30 Days Blogging Challenge – #Day21 “Causes of Sadness”

30-day-blogging-challenge

Di challenge sebelumnya, gue udah ngebahas soal penyebab kebahagiaan. Dan di challenge ini, gue akan ngebahas kebalikannya.

Apa sih yang bikin gue sedih?

Gue sendiri juga nggak gitu yakin karena jujur gue jarang banget yang namanya sedih sampe yang moping around pundung galau dan sayat nadi pake triplek. Sedih yang paling banter biasanya setelah baca fanfic angst. Yha nggak mutu banget memang.

Karena gue orangnya suka cuek sama perasaan sendiri ahay bahasa gue XD, makanya itu kali gue jarang banget sedih mengharu biru? Gue tipe orang yang kalo udah terjadi ya yaudah kali sekarang gue fokus sama rencana selanjutnya. Ya buat apa gitu lho hal yang udah terlanjur terjadi diurusin melulu? Apa bakal ada yang berubah? Apa nasib kita bakal berubah? Dan kenapa sih gue ngomongnya jadi ngalor-ngidul kemana-mana gini hah?

Mungkin (MUNGKIN YA MUNGKIN) gue bakal sedih dan mental breakdown banget ketika… Gue dipaksa mewujudkan mimpi orang lain. HAHA SEMOGA NGGAK DEH I DIDN’T COME OUT FROM MY MOTHER’S WOMB TO LIVE ANY OTHER’S DREAM KAY //gogoleran

Kenapa gue ngomong gitu? Kalian pasti tahu kan nggak sedikit orang yang memiliki keluarga yang memaksanya untuk menjadi seperti apa yang keluarganya ekspektasikan.

“Papa tuh pengacara, kamu juga harus kuliah hukum, blablabla…”

“Malu dong ibunya dokter gini masa anaknya mau jadi seniman yang nggak jelas nasibnya, blablabla…”

Bukan cuma sekedar skenario yang biasa kita tonton atau kita baca, toh kenyataannya hal seperti itu memang ada dan nyata.

Orangtua gue memang bukan orang yang seperti itu, puji Tuhan suer gue gatau gimana nasib gue sekarang kalo misalkan gue terlahir dengan ortu model begitu. Tapi eyang gue.

Memang sih eyang gue nggak (atau belum?) sampai pada tahap mendikte gue untuk menjadi anu, inu, sesuai ekspektasi mereka. Yang bikin gue males adalah mereka terlalu banyak menaruh ekspektasi pada gue.

“Gimana sih, Ran? Harusnya lo bangga dong! Itu artinya kan lo dianggap pinter sama mereka!”

Iya. Pertamanya sih gue bangga banget. Berarti gue dianggep pinter. Mampu. Bisa. Tapi ada saat-saat dimana ekspektasi itu malah jadi beban.

Eyangti gue bidan pensiunan. Beliau punya rumah bersalin yang kini sudah pindah tangan ke ibu gue (yang sekarang juga bidan). Dan beliau pengen banget gue sama adik gue jadi dokter.

Setiap kali gue diajak omong soal topik itu sih gue iya-iya aja, cuma jawab,”Yaa liat nanti ke depannya gimana, Yang.”

Karena jujur saja, punya minat sama IPA dan tetek bengeknya aja nggak. LOL.

Bahkan sejak kelas 8 gue sudah berencana agar tahun depan (kelas 11) gue masuk IPS aja. Dan kalau Tuhan menghendaki, gue pengen kuliah jurusan komunikasi, bahkan hubungan internasional sekalian karena sejak kecil gue punya mimpi pengen keliling dunia tanpa ngeluarin duit HAHAHA MIMPI YANG NAIF MENJURUS KE ARAH BODOH NGGAK SIH XD

Tapi namanya nasib orang kita nggak tahu ya. Bapak gue dulu kuliah ilmu pemerintahan dan berujung menjadi wirausaha dalam bidang otomotif. Ibu gue dulu kuliah perbankan dan berujung dikuliahin lagi sama eyang gue biar jadi bidan.

Makanya itu, gue punya prinsip,”Mimpi boleh, berencana boleh, mendalami minat yang mendukung mimpi boleh, asal jangan terlalu fanatik ke situ.”. Ya apa nggak bikin potek tiwas gue fanatik banget pengen jadi diplomat tapi ternyata nasib berkata lain?

Gue juga berusaha untuk nggak menolak mentah-mentah ekspektasi eyang gue agar gue jadi dokter. Walaupun sebenarnya minat ke sana sama sekali nggak ada. Gue nggak pengen kualat aja.

Tapi ya tapi, jika seandainya tiga-empat tahun lagi eyang gue mulai “memaksa” gue untuk kuliah kedokteran sementara gue masih saja nggak punya minat ke sana, gue bakal sedih banget haha… Soalnya eyang gue nih tipe yang kalo bapak gue bilang “nek wes duwe karep ya kudu dituruti”. Kalau sudah punya keinginan, orang lain harus menuruti. Satu lagi. Kadang eyang gue juga kurang perhitungan dan nggak berpikir panjang. Nyuruh cucunya ini-itu, tapi nggak berpikir ntar efeknya apa, efek ke orangtua gue apa, dll.

I’m a free soul. Bukan penganut fanatik terhadap prinsip yolo, but I just don’t like to be forced for other people’s satisfaction. I don’t want to live my life as a clown, so I hope that people won’t expect me to impress them.

Gitu aja ya. Daripada kebanyakan curhat.

.

.

.

-fin

Advertisements

One thought on “30 Days Blogging Challenge – #Day21 “Causes of Sadness”

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s