Iman

8950-Faith

Sebenarnya sudah lama mau menulis soal ini, tapi baru ingat sekarang setelah tadi ada salah satu teman blogger yang berkomentar di tulisan lama yang aku posting sewaktu Paskah tahun lalu. Jujur saja tulisannya itu memalukan sekali untuk dibaca, sudah jangan dibahas, hahaha… Tahun lalu, aku sempat mengalami semacam krisis iman yang puncaknya adalah ketika perayaan Paskah. Untungnya sudah melewati masa-masa labil itu dan sekarang meskipun tidak alim-alim amat, setidaknya aku sudah bisa memiliki prinsip iman sendiri.

Aku bukanlah tipe orang yang terlalu membesar-besarkan masalah agama, karena topik tersebut tidak pernah berakhir dengan indah dan damai kalau didiskusikan di negara kita tercinta ini. Kamu pasti tahu dan sering melihat (kalau saja kamu tidak pura-pura buta), betapa mudahnya masyarakat kita ini bertransformasi menjadi ahli agama ketika membicarakan topik di atas, yang mana malah berujung anarkis dan mencela agama orang lain. Padahal sebelumnya mengaku religius. Lha kok orang beragama lain disamakan dengan binatang, bahkan kadang Tuhan juga dicela-cela. Bagaimana orang yang melihat tidak mempertanyakan kereligiusanmu?

Dulu, aku selalu bangga (bahkan mungkin terlampau bangga) dengan slogan “I’m 100% Catholic, 100% Indonesia.” yang beberapa tahun lalu sempat cukup viral di kalangan kami sebagai umat Katolik, sampai dicetak di atas kaos segala. Itu dulu. Sekarang tidak.

Apakah berarti sekarang aku tidak bangga sebagai seorang penganut agama Katolik? Jangan-jangan Rani sudah jadi kafir, nih. Sekarang, aku bangga ketika aku bisa berkata “Aku orang beriman.” ketimbang “Aku orang beragama.“. Ada bedanya, lho. Menurutku, orang beriman sudah pasti beragama, namun orang beragama belum tentu beriman.

Suatu waktu aku pernah cekcok dengan teman sekelasku—laki-laki. Tidak perlu kuceritakan karena nanti bertele-tele, intinya dia itu belum bisa move on dari mantannya yang kebetulan teman dekatku. Mantannya itu kebetulan memang anaknya bisa dibilang masih lugu, pun dia kurang pandai berkomunikasi dan menyuarakan opininya. Pokoknya berbanding terbalik denganku yang cerewet, vokal, dan sudah banyak noda dosanya, hehehe… Terus teman laki-laki ini dia mengataiku macam-macam, dia bilang aku ini mempengaruhi mantannya lah, jahat lah, kejam lah, menusuk dari belakang, dan lain sebagainya.

Aku tidak masalah ketika orang mencelaku seperti itu, toh aku ini manusia biasa. Dosaku banyak. Kekuranganku tidak hanya satu-dua. Aku selalu berusaha tampil apa adanya, tanpa berusaha menutupi kekuranganku, karena aku punya prinsip “No matter how good you are, people will always look for your negative sides to insult you.”. Orang seperti Bunda Teresa atau Mahatma Gandhi yang hatinya terbuat dari emas pun pasti banyak yang mencela dan tidak suka.

Yang menjadi masalah adalah ketika temanku ini mulai berkata,”Sampai kapan kamu mau begini? Kamu tidak takut sama Tuhan?“. Aku menanggapinya dengan seloroh,”Sudahlah, aku mau berdosa dan membusuk di neraka aku pula yang disiksa, jangan bicara soal Tuhan sama aku.“. Kemudian aku menambahkan,”Kamu lihatlah dulu dirimu sendiri kalau mau jadi ahli agama. Memangnya aku tidak tahu kamu kalau misa di gereja waktu khotbah kamu pakai buat mainan ponsel?“. Yang terakhir itu memang benar karena dulu dia pernah chat aku ketika dia sedang misa, pernah juga dengan beberapa temanku yang lainnya.

Dia jawab yang terakhir itu dengan marah,”Aku sudah tidak mainan ponsel lagi kalau misa! Jangan sok tahu!“. Belum sempat kutanggapi, dia malah bicara lagi,”Kamu sih tidak kenal Tuhan! Makanya jadi orang jahat! Suka menusuk dari belakang! Mempengaruhi yang polos jadi ikut buruk seperti kamu!“. And seriously, at this point I really lost my shit and got mad as well. Yang membuatku terpancing bukanlah segala makian dia tentang aku yang jahat, aku yang tukang pengaruhi orang, aku yang menusuk, dan lain-lain. Yang benar-benar bikin aku terganggu adalah ketika dia dengan mudahnya mengatai aku tidak kenal Tuhan.

Dude, who are you to judge my relation with God? Kamu saja marah ketika aku tegur tentang kebiasaan lamamu bermain gadget di tengah-tengah perayaan Ekaristi, tetapi kamu malah menghakimi relasi orang lain dengan Tuhan yang bahkan Ibu-Bapak aku saja tidak punya hak untuk hakimi. Pertamanya aku sudah berusaha sabar mendengar semua caci maki dia meski sedikit-banyak menyakitkan. Aku sudah berusaha tidak ikut marah-marah. Aku sudah berusaha pakai bahasa yang halus. Tapi dia mulai kurang ajar rupa-rupanya.

Tidak perlu kulanjutkan kisah soal cekcok kami itu, sekarang hubungan kami sudah membaik. Kami tidak bisa dibilang berteman, tapi juga tidak bermusuhan. Netral-netral saja, layaknya sepasang orang asing yang hanya saling bicara kalau ada perlu.

Inti dari semuanya hanya satu. Kamu, aku, atau siapapun yang merasa bukan Tuhan tidak punya hak untuk menghakimi iman orang lain. Iman bagiku adalah sesuatu yang sangat personal sifatnya. For me, religion isn’t everything but faith is. Buat apa kita patuh terhadap ajaran agama kita tapi melihat umat agama lain yang keluar dari mulut kita sederet celaan menggunakan nama binatang? Buat apa kita berdoa sehari semalam penuh tapi ketika umat agama lain merayakan hari besar agama mereka kita tidak bisa menghormati, sampai dilarang mengucapkan selamat segala?

Aku bukan orang religius. Dan aku pun juga tidak mau disebut orang religius. Mungkin aku akan lebih senang dijuluki ‘faithful person’ ketimbang ‘religious person’. Jujur, untuk sekarang kedewasaan imanku memang belum benar-benar matang. There are times when I feel so down and so lost, though. There are times when I feel so sinful for always insulting and blaming God, saat dimana aku berpikir,”God, do I even deserve Your blessing?“.

But, life goes on, right? I still have a long way to go, enough time to prove to God that I could be one of His faithful children. Iya, cukup dibuktikan di hadapan Tuhan, tidak perlu ke hadapan orang lain. Nanti seiring berjalannya waktu ‘kan mereka akan discover sendiri.

Sudahlah, jangan terlalu panjang-lebar. Nanti dihujat, anak kecil kok banyak gaya, hahaha… Aku menulis ini bukan untuk menggurui atau mempengaruhi orang lain. Ini hanyalah caraku untuk berbagi opini, atau biar mudah anggap saja sebagai curhatan. Feel free to share your own opinion at the comment section, itu juga kalau mau, hehehe

Terakhir, iman memang dianugerahkan oleh Tuhan di dalam setiap orang, tetapi yang memelihara iman tersebut adalah diri sendiri.

Sekian.

.

.

.

-fin

Advertisements

2 thoughts on “Iman

    1. Hi again, Kak! Iyaa abis gara-gara Kak Rafael komen di postingan Paskah-ku yang kemaren itu aku jadi keinget mau nulis ini 😀 Btw thanks koreksinya Kak maafkan perbendaharaan bahasa dan wawasanku yang masih sempit, hehe… Thanks juga udah baca dan berbagi opini ya, Kak ^^

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s