Summer Writing Prompts – Number One for Me

1546440_663415550367009_489331388_n

.

.

.

“No matter how many guys who’ve been important puzzle pieces in my life,

you’re still the number one for me.”

.

.

.

“Ini nggak sekalian dibawa?”

Pria paruh baya itu mengacung-acungkan sebuah album foto berwarna karamel, dibalas dengan gelengan kepala dari seorang wanita muda yang tengah sibuk memasuk-masukkan barangnya ke dalam sebuah kardus. “Disimpan Ayah aja.”

Pria itu manggut-manggut, membuka-buka album tersebut sembari duduk di pinggir ranjang tanpa seprai di dekatnya. Sesekali ia terkekeh tatkala melihat beberapa foto yang tampak lucu di matanya.

“Heran, anak jaman sekarang pada cepet gede, ya?” gumamnya. “Rasanya baru kemarin Ayah gendong-gendong kamu, dengerin kamu ngoceh pakai bahasa planet, tiba-tiba kamu udah punya pria lain dalam hidup kamu yang bisa jagain kamu.”

Wanita muda itu tersenyum simpul. “Iya juga, sih… Kalau dipikir-pikir rasanya juga cepet banget waktu berlalu.”

Rasanya kemarin ia masihlah gadis kecil kebanggaan Ayah. Ayah menjulukinya “little pride“, bahkan setelah adik laki-lakinya lahir sekalipun.

Ayahnya tak pernah mengira anak sulungnya akan terlahir sebagai seorang perempuan. Kalau boleh jujur, ia sendiri takut memiliki anak perempuan. Baginya, menjaga anak perempuan itu sulit. Perempuan rentan terhadap stereotip negatif yang diciptakan oleh masyarakat. Sedikit saja ia berbuat kesalahan, cap buruk akan selalu menempel di dahinya.

Karenanya, Ayah sangat menyayanginya. Ia selalu dimanjakan, namun juga dididik untuk menjadi wanita yang kuat dan mandiri.

“Jadi perempuan jangan mau terus-terusan berlindung di balik bayang-bayang pria. Laki-laki itu gampang belagu. Sedikit saja superior, langsung ngelunjak. Kalau bisa jadi perempuan mandiri, kenapa nggak?” 

Sampai pada hari dimana ia dipasrahkan sepenuhnya pada Adrian, pria yang tempo hari telah mengucap janji di depan altar bahwa ia akan mencintai dirinya dalam suka maupun duka, senang maupun susah, dalam kondisi apapun. Pria yang sama yang telah mengucap janji di depan Ayah untuk selalu menjaga “little pride” kesayangannya.

Hari ini ia datang kembali ke rumah lamanya, membereskan beberapa barang-barang yang akan dipindah ke rumah baru tempat ia dan Adrian akan tinggal dan memulai keluarga baru bersama anak-anak mereka nantinya.

“Josephine, kamu janji ya sama Ayah?” ucap Ayah tiba-tiba. “Walaupun sekarang kamu sudah sepenuhnya jadi tanggung jawab Adrian, kamu… Jangan lupa sama Ayah.”

Pria yang rambutnya didominasi warna putih itu tersenyum. Senyuman sehangat mentari musim semi yang selalu menjadi favorit Josephine. Senyuman yang selalu ingin ia lihat selama ia bisa. Senyuman yang selalu ingin ia ingat bahkan setelah sang empunya telah tiada.

“Ayah memang pelupa, tapi Ayah tidak suka dilupakan.”

“Ah, masa aku lupa sama Ayah?” setengah mati ditahan olehnya agar suaranya tidak bergetar. “Aku nggak mau dikutuk jadi batu.”

Ayahnya menghela nafas, menatap langit-langit (bekas) kamar putri kecilnya yang dihiasi stiker glow in the dark berbentuk bintang dan bulan. “Rumah ini jadi makin sepi aja, deh. Tinggal Ayah sama Ibu. Tahu gitu dulu Ayah nggak kasih ijin Jonathan kuliah di Eropa, ya? Jadi jarang pulang tuh adik kamu.”

“Kenapa Ayah nggak sekalian nggak kasih ijin aku buat nikah?” canda Josephine, membuat ayahnya terkekeh pelan.

Wanita itu menghela nafas panjang seraya mengangkat kardusnya keluar dari kamar. Entah mengapa baru sekarang terasa berat meninggalkan rumah dimana ia menghabiskan separuh hidupnya.

Meninggalkan Ayah.

Sementara Adrian sibuk memasukkan semua kardus barang Josephine ke dalam bagasi mobilnya, ia berjalan mendekati ayahnya yang tengah melamun, menatap setiap foto berpiguranya yang dipajang di dinding dan diletakkan di meja ruang keluarga.

“Yah,” panggilnya. “Aku pamit dulu, ya?”

Pria itu tersenyum, makin banyak guratan keriput di wajahnya. “Ingat pesan Ayah, kan?”

Ia mengangguk, memeluk erat ayahnya, hal yang sama yang selalu ia lakukan di masa kecilnya.

Maybe someday I lose my ability to remember. Maybe someday I can’t remember your name, myself, everything anymore. But I won’t forget that I ever have you, my little pride.

.

.

.

-fin

Notes :

Sebenernya udah lama aku pengen bikin fiksi dad-daughter gini dan TADINYA mau dibikin fanfic Suga soalnya menurutku dia daddy material sangat apalagi kalo anaknya perempuan pasti dia sayang banget haha //terusin aja berkhayal

Ini fiksi udah direvisi sampe basi dari bulan April LOL soalnya pertamanya aku pengen bikin fiksi dad-daughter itu buat bapak yang ulangtahun waktu itu (ya walaupun nggak akan aku tunjukkin ke bapak juga, bisa abis aku diledekin XD).

And even though my dad has two daughters, but he ever said that I will always be his little pride because I’m the first child in the family //cries a river

Although it’s pretty late and I will never let you read this because hell yeah Dad you will tease me to death if you discover this, but I write this fiction especially for you.

Sincerely,

Daddy’s Little Pride.

Advertisements

4 thoughts on “Summer Writing Prompts – Number One for Me

  1. Halo! Readers baru nih :3 Sebut saja Ayu, garis 00.

    WK.WK.WK SAYA MENANGIS INI MAH APA YANG KAMU MASUKAN DALAM KALIMATMU :”””””””””””””””””””””””””””””””)

    Diksinya :”””””””””””””””””””) Alurnya :”””””””””””) Bikin speechless semua :”) Da akumah apa atuh :”) Bukan apa-apa :”) Wahaha, maap ngalay nyepam juga komen nggak penting. Intinya sih keep writing yaa♡ Nice fic, dan saya naksir sama fiksi ini :”)

    xx, Ay

    p.s: kalo misal lines 90-99 aku minta maap ndak sopan gini 😦

    1. Hi there, Ayu!
      Ranee’s speaking here!
      First, welcome to my little crappy blog and I hope you’ll enjoy your time every time you come here ^^
      Second, namaku Ranee (dibaca ‘rani’) dan kebetulan aku juga dari garis ’00 and yeah let’s be friend I don’t bite 😀
      Ah aku mah apa atuh masih belajar dalam dunia tulis-menulis 😀 Fiksi di atas belum apa-apa kalo dibanding sama fiksi author-author lainnya >.<
      Makasih banget ya udah baca, like, dan review!
      Aku lihat kayaknya kamu juga punya blog dan nulis fanfic juga, aku usahain buat mampir dan baca beberapa fanfic kamu, as I said before, maybe we could be friends ^^

  2. KAK RAN…….

    AKU……

    AKU…..

    AKSJAKSJAKSJKAJSKA ASTAGA INI BAGUS BANGETT.

    ini manisss kak raann. bukan manis yang cememew cememew(???) gitu. tapi manis dalam lingkup seorang ayah dan anak heuheu. familnya kerasa bangeett. dan di sini, as i said before, kak ran keliatan lho dewasanya ehe. semacam, udah punya pemikiran sendiri. bukan lagi dalam fase remaja yang labil dan mudah terpengaruh. salut paraah ((take my hat off)).

    khas tinlit sekalii pokoknyaa. slice of life-nya juga kerasa bangeett. apalagi kak rani ngemasnya ringan dan nggak berbelit-belit ehe. eh tapi betewe bukan maksud apa apa lho cuman mau ngingetin nih kak kalo ‘ijin’ bakunya itu ‘izin’, kak raann. ehe eheheheh serius nih cuma pingin bantu doang ;;w;; padahal mah sendirinya juga udiq huvt ;;w;;

    habis baca ini aku tiba-tiba mikir lho…gimana ntar kalo anak-anaknya mama papah udah besar semuaa? bisa nggak kita semua bahagiain mereka, bikin seneng mereka, banggain mereka? heuheuheuu :’)

    nice one kak raaann! keep nulis nulis ketjeh! semangat teruuus! yosh! ❤ ❤ ❤

    1. Dewasa gimana huhuw Hani da aing mah saha atuh hanya seorang gadis remaja ababil yang setengah edan-
      Okedeh makasih koreksinya nanti bakal dibenerin hehe 😀
      Iya aku juga selama ini sering kebayang, apalagi udah mulai SMA, bisa nggak ntar aku jadi kebanggaan dan sumber kebahagiaan ortu //nanges
      Makasih lagi ya Hani udah baca, like, sama review >.<

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s