Cinta yang Tulus

tumblr_l9txxsuxtu1qbs8umo1_r1_500

Hari ini, guru Kepangudiluhuran (atau sebut saja guru BK, sebenarnya sama saja, kok) berbicara tentang cinta yang tulus di kelasku. Yang ditanya, terutama adalah teman-temanku yang sudah berpacaran. Apa, sih artinya cinta yang tulus itu?

Kebetulan aku tidak ditanya, karena aku tidak punya pacar dan kalaupun ditanya, aku juga tidak yakin bisa menjawab. Sederhana saja. Aku tidak bisa mencintai seseorang dengan tulus.

Jujur, mencintai dengan tulus itu sulit. Setahuku, mencintai dengan tulus itu artinya kita menerima apa adanya, bangga akan kelebihannya, dan memaklumi (bahkan mungkin berusaha memperbaiki) kekurangannya. Selalu ada di sampingnya saat susah maupun senang. Dan cinta tulus itu tidak hanya sebatas antara dua insan yang tengah dimabuk cinta monyet layaknya sembilan orang teman sekelasku yang ditanya oleh guruku tadi.

Aku hanya tahu dua cinta tulus.

Satu, cinta Yesus kepadaku. Tak peduli berapa banyak dan berapa besar dosa yang kuperbuat, tak peduli bahwa kadang aku suka malas berdoa dan menyambangi gereja, tak peduli bahwa kadang aku lupa menjadikan-Nya sebagai teladan maupun sandaran hidup. Ia mencintaiku dan segenap umat manusia yang lain. Kalau saja dulu Yesus menganggap kami hanyalah segerombol manusia bajingan dengan kelakuan biadab, maka Dia takkan sudi mati di kayu salib.

Kedua, cinta orangtuaku. Yang ini lebih sering lagi terlupakan, mungkin kamu juga. Benar kata temanku, kalau cinta yang tulus itu seringkali malah disia-siakan dan tidak dianggap. Ah, jadi merasa brengsek aku. Orangtuaku mencintai aku dengan tulus, mendoakan aku setiap malam, berharap suatu hari nanti aku menjadi orang yang sukses dan dapat menggapai apa yang selama ini menjadi anganku. Bahkan kalaupun aku sudah sukses nantinya, mereka tidak berharap akan kumanjakan dengan harta buah kesuksesanku. Mereka hanya berharap satu, kemanapun aku melangkah, aku selalu ingat jalan pulang ke rumah, tempat dimana mereka akan selalu menunggu kehadiranku dengan tangan terbuka.

Sulit bagiku mencintai seseorang dengan tulus. Tanpa pamrih, tanpa egoisme, tanpa banyak menuntut… Aku tidak tahu sampai kapan aku akan seperti ini. Mungkin seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia serta kematangan pola pikir.

Tapi, daripada repot-repot mencari definisi cinta tulus dengan kata-kata yang terlampau muluk dan bertele-tele, aku belajar tentang cinta yang tulus dari seorang anak kecil yang memelihara seekor anjing. Anak itu berkata,”Cinta tulus adalah ketika kamu pulang ke rumah dan anjingmu menyambutmu dengan gembira, melompat dan mengikutimu kesana-kemari, kendati sebelumnya kamu telah meninggalkannya sendirian di rumah dalam waktu yang cukup lama.”.

.

.

.

-fin

Notes :

Sekedar pemikiran random di malam Minggu.

Advertisements

6 thoughts on “Cinta yang Tulus

  1. Raniii aku pengin nangis baca ini :”” apalagi waktu bagian orangtua, dan memang benar adanya orangtua nggak pernah nuntut banyak dari anaknya meski mereka udah banyak banget mengorbankan plus melakukan hal besar untuk ngebuat anaknya jadi seseorang yang hebat. Terus, ya ampun penutupnya sangat heuuung :'” Nulis lagi dong Ran yang begini, aku tunggu yaa! Semangaat ❤

    1. Hehehehe ini sebenernya random thought doang loh glad you like it ^^
      Iya aku juga kadang malu sendiri karena belum bisa banggain ortu, malah kadang marah-marah mulu sama ortu.
      Makasih sudah baca, like, sama komen, Shia ^^

    1. Halo! Terimakasih sudah berkomentar sebelumnya ya ^^
      Kalo menurutku sih definisi itu cuma mempengaruhi cara pandang dan pola pikir kita aja. Jadi misalnya kita melihat banyak definisi tentang cinta tulus, paling kita cuma “oh jadi kira-kira cinta tulus itu yang seperti ini”. Beda bila kita udah ngalamin yang namanya mencintai dengan tulus, kita akan jadi tau gimana rasanya mencintai dengan tulus.
      Contoh aja kayak seorang wanita yang jadi ibu untuk pertama kalinya. Sebelumnya dia pasti sudah tau banyak definisi cinta tulus, tapi setelah dia punya anak dia baru akan bener-bener paham rasanya mencintai dengan tulus itu kayak gimana.
      Kira-kira begitu pendapatku 😀

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s