[Ficlet] Moondance

tumblr_nw11n1MaqX1s0cy3ao1_1280

credit picture to dlazaru.tumblr.com

.

.

.

“He got mesmerizing eyes, I can’t handle to look at.”

.

.

.

Kyungrin tidak terlalu menyukai ini. Pesta perayaan pergantian tahun yang diadakan oleh salah satu kolega ayahnya. Masalahnya hanya ada dua. Satu, Kyungrin tidak menyukai pesta dan hal-hal yang berbau hura-hura tidak berguna. Dua, kalaupun terpaksa, Kyungrin akan lebih menyukai pesta tahun baru yang dirayakan di bumi perkemahan, menunggu pergantian tahun sembari memandang langit bertabur bintang dan berdiang mengelilingi api unggun.

Ia tidak seperti Kyungsoo, kakak laki-lakinya yang mudah menyesuaikan diri. Lihat saja, pria yang lebih tua tiga tahun darinya itu tampak berbaur dengan para kolega dan relasi ayahnya, membicarakan perihal ini-itu dengan akrab. Ibunya sudah menghilang entah kemana, mungkin menggosip dengan para wanita kaum jetset lainnya.

Masih pukul sembilan. Yang tertulis di undangan, pesta berakhir pukul satu dini hari. Gila, Kyungrin tidak yakin ia bisa bertahan dalam kejenuhan ini selama empat jam ke depan.

Sejauh mata memandang, Kyungrin tidak melihat presensi muda-mudi sebayanya, selain Kyungsoo tentu saja. Gadis itu tidak mungkin bergabung dalam percakapan rumit para pria pebisnis yang tengah membicarakan- Entahlah, sesuatu tentang kebijakan moneter atau apa. Ia juga tidak mungkin bergabung dalam gerombolan wanita berpakaian anggun dengan berbagai macam perhiasan itu, yang tampaknya sedang menggosip.

Kyungrin sedang menyesap anggurnya ketika terdengar sebuah suara deheman yang cukup berat, disertai suara kursi berkaki panjang yang diseret.

“Sendirian?”

Kyungrin menoleh, nyaris tersedak tatkala mendapati sesosok pemuda berjas duduk di sampingnya, mengulum senyum sambil memutari mulut gelas anggurnya dengan ujung jari telunjuk.

“Tidak juga,” jawab Kyungrin.

“Jung Hoseok,” ucap pemuda itu memperkenalkan diri. Oh, jadi ia putra tuan rumah acara malam ini?

“Do Kyungrin,” ujar Kyungrin, menyambut uluran tangan Hoseok yang terasa hangat, sesuatu yang agak mustahil mengingat suhu udara semakin turun dari hari ke hari.

“Oh, jadi kamu adiknya Do Kyungsoo?”

“Iya.”

Pemuda itu manggut-manggut. “Kalian nggak mirip.”

“Banyak orang bilang begitu,” jawab Kyungrin. Aneh rasanya mengobrol secara informal dengan seorang laki-laki yang baru dikenalnya lima menit terakhir.

“Kenapa kamu sendirian di sini?” tanya Hoseok lagi.

Kyungrin ingin menjawab jujur, namun takut kalau ia malah menyinggung perasaan Hoseok sebagai tuan rumah. “Aku cuma sedang lihat-lihat, siapa tahu ketemu teman sebaya yang bisa diajak mengobrol.”

“Sekarang sudah ketemu, ‘kan?” tanya Hoseok sembari tersenyum.

Oh, senyumnya… Demi apapun, baru kali ini Kyungrin melihat senyum seindah milik Hoseok.

“Omong-omong, aku suka gaunmu,” puji Hoseok, membuat semburat merah muda di kedua pipi Kyungrin makin menjadi-jadi. “Bukan cuma gaunnya, kamu juga cantik.”

Sial, sial, sial. Kyungrin memang mengharapkan kehadiran seseorang yang bisa diajak mengobrol, bukan seseorang yang bikin baper.

“Terimakasih,” tadinya Kyungrin mau membalas ‘jasmu bagus’, tapi sejemang kemudian ia berpikir kalau itu bakal terdengar konyol. Ia hanya tersenyum tipis, senyumnya terasa semakin kaku saat ia bertemu mata cukup lama dengan Jung Hoseok.

Ia punya senyuman dan mata yang indah, poin plus untuk Jung Hoseok.

Gadis itu meminum habis anggurnya, tak acuh dengan kerongkongannya yang kini rasanya seperti dibakar. Diliriknya Hoseok yang tampak melempar pandangan ke sekeliling ruangan, sebelum kembali mengalihkan perhatian pada Kyungrin.

“Sudah makan?” tanya Hoseok, dibalas anggukan dari Kyungrin. “Menu malam ini enak nggak? Aku yang pilih semuanya, lho!”

“Enak, kok,” jawab Kyungrin jujur. Kalau saja tadi ia kalap, ia bisa tambah sampai tiga porsi. “Terimakasih, ya.”

“Eh? Buat apa?”

“Nggak tahu, karena sudah pilih menu yang enak?”

Pemuda itu terkekeh geli, suaranya terdengar seperti lonceng Natal yang merdu di telinga Kyungrin. “Kamu lucu, ya?”

Kyungrin mencoba untuk tak menggubris, memperhatikan penyanyi paruh baya di panggung yang siap menyanyikan salah satu lagu jazz populer. Moondance. Kyungrin beberapa kali mendengar Kyungsoo memutar lagu ini di kamarnya.

“Mau dansa?” tawar Hoseok, mengendikkan dagu ke arah beberapa pasangan yang mulai berdansa perlahan di tengah ruangan.

“Apa?” Kyungrin membelalakkan mata, terkejut. “Uh- Apa nggak aneh? Nanti kita jadi yang paling muda di sana.”

“Nggak apa-apa, dong! Sekali-kali aja, kok!” Hoseok tersenyum timpang. “Kamu sudah punya pacar, ya makanya menolak ajakanku?”

“Ap- Nggak, kok!” sanggah Kyungrin buru-buru. “Aku cuma- Aku nggak pernah dansa.”

Jadi aku nggak mau mempermalukan diriku sendiri dengan terserempet ujung gaunku atau menginjak kakimu dengan tumit sepatu hak tinggiku, lanjut Kyungrin dalam hati.

“Santai aja, deh~ Aku juga belum pernah dansa pasang-pasangan, cuma pernah lihat sama belajar teknik-tekniknya,” sahut Hoseok. “Daripada kamu cuma duduk-duduk nggak jelas di sini, kamu nggak bosen apa?”

“Iya, deh,” Kyungrin mengiyakan, dengan ragu-ragu menerima uluran tangan Hoseok yang membantunya turun dari kursi berkaki panjang yang sedari tadi ia duduki, semata-mata agar ia tidak sampai tersandung gaunnya sendiri.

Perlahan, tubuh mereka bergerak mengikuti irama. Ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, kemudian kembali lagi ke kanan… Sesekali Hoseok mengangkat tangan kanan Kyungrin dan membiarkan gadis itu berputar.

Kyungrin menengadah. Ruangan yang digunakan memiliki atap terbuat dari kaca, jadi ia bisa melihat dengan jelas langit malam itu, meski terlihat sepi. Tidak ada bulan, seperti pada lirik lagu pengiring dansa mereka.

“Sayang, ya nggak ada bintang,” ucap Hoseok yang turut menatap langit. “Apa bintangnya pada malu karena mereka nggak secantik kamu?”

“Jangan gombal, dong!” kali ini Kyungrin berhasil bersuara, setelah sedari tadi hanya bisa diam dengan wajah merona setiap kali Hoseok memujinya.

“Kok gombal, sih? Aku jujur, tahu!” kekeh Hoseok geli. “Kamu lucu banget, nggak seperti Kyungsoo. Galak.”

“Aku malu, Kak.”

“Jangan panggil ‘kak’. Aku cuma setahun lebih muda dari kakakmu.”

“Tapi kamu tetap dua tahun lebih tua dariku, ‘kan?”

“Pokoknya jangan panggil ‘kak’.”

“Kenapa?”

“Rasanya kayak terjebak di sibling-zone,” Hoseok menyeringai iseng, membuat Kyungrin refleks memukul bahunya.

“Hehehe, maaf, frontal banget, ya?” tanya Hoseok. “Kamu tersinggung?”

“Nggak juga, sih… Cuma malu itu aja,” gumam Kyungrin sembari menunduk, entah mengapa mendadak tidak berani bertatap mata dengan Hoseok. Bukan hanya caranya tersenyum, cara Hoseok menatapnya membuatnya nyaris mati gaya.

Kyungrin melirik jam dinding sekilas. Nyaris pukul sepuluh, tapi ia tidak lagi khawatir dilanda kebosanan. Ada Hoseok menemaninya di sini.

Lagu yang dinyanyikan telah sampai pada bait terakhir. Hoseok menggenggam tangan Kyungrin dengan seulas senyum menghiasi wajahnya.

“Kyungrin,” panggilnya. “Semoga kita nggak cuma ngobrol malam ini saja, ya?”

“M-maksudnya?”

“Aku boleh minta nomormu, ‘kan?”

.

.

.

-fin

Notes :

MAAF HAHAHAHAH THIS IS SUCK AKU GABISA NULIS FANFIC YANG BERBAU-BAU BANGSAWAN DAN TETEK BENGEKNYA MAKLUM RAKYAT JELATA 😄

Aku jarang banget nulis fanfic buat Hobi so… Enjoy my (literally suck) J-Hope’s fiction ^^

Advertisements

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s