25 Carols to A Winter Wonderland – White Christmas

.a-christmas-carol-book-charles-dickens-christmas-winter-Favim.com-174007

.

.

“May your days be merry and bright,

and may all your Christmas is be white.”

.

.

.

Recommended song : Michael Buble – White Christmas

Melihatnya lagi setelah sekian lama tak bersua memang bikin baper. Perasaan campur aduk dan bercokol di hati, sulit diuraikan satu persatu. Ada rasa senang karena melihatnya baik-baik saja, rasa rindu ingin bertanya apa kabarnya sekarang, rasa sakit kalau mengingat masa-masa indah yang pernah kita ukir di hari-hari yang telah berlalu, rasa gengsi untuk bertanya karena takut dikira belum bisa move on.

Ia memang terlihat baik-baik saja, masih ganteng seperti dulu saat aku pertama kali bertemu dengannya. Rambutnya yang dulu diwarnai cokelat gelap kini kembali berwarna kelam seperti manik matanya, dulu dibiarkan acak-acakan dan mencuat kemana-mana seperti tidak tahu benda bernama ‘sisir’ sekarang rapi jali tapi tetap keren, tidak klimis. Tubuhnya yang dulu tinggi kurus kini agak berisi. Bukan isi lemak, tapi otot. Sudah makmur, sih… Sudah punya uang untuk main ke gym minimal seminggu dua kali.

Yang tak pernah berubah adalah senyumnya. Senyum lebar yang selalu memamerkan susunan giginya yang rapi, seperti model iklan pasta gigi. Senyum yang selalu mencapai kedua mata lebarnya, menciptakan dua buah bulan sabit di sana. Tak lupa, sepasang lesung pipit yang menghiasi pipinya.

Ah, bohong kalau aku bilang tidak merindu. Katanya, tidak ada yang namanya mantan terindah. “Kalau terindah ya harusnya nggak jadi mantan,” itu kata temanku. Lantas kalau tidak ada istilah mantan terindah, harus kusebut apa dirinya yang memang pada kenyataannya, pernah menyumbang kenangan manis dalam sejarah hidupku?

“Hai, Irene! Ya ampun lama nggak ketemu kamu tambah cantik aja!” sebuah suara yang terdengar begitu ceria seketika buyarkan lamunanku. Aku menoleh, mendapati teman lamaku yang memang dari jaman SMA dulu terkenal heboh dan ramai itu berdiri tak jauh dariku.

“Eh, Echa. Biasa aja ah, kayaknya dari dulu muka gue gini-gini aja,” jawabku sembari terkekeh, cipika-cipiki dengan temanku yang bernama Echa ini.

“Nggak, ah! Tambah cantik, hehehe… Apa kabar nih sekarang? Kerja dimana?”

Kemudian obrolan ngalor-ngidul itu berlanjut selama beberapa menit. Suara Echa cempreng, tapi menggelegar sampai kemana-mana. Makanya waktu SMA sering dipanggil ‘juragan gledek’.

Dan mungkin akibat dari betapa membahananya suara Echa itulah, ia jadi menaruh atensi padaku. Dirinya yang semula duduk bersama dengan teman-teman satu geng selama masa SMA-nya lantas berdiri, entah sejak kapan sudah berada tak jauh dariku dan Echa.

“Eh, si Raymond! Cakep, Mond! Sekarang badan lu kayak Agung Herkules roso-roso gini!” sapa Echa sambil menepuk lengan Raymond, disambut tawa renyahnya yang khas. “Ya udah ya, Rene, Mond. Gue nyamperin yang lain dulu, kalian lanjut ngobrol aja, daahh~”

Ah, sialan. Echa memang kurang ajar. Dulu waktu aku pacaran dengan Raymond dia memang paling suka ngecengin kami berdua. Sekarang sudah jadi mantan juga masih dikerjai.

Hening selama beberapa detik terasa seperti berjam-jam. Rasanya ingin kabur dari hadapannya, tapi juga ingin menyapa. Lidahku terasa kelu, serentetan kata-kata yang sudah berkumpul di ujung lidah tak terucap barang satu kata pun.

“Uhh…”

“Apa kabar, Rene?” mengakhiri keheningan yang canggung ini, dia memilih untuk menyapaku terlebih dulu. Suaranya terdengar akrab, tapi dari gesturnya bisa kulihat kalau ia merasakan hal yang sama denganku. Canggung. Mati gaya.

“Baik, lo sendiri?” aku balik bertanya. Aneh rasanya berusaha mengobrol dengan akrab dan santai bersamanya.

“Baik juga, katanya lo mau S2 di Paris ya tahun depan?”

“Iya, gue dapet beasiswa.”

“Oh, pinter dong. Congrats…”

Thanks, lo juga sekarang udah jadi deputy director di tempat lo kerja.”

“Iya, hehehe… Berangkat kapan, Rene?”

“Belum tahu juga. Kuliahnya mulai September tahun depan. Mungkin gue berangkat pas di sana summer break kali, ya? Biar gue punya waktu buat jalan-jalan sama adaptasi.”

Hening lagi. Mengapa sih di tengah-tengah acara reuni yang gegap gempita dan ramai ini, cuma kita berdua yang terjebak dalam atmosfer penuh rasa canggung?

“Sendirian?” tanyaku, sekedar basa-basi. Tapi kemudian menyesal. Apakah itu pertanyaan yang pantas untuk kutanyakan pada mantan-

“Iya, nih… Nggak ada yang mau sama gue, hahaha…” jawabnya.

-lah? Maksudku ‘kan aku bertanya dia datang sendirian atau ada barengannya, bukan menanyakan statusnya sekarang. Lagipula, masa’ orang setampan dan semapan dia masih lajang? Ha, wanita zaman sekarang memang tambah ngelunjak. Ada yang cakep tidak kunjung dilirik, malah sibuk mencari yang lebih sempurna.

“Lo pasti udah taken, ya? Lo udah pinter, sukses, baik…” volume suaranya makin mengecil, seiring dengan seulas senyum usil yang menghiasi wajah tampannya. “…cantik lagi.”

Oh, masih jago bikin aku baper rupanya. Aku jadi ingin mengumpat tepat di mukanya. “Nggak, kok. Gue mau fokus kuliah S2 dulu.”

“Prinsip lo dari dulu nggak berubah, ya? Hebat, hebat…”

Ya, aku ingat ucapanku ketika masih SMA dulu. “Gue cenderung ambisius. Pride and career is everything for me. Mungkin ini akan jadi terakhir kalinya gue pacaran, karena setelah itu gue bakal fokus melebarkan sayap gue dulu, baru kalo udah sukses cari pasangan.”

“Lo tau nggak, sih? Prinsip lo tuh nggak pernah bisa gue lupa,” ucapnya lagi. “Makanya sekarang gue bisa sukses di usia muda, karena prinsip lo itu selalu memompa semangat gue untuk jadi orang yang lebih baik dan profesional.”

“Oh, bagus deh…” timpalku, tidak tahu mau bicara apa lagi. “Eh, Ray.”

“Ya?”

“Selamat Natal, ya.”

Aku menggigit bibir bawahku. Terakhir kali aku ucapkan selamat Natal pada Raymond, ya waktu kami masih pacaran dulu. “Have a happy Christmas time.

“Iya, selamat Natal juga,” jawabnya sambil tersenyum. “God bless you, Rene. Salamin buat ibu sama bapak.”

Aduh, nggak janji deh, Ray. Bisa habis aku diledeki mereka. “Iya, makasih ya, Ray.”

Hening lagi, tapi tidak secanggung menit-menit sebelumnya. “Eumm… Gue duluan?”

“Oh, oke, gue juga mau nyamperin temen yang lain,” ujarku. “Makasih ya… Udah-“

-mengobati rasa rinduku. “-ngajak ngobrol.”

“Sama-sama, santai aja, Rene,” sahutnya.

Begitulah konversasi kami berakhir. Rasa yang bercampur aduk di hati mulai terurai satu persatu. Rasa rindu yang terobati, rasa sakit yang sirna, rasa senang yang membuncah, rasa lega bisa mengobrol akrab.

Well, ia memang mantanku. Tapi itu sudah dulu, sepuluh tahun silam. Waktu mengubah segalanya, ‘kan?

.

.

.

-fin

Advertisements

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s