[Ficlet] Jeons’s Pillow Talk

tumblr_nge8qmlphp1qzlu7po1_500

.

.

.

“I miss the times when he told me ‘good night’.”

.

.

.

“Jadi, akhirnya kalian putus juga?” tanya Jungkook, nada bicaranya terdengar mengejek.

“Iya, kau senang sekali sepertinya,” sahut Moran, menarik ikat rambutnya dan menyisir rambutnya yang terurai.

“Berapa lama?”

“Cuma dua bulan.”

“Hah, lame,” cibir Jungkook.

Says someone who’s been single since he was fifteen,” timpal Moran tak kalah sarkastik. Malas-malasan, ia merebahkan tubuhnya yang terasa lelah di atas ranjang, di samping kakak laki-lakinya yang sudah terlebih dulu berbaring di sana.

“Kau sungguh-sungguh mau tidur di sini, ya?” tanya Moran. “Kembali ke kamarmu sana. Aku tidak suka bau keringatmu.”

“Aku sedang tidak berkeringat, tahu?” dengus Jungkook. “Sekali-kali. Sehabis liburan aku sudah kembali lagi ke Seoul. Kau tidak merindukanku sama sekali, ya?”

“Tidak, terimakasih,” jawab Moran cepat, walaupun jujur saja, selama kakaknya berada di Seoul untuk kuliah, terkadang gadis yang lebih muda setahun itu merasa kesepian. Ia tidak punya seseorang yang bisa ia paksa untuk mentraktirnya makanan cepat saji atau menemaninya jalan-jalan kurang kerjaan di malam akhir pekan. Sehari tanpa menendang bokong Jungkook yang terlalu lama berdiri di depan pintu kulkas yang terbuka, atau menyumpahinya karena terlalu lama memakai kamar mandi terasa janggal.

“Yakin? Kau tidak merindukan bau keringatku?” goda Jungkook, mengangkat tangan kirinya dan mendekatkan ketiaknya pada wajah Moran. Gadis itu menjerit jijik saat ujung hidungnya bersentuhan dengan rambut¬†ketiak Jungkook.

“Kapan sih kau bisa bersikap normal dan tidak jorok?!” protes Moran, mengusap-usap kasar wajahnya dengan ujung selimut. Memang sih, ketiak Jungkook tidak sedang dalam keadaan menyebar aroma tidak sedap serta basah oleh keringat seperti biasanya ketika ia baru pulang dari gym atau selepas bermain basket bersama teman-temannya. Tapi tetap saja, itu menjijikkan buat Moran.

Jungkook hanya terkekeh puas. Kebiasaan lama memang sulit diubah. Sejak mereka masih kecil, Jungkook paling suka ‘menyiksa’ Moran dengan cara memiting gadis itu dan menjepit wajahnya di antara ketiaknya. Tipikal guyonan menjijikan ala anak laki-laki.

“Ceritakan padaku kenapa kalian bisa putus,” ucap Jungkook tiba-tiba, menggaruk ketiaknya dengan cuek.

Moran mendesis jijik, namun memilih untuk tak berkomentar daripada ia harus mendapat ‘serangan ketiak’ lagi dari kakak paling jorok di dunia, Jeon Jungkook. “Entahlah, bosan?”

“Jawaban yang sudah bisa diduga dari mulut seorang gadis berusia tujuh belas tahun.”

“Halah, kau juga memberikanku jawaban yang sama saat kau putus dengan mantanmu dulu.”

“Tapi waktu itu ‘kan aku masih SMP. Oke, jadi yang bosan kau apa mantanmu?”

“Aku.”

“Lalu bagaimana caramu memutuskan hubungan kalian?”

“Aku berbohong.”

“Maksudnya?”

“Janji jangan tertawa, ya?”

“Tergantung.”

“Sebenarnya ia baik, hanya saja ia membosankan. Garing. Jadi aku bingung mencari alasan untuk putus.¬†Aku bilang aku punya penyakit jiwa, eumm… Aku bilang aku sakit bipolar, makanya aku memilih untuk putus karena kondisiku sedang labil. ”

“………….”

“Kook, kau belum tidur, ‘kan?”

“Alasan macam apa itu, Jeon Moran?”

“Entahlah, sepertinya aku terlalu banyak menonton drama.”

“Kau benar-benar punya penyakit jiwa sepertinya.”

“Kurasa juga begitu.”

“Eeww, aku tidak mau dekat-dekat denganmu,” Jungkook bergeser sambil memasang ekspresi seolah-olah Moran sakit kusta.

“Tak perlu jaga jarak, kau sendiri juga sudah gila dari sananya,” Moran memutar bola mata. Gadis itu menatap langit-langit kamarnya untuk beberapa saat, kemudian menoleh ke arah Jungkook yang tampaknya sedang melakukan hal yang sama.

“Tahu, tidak? Aku jadi rindu saat-saat dimana dirinya selalu mengucapkan ‘selamat malam’.”

“Ah, basi,” cibir Jungkook. “Buat apa merindukan ucapan ‘selamat malam’ darinya? Aku bisa mengucapkan ‘selamat malam’ padamu seribu kali.”

“Konteksnya berbeda, Bodoh.”

“Sama saja. Selain itu, kau juga bisa mendapat pelukan gratis dariku.”

“Yang itu, sih… Aku tidak butuh.”

“Kau suka atau tidak, sejak kecil ‘kan aku memang selalu refleks memelukmu setiap kali kita tidur bersama.”

“Sebaiknya kau hilangkan kebiasaan itu.”

“Tidak mau~” Jungkook mengerling usil, melayangkan satu tangannya untuk mendekap Moran. “Ah, I miss my Moran Bear~”

“Cepatlah dewasa dan cari pacar yang bisa kau peluk setiap hari,” dengus Moran. “Oh, ya, Kook. Kau melupakan satu fakta penting. Selain selalu refleks memelukku, kau juga suka ngiler di rambutku.”

Sayang, sepertinya Jungkook tak berniat untuk mengganti posisinya sekarang. Moran cuma bisa menghela nafas lelah, menyiapkan mental untuk bangun dengan rambut lengket penuh air liur Jungkook besok pagi.

“Good night, Moran.”

“Oh? Okay, good night, Butthead.”

.

.

.

-fin

Notes :

Debuting another siblings pair, Jeon Siblings!!

Idk why but every time I see Jungkook aku selalu ngelihat figur kakak laki-laki yang jorok, iseng, sengak, tapi ngangenin XD

Hope ya enjoy ^^

Advertisements

2 thoughts on “[Ficlet] Jeons’s Pillow Talk

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s