Summer Writing Prompts – Romantic Street

CBqUYeUVEAEf-nl

.

.

.

“Dan saat ini, ia mengajakku untuk berjalan kaki ke rumah bersama.

Seperti yang sudah aku bilang, suasananya sangat canggung.”

.

.

.

“Hai.”

“…hai?”

Aku berdehem seraya memaksakan seulas senyum yang kentara sekali kalau tidak ikhlas. Sembari melangkahkan kakiku yang rasanya seperti dibelenggu oleh beban ratusan ton, aku sebisa mungkin tidak mengacuhkan presensi sosok jangkung yang kini berjalan di samping kiriku.

Sumpah, ini benar-benar canggung. Aku tidak pernah tahu kalau bertemu dengan teman kecil setelah sekian lama berpisah bakal secanggung ini.

Sosok jangkung itu bernama Chanyeol, sekedar informasi. Ia adalah teman sekaligus tetanggaku saat aku masih kecil dulu. Kami sangat dekat, apalagi saat kecil aku ini cengeng dan penakut sekali. Sudah begitu, dulu badanku pendek dan kurus lagi. Ya, walaupun sekarang masih pendek. Karena aku cengeng dan mudah jadi bahan bulan-bulanan anak-anak bandel di kelas lah, biasanya Chanyeol yang menjadi tamengku. Memang dia tidak pernah ikut kelas beladiri, tapi setidaknya badannya lebih tinggi dan lebih kuat, belum lagi suaranya yang terbilang cukup berat untuk ukuran anak sekolah dasar, sehingga ia bisa menghardik galak para anak bandel itu seperti anjing herder Pak Kim.

Kami berpisah kira-kira tujuh tahun lalu, saat kami masih berumur sembilan tahun. Ayahku dipindahtugaskan ke luar kota, yang menyebabkan kami sekeluarga harus ikut pindah juga. Keluargaku kembali ke kota ini lagi sekitar empat bulan yang lalu dan aku kembali bertemu Chanyeol. Ya, kami sekelas. Aku heran ternyata ia bisa mengenaliku. Aku saja tidak terlalu mengenalinya kalau saja aku tidak langsung melihat kedua daun telinganya yang caplang.

Entah keajaiban apa yang terjadi, ternyata kami kembali menjadi tetangga! Walaupun aku tidak menempati rumahku yang dulu, tapi kami kembali tinggal satu kompleks sekarang.

Dan saat ini, ia mengajakku untuk berjalan kaki ke rumah bersama. Seperti yang sudah aku bilang, suasananya sangat canggung. Tujuh tahun berpisah dan sama sekali tidak saling kontak (karena saat itu kami masih terlalu kecil untuk memahami hal-hal semacam ‘sering-sering telepon aku’) benar-benar mengubah segalanya. Ugh, tiba-tiba aku ingin kembali ke saat kita masih kecil saja!

“Euhh, jadi… Bagaimana kabarmu?” tanyanya, membuyarkan lamunanku.

“Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja,” jawabku. Tidak, sebenarnya aku tidak baik-baik saja kalau selama dua puluh menit ke depan suasananya masih seperti ini.

“Kamu berubah banyak,” komentarnya. Aku hanya membalas dengan kekehan setengah hati. Tapi sebenarnya ia tidak salah, sih… Sekarang badanku lebih berisi, meski masih pendek untuk seorang gadis berusia enam belas tahun. Rambutku sudah tidak seberantakan dulu (tentu saja aku sudah belajar menata rambutku sendiri) dan sekarang aku tidak lagi pakai kacamata elips yang culun seperti dulu. Aku menggantinya dengan lensa kontak.

“Kalau aku?” ia bertanya. “Menurutmu aku berubah?”

Aku menoleh sekilas, lalu mengangguk. “Cuma telingamu yang tidak berubah.”

Aku sedikit tersentak saat tiba-tiba ia cemberut. Namun mengingat bahwa itu kebiasaannya tiap kali ada yang mengejek telinganya, akupun tertawa. Oke, kebiasaannya juga tidak berubah seperti telinganya.

“Jangan cemberut, telingamu lucu, kok!” sahutku. Entah sejak kapan rasanya kecanggungan di antara kami mulai mencair dan aku punya keberanian untuk sedikit berjinjit dan menyentuh telinga caplang Chanyeol.

“Dulu kamu bilang telingaku seperti Dobby!” protesnya. “Dobby kan jelek! Wajahnya keriput, pendek lagi! Seharusnya yang mirip Dobby itu kamu!”

Menit-menit selanjutnya terasa begitu cepat diisi dengan candaan dan obrolan ringan kami berdua. Hei, aku bahkan baru sadar kalau ternyata kami sudah mulai akrab seperti dulu. Ya ampun, ternyata kecanggungan kalau tidak terlalu dipikirkan bisa mencair dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Bodoh sekali aku ini.

Seriously, Chanyeol? Masa selama tujuh tahun terakhir ini kamu sama sekali tidak punya pacar?” tanyaku setelah puas saling bertukar cerita dengan Chanyeol. Buatku, Chanyeol yang sekarang ini lumayan tampan. Tidak seperti kurcaci kelebihan gizi yang ingusan layaknya tujuh tahun lalu. Masa iya tidak ada satupun gadis yang tertarik?

“Kamu sendiri juga tidak pernah punya pacar,” sahut Chanyeol. “Oh ya, kamu ‘kan culun.”

Aku mendengus kesal. Dari dulu Chanyeol ini memang tidak pernah bisa serius. Sudah begitu, ketidakseriusannya itu selalu bisa membungkamku telak. Aku tidak pernah bisa menang argumen dengannya.

“Rumahmu jauh juga, ya?” keluh Chanyeol. “Kenapa kamu tidak tinggal di rumahmu yang dulu lagi?”

“Rumah itu sudah dijual dan sekarang sudah ada penghuninya, tahu,” jawabku.

“Usir, dong!”

Spontan aku memukul lengannya. “Enak saja kamu bicara! Mana bisa mengusir orang sembarangan?!”

Chanyeol nyengir, memamerkan deretan giginya yang besar-besar dan rapi. Aku baru sadar kalau aku kangen dengan senyumnya yang juga tidak pernah berubah ini.

“Apa-apaan ini?” komentar Chanyeol, serta-merta berhenti melangkah. Aku pun turut menghentikan langkah, lantas kedua mataku bergulir mencari apa yang tengah dilihat Chanyeol sekarang.

YOU SHOULD KISS HERE!

“Dasar orang iseng,” gumamku. Tentu saja. Apa manfaatnya mencoret-coret aspal seperti itu? Kurang kerjaan sekali! Untung ini bukan jalan raya. Bisa-bisa nanti oknumnya dituntut pemerintah.

Baru saja aku melangkahkan kaki untuk kembali melanjutkan perjalanan ke rumah, langkahku kembali berhenti saat kurasakan sesuatu menempel di pipiku.

Sialan, itu bukan nyamuk atau lalat yang bisa aku pukul.

Lalu aku sadar kalau sekarang kedua pasang kaki milik kami sama-sama menapak di atas tulisan berwarna merah tadi.

Oh. Tidak.

Tolong katakan ini adalah salah satu dari sekian banyak ketidakseriusan Park Chanyeol.

Soalnya ia benar-benar berhasil membungkam mulutku.

.

.

.

-fin

Notes :

Terinspirasi dari gambar di bawah ini.

925223_238864492974151_2116617842_n

Hope ya like it ^^

Advertisements

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s