Summer Writing Prompts – Love is An Open Door

eec9ea824a3e8122486265f20786d17f

.

.

.

“Akhirnya, hari itu gue percaya bahwa cinta adalah pintu yang terbuka. “

.

.

.

Tadinya gue nggak percaya sama yang namanya ‘love is an open door‘. Kata-kata yang pasti familiar banget di telinga kalian, apalagi kalau kalian punya adik perempuan yang saban hari nyanyiin lagu-lagu dari film Frozen seolah-olah dunia bakal kiamat kalau sehari aja dia nggak nyanyiin lagu-lagu tersebut. Hah, itu sih adik gue.

Sebagai seorang remaja imbisil, gue orangnya terbilang realistis kalau dibandingin sama temen-temen sepantaran gue yang nggak lebih waras dari gue. Ya bukan berarti gue nggak pernah berkhayal. Gue cuma belajar berpikir seperti orang dewasa aja, dimana dunia ini nggak bisa kita hadapi dengan khayalan belaka. Harus realistis. Contohnya, realistis bahwa meski kita berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, pria-pria Korea Selatan kesayangan kita semua itu tidak akan pernah menyadari eksistensi kita, kecuali kita jadi sasaeng fans yang hobi mbuntutin mereka kayak nggak ada kegiatan yang lebih berfaedah.

Gue nggak paham lagi kenapa ada juga orang yang mengibaratkan cinta dengan pintu yang terbuka. Kalo dipikir (dengan kerealistisan gue yang super sekali kalau kata Pak Mario Teguh), rasanya aneh juga. Bayangkan waktu ada orang yang ngetok pintu rumah kita, kemudian kita menyambut dengan jantung berdebar dan mata berbinar, melantunkan tembang-tembang cinta, padahal yang dateng mbokdhe yang rumahnya di pengkolan gang mau nganterin bancaan selametan atas lahirnya cucu pertama.

Di dunia nyata yang keras dan kejam ini, cinta nggak sesederhana pintu yang terbuka. Gue sudah membuktikannya dengan cinta satu sisi gue yang ditolak mentah-mentah sama temen sekelas gue waktu kelas sembilan kemarin. Huh, dasar siluman curut. Udah jelek, nyebelin, nggak tau bersyukur pula! Masih mending gue mau demen sama lu, Bangke!

Maksudnya, cinta monyet yang seremeh itu aja gue ditolak mentah-mentah, apalagi cinta yang sesungguhnya. Apa nggak lebih rumit (dan lebih kejam)?

Tapi siang ini, entah setan apa yang merasuki diri gue, mendadak gue jadi mengamini perumpamaan “cinta adalah pintu yang terbuka”. Iya, gue nggak bohong.

Siang itu, kebetulan gue lagi sendirian di rumah. Ditinggal belanja sama ortu, mana adik gue juga ikut. Ralat, nggak sendirian juga sih. Ada anjing gue, tapi nggak berguna banget presensinya di rumah ini wong kalo siang bolong gini kerjaannya tidur melulu.

Rada kesel juga sih nyokap gue pergi nggak meninggalkan sesuatu yang bisa dimakan, gue disuruh masak sendiri padahal lagi males banget masak. Udah nggak dikasih makan, malah gue disuruh ngasih makan anjing. Enak banget dia, mentang-mentang nggak bisa nyiapin makanannya sendiri.

Nah di siang bolong yang merana itulah gue sedang menunggu-

Ting tong!

-NAH ITU DIA!!! YA ALLAH CINTAKU AKHIRNYA DATANG JUGA NGGAK JADI MERANA DEH GUE!!!

Dengan langkah terburu (hampir jatuh tikosewad pas di tangga, buat yang nggak tahu tikosewad itu apa, gue juga nggak bisa ngejelasin menggunakan bahasa Indonesia, maaf kawan), gue langsung lari ke pintu. Tangan gue seketika tremor waktu mau membuka pintu dan jantung gue berdebar kenceng banget seolah abis maraton keliling Semarang. Buseh, itumah bukan maraton lagi namanya tapi menjemput ajal.

Dan ketika pintu akhirnya terbuka-

“Permisi, Kak Angie yang tadi jam satu lebih lima pesan dada ayam crispy, cream soup, mocha float, sama cheese burger?”

-gue baru saja mau berselebrasi menyambut kedatangan cinta gue, kalau saja mas-mas delivery order itu nggak keburu nyerocos.

“Iya, Mas!” gue buru-buru memberikan uang yang sudah gue siapkan di kantong kolor motif hati warna-warni gue.

Butuh waktu sekitar lima menit sampai akhirnya dia (atau mereka?) resmi menjadi milik gue.

Dan butuh waktu satu jam hingga dia mendarat di dasar lambung gue.

Akhirnya, hari itu gue percaya bahwa cinta adalah pintu yang terbuka.

Ya. Cinta adalah makanan cepat saji yang menyelamatkan gue dari bencana kelaparan di siang bolong.

.

.

.

-fin

Advertisements

One thought on “Summer Writing Prompts – Love is An Open Door

  1. ASTAGA NAGA HAHAHAHHAHAHAH

    EH SUMPAH YA KAK AKU SUMPAH BANGET BENERAN INI AKU SUKAA SUKAA SUKAAA ❤ IF ONLY I HAD THAT ONE PAGE FOR MY FAVORITE FIC EVER, YANG SATU INI PASTI BAKALAN NAMPANG DI SANA ❤ ❤ ❤

    huvt iyaa jugaa yaa nanti deh kalo sempet aku tak bikin page khusus fic-fic rekomendasi. pinginnn heuehuehueheu :((

    oke kembali ke cerita, ini birilian sekalii! HAHAHAHAH. aku lupa di mana tapi aku pernah baca quote yang mrepet sama cerita ini wkwkwkwk. lucuuu pokoknyaa lucuuu bangeeett plis tombol like kenapa cuman bisa diteken sekaliiii ❤

    padahal di awal tuh dewasa banget pemikiran si 'gue' ini. sampe kagum tau nggak kak. tapi, tulisan selalu menggambarkan watak asli si penulis sendiri kan yaa. jadi aku percaya kalo filosofi di atas ini emang apa yang dipegang sama kak raniii heuheuheu ((beuh ngomong opo sih han)). tapi serius, deh. kamu dewasaa sekalii kak raannn ❤

    kirain apa yang bisa bikin 'gue' nyadar kalo luv is an open door taunya……..HAHAHAHAHAH MINTA DIJADIIN GULE ROTI MARYAM HAHAHHAHAHAHA DASAR KRUPUK RENGGINANG.

    KEREENN BANGET KAK RAAAANN! soal bahasa nggak usah dikomenin, ini khas kak rani sekalii. abege bangeett kekiniaan. berasa lagi baca novel teenlit-nya indonesia. just write a novel, i told you, kak rannn! xD

    nice work kak raniii! pokoknya aku sukaa sukaa sukaa ❤ semangat nulis teruuus kak rannn! luv luv ❤ ❤ ❤ ❤

    ((serius ini masih hebring))

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s