Inggris, waktu nulis berbahasa Indonesia pun EYD-ku kacau banget. Karena dalam kehidupan sehari-hari, I speak in three languages (Javanese, Indonesian, English) sampe bisa dalam satu kalimat yang kuucapkan tiga bahasa itu ada semua. Jadi bener-bener campur aduk nggak karuan sehingga waktu disuruh nulis dengan EYD yang baik dan benar suka bloon sendiri. Terus plot-ku juga way too mainstream and I’m not good at making conflict.

14. Biggest challenge you’ve ever encountered when writing something?

Writing something that is completely out of my comfort zone. Menulis dengan genre/plot yang mungkin selama ini nggak berani aku “sentuh”. Continuous stories juga merupakan tantangan terbesar bagiku karena aku moody dan mudah banget kena writer’s block di tengah jalan. Menulis dengan bahasa Inggris juga cukup menantang karena kembali ke masalah grammar itu tadi. Selain itu, menulis tentang opini pribadi juga sedikit-banyak menantang karena insecure kalo opini kita itu tidak sependapat dengan orang lain, tapi juga pengen tahu gimana reaksi pembaca serta opini pribadi dari pembaca itu sendiri.

15. About your writing, what do you want to accomplish next?

Finishing a continuous stories tanpa berhenti di tengah jalan hanya karena moodswing dan writer’s block, write something based on my own opinion and mindset yang nggak cuma bisa dinikmati sebagai tulisan tapi juga bisa sebagai sarana saling berbagi pikiran.

16. What is something you usually avoid when writing?

Drama, conflict, and Mary Sue/Gary Stu character. Buat yang nggak tahu, Mary Sue/Gary Stu adalah sebutan bagi karakter fiksional yang dibuat terlalu perfect, misalnya ya cakep lah, ya pinter lah, ya tajir lah, ya baik lah, dll. Selain itu, aku juga sangat menghindari typo. Dan ketika menulis fanfiksi, aku sebisa mungkin berusaha agar karakter idola yang sedang kutulis itu nggak out of character dia di depan kamera. Iya di depan kamera, kan nggak tahu juga oppa dan eonni aslinya gimana. Ha.

17. What is something you really want to improve from your writing?

Grammar/EYD, perbanyak kosa kata, something less mainstream.

18. Do you have other interest aside from writing? And reasons why?

Learning multiple languages, entah bahasa asing atau bahasa lokal. Karena bahasa adalah sarana komunikasi, jelas. Selain itu, it’ll be great ketika kita bisa ngomong banyak bahasa because not all Indonesian could speak proper Indonesian and not all foreign people understand English.

I also have a big interest at discussing about sexuality issue (sexual orientation, transgender, sexual harassment, abnormality in sexuality like BDSM and such) because- Dude, it’s not only about “mesum”, you can learn many things from there dan ketika kamu bertemu orang-orang yang katakanlah dia homoseksual, transgender, atau punya kelainan seksual, kamu bisa mengerti alasan mereka menjadi seperti itu, nggak cuma berteriak “GAY” dan nge-judge seperti kebanyakan orang.

Selain ketertarikan dalam membahas sexuality issue, I’m also really into gender equality because hell yeah I’m a #feministbitch. Literally aku sangat tertarik dengan hal-hal yang sangat jarang dibahas oleh orang-orang kebanyakan, atau bahkan malah dianggap tabu. Sexuality, gender equality, mental disorder, etc.

19. If you have ability to master one skill in one night, what skill will you choose?

Self-defense. I really want to learn boxing or Muay Thai tapi secara fisik saya sangat lemah dan manja. Ahelah nyet.

20. Protips from you for whomever read this?

For everyone who reads this, just do what you want and pursue your dream, live your life to the fullest. Dedicate your hard-work to your beloved ones but don’t let them force you to do what they want because you’re not a goddamn machine.

Be yourself, be original, let people see both your bad sides and good sides, and see who’s truly accepting you just the way you are. You’re not a clown, no need to impress people and being fake.

From those who often feel insecure, remember that we weren’t born to be perfect. We were born imperfectly, with flaws here and there, but that’s what makes you special. That’s what makes you an art.

Finally done! Sebenernya bingung mau nge-tag siapa aja karena temen blogger-ku nggak terlalu banyak and some of them are currently inactive for some reason. I’m tagging Kak Rafael, Ay, Hani, Kak Tita, Kak Vi, Kak P, Bi, cuma 7 yha bebas wkwkwk maklum aku anaknya kuper XD. Buat yang nggak di-tag tapi kebetulan baca silahkan bikin juga gapapa. Thanks for reading!

P.S. : Maaf kata-kata berbahasa engles nggak kucetak miring.

Advertisements

4 thoughts on “Twenty Things About Angela Ranee

  1. Heyhooo, Ran. Sebelumnya saya pernah ketiban mass-tag kayak gini juga dan seperti yang udah-udah saya malah ngisi jawabannya melalui komentar di postingan tersebut, hahaha. So here we go.

    1. Rafael.
    2. Awal 2010-Mei 2015 (di blog lama): Raf/Rafael. Mei 2015-April 2016: Armored Fate. Sekarang kembali lagi ke Raf.
    3. Untuk pen-name “Armored Fate”, saya dipengaruhi akan gagasan Nietzsche tentang Amor Fati, mencintai takdir. Menjadi Armored Fate karena diplesetkan saja sehingga berarti “takdir yang dipersenjatai”. Belakangan kembali lagi ke pen-name yang mirip dengan nama asli, karena, ya… Hmmm, pengen aja, hahaha (ababil mode: on).
    4. Untuk di dunia maya, hanya di blog ini karena saya udah berhenti menggunakan medsos. Dan mungkin kita pernah berpapasan di trotoar jalanan di Jakarta, di halte-halte Transjakarta, atau di manapun di seantero ibukota ini.
    5. Untuk menjaga kewarasan. Karena ketika saya menulis/mengetik sesuatu, saya harus dalam kondisi sadar sesadar-sadarnya sehingga kalimat yang saya tuliskan nyambung dan diksinya pas. Tapi yang paling utama sih, untuk mengarsipkan kenangan dalam bentuk tulisan.
    6. Biasanya di jalan saat berangkat/sepulang kerja dan sebelum tidur (terlebih kalau insomnia), kalau ada yang menarik buat saya tulis maka akan saya tulis. Selain dari beberapa penulis favorit saya, saya juga dipengaruhi ide-ide anarkisme seperti peristiwa Paris 1968 dan sebagainya.
    7. Several bittersweet moments I called life.
    8. Dystopia, sci-fi, philosophy, personal thoughts, politics, and something in between.
    9. Belakangan sempat berkontribusi untuk Kolektif Propagasi (www.propagasi.net) dan menulis flyer berjudul Propaganj(A) bersama kawan-kawan untuk disebarkan secara klandestin di kampus kala akhir pekan (udah lulus masih aja… gagal move on dari kampus, hahaha). Semua dilakukan secara non-periodikal alias tergantung mood.
    10. Untuk karakter cowok: John Constantine. Bajingan, penipu, manipulator, sinis, pembohong tapi sekaligus master persuasi. Karakter paling ikonik dan bad-ass dari Vertigo.
    Untuk karakter cewek: Sabina, kekasih Tomas dalam novel The Unbearable Lightness of Being karya Milan Kundera.
    11. Belum pernah nulis fiksi, jadi ya saya nggak bisa jawab pertanyaan ini.
    12. Entahlah, silakan para pembaca saja yang menilai. Karena saya percaya dengan gagasan Roland Barthes tentang Death of the Author, bahwa selepas penulis menerbitkan tulisannya sesungguhnya ia telah mati dalam artian; biarkan saja para pembaca yang menilai tulisannya entah baik ataupun buruk, spesial ataupun tidak.
    13. EYD dan diksi yang masih kacrut.
    14. Mood nggak menentu dan terlebih beban pekerjaan yang numpuk. Huft.
    15. Idem dengan nomor 9 dan terus menulis secara konsisten, itu udah cukup bagi saya saat ini.
    16. Sepertinya nggak ada yang dihindari, saya cuma nulis apa yang terlintas di pikiran.
    17. Idem dengan nomor 13.
    18. Tentu. Musik, filsafat, sastra, isu-isu gender serta ateisme dan sejenisnya lumayan menarik untuk dibahas. Untuk musik misalnya, saya sedang mendengarkan Homicide dan Eyefeelsix, di situ banyak kosakata yang nggak saya mengerti dan bisa dilanjut ke bedah lirik. Terlebih musisi yang saya sebutkan tadi banyak naruh istilah-istilah filsafat di lagunya, jadi ya menarik aja untuk di bahas. Isu gender misalnya, saya punya beberapa teman cewek yang ternyata selain suka cowok, mereka doyan sesama cewek juga. Atau sebutannya, biseks. Ada teman cowok yang doyannya cuma sama cowok. Gay. Menarik untuk diamati gejala dan penyebabnya serta memahami dan memposisikan diri bila seandainya saya berada di posisi mereka, sedikit banyak mencoba berempati dengan mereka. BDSM, saya kenal beberapa mistress yang you-know-whatlah seperti apa selera seks mereka. Ateisme dan sejenisnya, saya berteman dengan beberapa anggota Indonesian Atheist (IA), berbincang dan bertukar pikiran dengan mereka. Dengan semua itu semakin memperkaya pandangan dan pemahaman saya akan hidup, memperkecil ego untuk main hakim sendiri seperti kelakuan ngehe ormas-ormas (yang konon katanya) agamis.
    19. Nge-rap sebrutal Sarkasz (Ex-Homicide) namun tetap dengan muka sekalem Andri Lemes (Ex-rumahsakit).
    20. For everyone who reads this, I have no protips to say. But I’ll quote a phrase from my favorite writer: “Because we were the enemies of every material domination and of every spiritual levelling. Because we saw, beyond every slavery and every dogma, the Life dancing free and naked.” – Renzo Novatore

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s