[Ficlet] Prince Charming Material

scott-eastwood-spread

.

.

.

“Snapback and tattoos?

No, Honey.

Nice suit and good job.”

.

.

.

“…and the way he kissed me makes my knees go weak and sending shiver down to my spine, oh my God.”

“…recently he just made a tattoo with my name. It was inked on his left chest. And recently, it was also my favorite place to pepper with kisses.”

“…to be very very very honest, he looks so hot when he wears that snapback I got him on his 18th birthday and sleeveless tee that shows off his tattoos while smoking his cigarette.”

“…I really love him.”

Aku mengulum senyum geli mendengar celotehan gadis muda yang duduk tak jauh dari tempatku menikmati secangkir caramel macchiato dingin sembari menekuni salah satu novel karya Haruki Murakami yang tak kunjung usai kubaca sebulan terakhir ini. Dua temannya yang lain tampak begitu terkesima mendengar kisah ‘kekasihku-yang-seksi-dengan-tato-dan-aura-berandalannya’ milik gadis tersebut.

Anak muda, begitu komentarku dalam hati. Gadis itu tak ada bedanya dengan teman-teman perempuan semasa aku masih SMA dulu. Sekumpulan gadis-gadis muda yang terlalu banyak membaca fiksi penjual mimpi dan mengidamkan sosok Prince Charming dalam diri seorang laki-laki berandalan. Dasar sinting. Mana ada pangeran memakai pakaian sobek-sobek, bertato, dan merokok? Pangeran jidatmu itu.

Entah apakah aku yang tidak normal atau dewasa lebih cepat, semasa muda aku tak pernah sekalipun berandai-andai memiliki kekasih bad boy seperti halnya teman-temanku. Tak jarang ledekan,‘Jangan-jangan selera lo om-om ya?’ dilontarkan kepadaku, yang aku tanggapi dengan bahu terangkat tanda peduli setan.

Aku menatap secangkir espresso panas di atas mejaku yang sedari tadi tidak disentuh hingga nyaris kehabisan kepulan uap putihnya. Tentu saja aku tidak bisa menyentuhnya, secangkir kopi itu ada yang punya meski tengah menganggur.

“Hei, apakah aku terlalu lama?” sebuah suara bariton yang lembut membuyarkan lamunanku, membuatku lantas menoleh dan mengulas senyum tipis sembari menggelengkan kepala.

“Tidak, macet di jalan?” tanyaku.

“Tidak juga, macet di kantor,” candanya, duduk di hadapanku dan menatap sekilas secangkir espresso itu, namun kemudian mengangkat wajah dan menatapku. “Buatku?”

“Iya,” jawabku. “Sudah hampir dingin sepertinya.”

“Tidak apa-apa,” ia menyeruputnya sedikit dan mendesah tatkala merasakan cairan pekat itu turun melalui kerongkongannya dan menyisakan jejak pahit di atas permukaan lidahnya. “Bagaimana hari ini?”

“Baik.”

“Hanya baik?”

“Sepertinya begitu. Bagaimana denganmu?”

“Baik juga. Klienku saja yang sedikit menyebalkan.”

Oh, ya?”

“Iya, tapi nanti kuceritakan di rumah saja. Aku ‘kan ke sini untuk minum kopi dan bersantai sejenak denganmu.”

“Terserah kamu saja.”

“Tadi ke sini naik apa?”

“Sama temanku, tapi ia langsung pulang.”

Oh, ya sudah. Masih belum selesai juga baca novel itu?”

“Belum, sibuk terus.”

“Kalau aku sudah ada di sini, masih mau lanjut baca?”

Hahaha, tidak, lah!”

“Tidak apa-apa kalau mau lanjut baca.”

“Tidak mau, aku mau berbicara denganmu.”

“Tentang apa?”

“Apa saja.”

“Kamu harus memberiku topik.”

“Baiklah,” aku tersenyum miring, membuat gestur agar ia menaruh atensinya sejenak pada tiga orang gadis muda yang masih berceloteh. “Salah satu dari mereka tadi bercerita tentang pacarnya.”

“Kamu menguping?” ia bertanya.

“Iya, hehehe… Habis lucu, sih,” jawabku jujur. “Pacarnya bad boy. Keren katanya.”

“Keren bagaimana?”

“Ya, punya tato, pakai snapback, merokok… Begitulah.”

“Terus?”

“Lucu saja.”

Ah, wajar bagi mereka. Masih muda. Seleranya masih yang sama-sama belum dewasa.”

“Dulu aku tidak begitu, lho.”

Oh, ya? Lalu seleramu yang bagaimana?”

“Yang seperti kamu.”

Ia terkekeh pelan, tapi aku tahu sebenarnya ia tersipu. Aku kembali berucap,”Why choose a bad boy if you could get a nice guy?”

And was I nice enough, Wifey?”

More than nice!”

Thanks, Princess.”

Aku menunjukkan ekspresi jijik yang dibuat-buat mendengar nama panggilan yang ia berikan padaku. Dasar gombal. Dirinya hanya tertawa geli melihat wajahku, kemudian meminum lagi kopinya. “Ayo pulang.”

“Kenapa buru-buru?”

“Aku mau segera menghabiskan malam akhir pekan bersamamu di rumah. Berdua saja dalam kesunyian.”

“Sok puitis.”

“Tapi kamu cinta?”

Aku memutar bola mata mendengarnya. Kalau kau masih bertanya-tanya, beginilah Prince Charming dalam versiku. Bukan laki-laki berpakaian sobek-sobek dengan sumpah serapah disablon di atas kausnya, melainkan pria berkemeja rapi dengan dasi dan jas. Pria yang menyeruput kopi, bukan menenggak bir. Pria dengan pekerjaan tetap dan mapan, bukan menggila di klub malam.

Dulu, teman-temanku mencemooh. Katanya aku aneh karena tidak memiliki selera yang sama dengan mereka. Andai saja sekarang mereka melihatku, masihkah mereka mencemoohku? Atau mungkin melirik iri?

.

.

.

-fin

Notes :

Let’s be honest here. Jujur aku sendiri juga suka baper liat cowo bad boy. Hehe, maklum ABG labil. But never crossed my mind untuk punya pacar bad boy. Okelah most of them enak dipandang, but they’re not my type. Bukannya aku suka cowo yang kaku, workaholic, gitu. But I would appreciate a mature guy with intelligence, wisdom, and manner much more.

Btw yang kupake gambarnya adalah Scott Eastwood well he’s smoking hot in suits walaupun kayaknya sebenernya dia juga typical bad boy tukang mabok kalo dilihat di Snapchat sama Instagram-nya Idk juga sih aku kan sok tahu XD

Sekian.

P.S. : Nggak nyambung, sih… Tapi dibaca sambil dengerin lagu Trevor Wesley yang ‘Chivalry is Dead’ oke loh XD

Advertisements

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s