Summer Writing Prompts – Somebody That I Used To Know

tumblr_m74jr9P2mS1r6wq0jo1_500

.

.

.

“I thought we were friends.”

.

.

.

Gelap dan sunyi saat aku membuka mata dan mulai mengumpulkan nyawa. Mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya tak peduli bahwa sekarang kepalaku mendadak pening setengah mati.

Ingatan itu kembali saat aku kugerakkan kaki kananku yang terluka, sangat sakit tadinya hingga kini terasa mati rasa. Aku ingat semuanya. Desingan peluru yang membuat jantungku bermaraton, sosok-sosok asing itu, dan… Ah, ada satu orang yang tidak asing. Aku mengenalnya, sangat kenal malah.

Membayangkannya membuat tengkukku terasa dingin. Tidak, tidak mungkin ia berbuat seperti itu padaku. Aku tahu ia memang sulit memaafkan seseorang bahkan hanya karena sebuah masalah kecil, namun aku tidak tahu bahwa ia akan berbuat sekejam ini-

Long time no see?

Jantungku seperti berhenti berdetak saat kudengar suara yang tidak asing itu menggema dalam ruangan gelap ini. Diiringi dengan bunyi langkah kaki yang mendekat membuatku makin merasa terancam.

What do you want?” sebisa mungkin aku berusaha terdengar berani, meski faktanya tidak begitu.

Dan yang kudengar hanya sebuah dengusan meremehkan. “What a stupid question.

Just tell me, what do you want?” Andai tidak ada peluru yang bersarang di kakiku, pasti aku sudah berdiri, berusaha mencari sosoknya dalam kegelapan.

Your death,” jawabnya, membuat jantungnya seperti mencelos jatuh sampai perut.

W-what?

You heard me.

This isn’t you.

Yeah, this isn’t me,” aku kembali mendengar langkah kakinya, bagaimana sepatunya mengetuk lantai kayu. “But who’s fault to make me like this? Obviously, it’s you.

It has been ten years, and you still can’t forgive me?

You don’t deserve it,” bisiknya tepat di telingaku, membuat bulu kudukku berdiri. “You don’t deserve to be forgiven.

Should I beg you?” tanyaku, wajahku memanas menahan tangis.

No,” sahutnya. “I don’t need you to beg like a pitiful slave.

Selanjutnya yang kudengar adalah suara ‘klik’ yang membuat air mataku jatuh membasahi pipi. “If you want me to die, please let me say sorry.

Dia tertawa. Tawa mengejek yang aku benci. “Why? So that you can die peacefully? But I want you to go to the hell instead.

Samar-samar kulihat dua tangannya menggenggam benda itu, moncongnya berjarak kurang dari satu meter di depan keningku. “I’m sinner, and you… The reason of every sin I’ve made.

Aku menghela nafas. Aku tahu aku takkan bisa lagi mengelak. Saat setan sudah menguasai jiwa seseorang, apa lagi yang bisa aku perbuat? Tuhan saja belum tentu bisa menyadarkannya, apalagi aku yang hanya manusia biasa.

I thought we were friends,” gumamku, namun cukup keras untuk ia dengar. Ia terdiam sejenak, dapat kulihat kedua tangannya sedikit bergetar.

Yes, I thought we were friends,” sahutnya. “But now you’re just somebody that I used to know. Nothing but stranger.

Aku menghela nafas untuk terakhir kalinya, sebelum aku mendengarnya berkata,”See you in hell, Friend.

Aku tak ingat apa-apa lagi selain panas dan sakit menghujam keningku.

.

.

.

-fin

Notes :

I know I’m not good at this, but I feel like I want to murder someone. Literally, murder someone.

Advertisements

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s