#WINNERFicletSet – Just One Day

US0cF4m

.

.

.

“We’re gonna have a good day.”

.

.

.

Recommended song : Nappy Roots ft Greg Street – Good Day

c99c82a3592b7472c7f22146eebbe2e2

“One smile could change the morning mood.”

TAEHYUN X MINJI

Hari baru, masalah baru.

Setidaknya begitu menurut seorang Park Minji.

Hari baru berarti ia harus bangun jam enam pagi lagi. Makan sereal maupun roti dengan selai apa saja yang ada di dapur bersama segelas jus jeruk atau espresso, memoles wajahnya dengan make-up yang akan mulai luntur sebelum jam dua belas, menghabiskan nyaris sepuluh menit untuk memadu-padankan pakaian kerjanya, sebelum akhirnya meninggalkan apartemen sederhananya ke peraduan.

Itu masih pagi. Semakin tinggi posisi matahari di atas bumi, maka semakin banyak pula masalah-masalah yang datang silih-berganti. Bukannya Minji bersikap pesimis, namun toh memang kenyataannya profesinya memang berhubungan dengan masalah. Ia adalah salah satu psikiater di sebuah panti rehabilitasi para remaja bermasalah.

Jadi pagi itu, seperti biasa Minji bangun tepat pukul enam pagi. Setelah menghabiskan nyaris tiga puluh menit hanya untuk mandi, berdandan, dan memilih pakaian, wanita itu melangkahkan kaki menuju dapurnya, mengambil apa saja yang bisa ia buat menjadi roti isi, serta membuat secangkir espresso panas kesukaannya.

Entah mengapa berita pagi hari ini membosankan. Kejadian maupun isu yang sama dibahas berulang-ulang. Minji memilih membuka pintu balkoninya lebar-lebar, duduk di kursi yang ada di balkoni (ia bahkan lupa kapan terakhir kali ia duduk di sana), dan menikmati sarapannya sambil menghirup udara pagi yang segar.

Pikirannya terasa lebih ringan. Mungkin ia harus sering-sering sarapan di balkon. Udara pagi membuatnya tidak stress di awal seperti biasanya sebelum berangkat kerja. Atensinya teralihkan saat didengarnya suara-suara dari balkon apartemen sebelah. Benar. Ketika menoleh, didapatinya tetangga barunya berdiri di sana, berbalut pakaian kantor rapi, menyeruput secangkir kopi.

“Aku tidak pernah melihatmu di balkonmu sebelumnya,” ucap si tetangga baru, serta merta menoleh dan memberikan seluruh perhatiannya pada Minji.

“Aku memang jarang duduk-duduk di sini,” jawab Minji.

“Kudengar kau seorang psikiater?”

“Ya, aku berhadapan dengan bocah-bocah hormonal yang punya segudang masalah tiap harinya.”

“Tidak heran, aku tak jarang melihatmu pulang kerja dengan wajah kuyu dan galak, aku jadi ragu mau menyapamu.”

Minji tertawa. Semengerikan itukah dirinya saat lelah? “Kenapa? Aku ‘kan bukan monster, Nam Taehyun,” ucap Minji. “Aku tidak akan marah hanya karena kau menyapaku.”

Taehyun melempar seulas senyum. “Noted. Mulai sekarang aku akan selalu menyapamu tiap kali melihatmu pulang kerja.”

Minji-entah sejak kapan-lupa caranya bernapas. Senyum Taehyun manis juga, kenapa aku baru tahu sekarang?

“Terimakasih, lho,” ucap Minji.

Tidak, tidak, oh sialan.

Tidak ada yang menyuruh Nam Taehyun tersenyum lagi.

“Omong-omong aku harus segera berangkat,” Taehyun mengecek jam tangannya. “Bagaimana denganmu?”

“Aku akan berangkat sebentar lagi. Pergi saja, aku masih ingin duduk di sini,” jawab Minji.

“Baiklah, jadi…” Taehyun menghela nafas dan menggigit bibir bawahnya. “…aku pergi sekarang.”

“Hmm…”

Minji tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepala saat Taehyun menghilang dari balkon, masuk ke dalam apartemennya. Namun ia dikejutkan dengan presensi tiba-tiba pria itu lagi di balkon.

“Oh, aku lupa! Selamat pagi dan semoga harimu menyenangkan, Park Minji! Aku pergi dulu!”

Pria itu benar-benar pergi sekarang. Meninggalkan Minji dengan senyuman tolol dan semu merah muda. Serta bayang-bayang senyum Taehyun menghantui pikirannya.

Oh, hari ini akan jadi hari yang menyenangkan buat Park Minji!

***

tumblr_inline_naxx1lZBZN1qbvwuo

“Whoa, you need to calm the crap down a bit, Missy.”

SEUNGYOON X YEONHYUN

Yeonhyun hanya menggeleng-gelengkan kepala saat Seungyoon-sang empunya kubikel di sebelah kirinya-mengerang sambil meregangkan kedua lengannya lebar-lebar. Kebiasaannya setiap kali berhasil menyelesaikan laporan keuangan kantor yang rumitnya bukan main.

“Ya ampun, aku sampai tidak sadar ini sudah jam setengah satu siang,” ucap Seungyoon. “Berarti aku sudah duduk di sini sejak jam sembilan tadi? Pantas saja bokongku mati rasa.”

Sembari merapikan kemeja kotak-kotaknya yang sedikit kusut, pria bermarga Kang itu beranjak dari kursinya, masih menggumam soal ‘pantat yang terasa mati rasa’, kemudian menjawil bahu Yeonhyun dari belakang. “Ayo makan siang, Yeon!”

Yeonhyun hanya membalas dengan senyuman dan menggeleng sopan. “Nanti saja, aku mau menyelesaikan pekerjaanku dulu.”

Seungyoon memutar kedua bola matanya. “Tapi kau sudah duduk di sini sejak jam sembilan, sama sepertiku. Itu ‘kan tidak sehat! Ayo!”

“Sudah kubilang nanti saja,” tolak Yeonhyun, walau ia tahu, Seungyoon adalah pria keras kepala. Ia takkan pergi meninggalkannya begitu saja.

Meski tidak lagi berbicara, namun kedua manik pria itu sibuk dengan layar komputer di meja Yeonhyun yang menampilkan pekerjaan wanita itu yang belum selesai seratus persen. Lantas pria itu terkekeh.

Bukan.

Ia tertawa.

Cukup keras hingga mengundang perhatian tujuh dari dua puluh penghuni kubikel di lantai tersebut yang tersisa (minus dirinya dan Yeonhyun).

Yeonhyun menatapnya bingung, lalu memberengut. “Kau dan selera humormu yang tenggelam di dasar Palung Mariana… Tidak ada sebuah lelucon yang patut ditertawakan, Kang Seungyoon!”

“Duh, lihatlah pekerjaanmu, Byun Yeonhyun! Berantakan sekali! Kamu yakin akan menyerahkan proposal itu pada direktur? Kalau aku jadi dia, sih… Aku akan langsung memecatmu!”

“Wow, thanks, Seungyoon… Tapi aku lagi tidak butuh komentarmu dan kalau kau memang mau makan siang sebaiknya kau segera pergi biar aku bisa segera memperbaiki proposalku juga.”

Bukannya pergi, Seungyoon malah mengalungkan lengannya di leher Yeonhyun, membuat wanita yang mood-nya baru saja ia jatuhkan ke level terendah itu mendesis kesal. “Seungyoon, pergi sana!!”

“Ayo makan siang,” ajak Seungyoon lagi.

“Sudah kubilang tidak mau!” tolak Yeonhyun. “Lagipula aku tidak mau makan siang dengan orang menyebalkan sepertimu!”

“Aku tidak peduli nanti kau mau makan siang denganku, makan siang sendiri, bahkan makan siang di toilet pun aku tidak peduli. Yang penting kau makan. Percuma ‘kan bekerja terus kalau tidak ada tenaga? Pantas saja proposalmu tidak rampung dari tadi.”

“Kalau kau menolak lagi, aku akan langsung menekan tombol ‘reset’ di CPU-mu biar proposal yang kau kerjakan hilang sekalian!”

Nah, kalau sudah begini… Apa Yeonhyun masih bisa menolak?

***

2993535ec946b6a31aea9a92ad1ff7ef

“I will make you love coffee.”

MINO X ROSE

Rose lupa kapan terakhir kali ia minum kopi. Ia bukan penggila kopi yang bisa gila sungguhan kalau sehari saja tidak minum kopi. Namun ia tidak menolak saat Song Minho mengajaknya pergi ke kafe kopi terdekat di jam coffee break sore itu.

“Kenapa kau selalu pesan cappuccino, sih?” tanya Minho, memprotes selera Rosemary Hwang yang menurutnya pasaran itu. Rose mengangkat bahu. Well, ia bukan seorang yang gemar berpetualang dengan cita rasa baru. Sekali ia menganggap sebuah makanan ataupun minuman enak, maka ia akan terus memesannya sampai pada hari terakhir ia hidup.

“Coba lihat aku. Aku minum americano di pagi hari, caramel macchiato di sore hari, dan kadang latte saat harus menyelesaikan pekerjaanku di rumah sampai tengah malam,” celoteh Minho. “Ah, tapi kemudian ibuku bilang aku tidak boleh sering-sering minum kopi. Tidak sehat. Sekarang aku mulai membiasakan minum jus di pagi hari dan jarang minum kopi saat lembur tengah malam. Ya ampun, rasanya agak aneh!”

Rose hanya menanggapi dengan senyum geli. Satu hal yang menurutnya unik dari Song Minho, sekeren apapun penampilannya, ia tetaplah anak mami. Ia menuruti semua perkataan ibunya dari A sampai Z. Bahkan Rose yakin kalau detik ini juga Nyonya Song menelepon putra kesayangannya untuk segera pulang dan dijodohkan dengan anak menteri, Minho takkan menolak.

“Lain kali kamu harus mencoba kopi selain cappuccino, Rose,” ucap Minho saat pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Satu iced caramel macchiato, satu iced cappuccino, dan satu porsi cheesecake mini untuk Rose.

“Hmm…” sahut Rose. “Lain kali itu kapan? Aku ‘kan tidak akan pergi ke kafe kopi kalau tidak ada yang mengajak.”

“Aku akan mengajakmu lagi kapan-kapan.”

“Terserah kau sajalah.”

Minho tersenyum miring. “Aku heran kenapa kau tidak suka kopi, Rose. Mengingat fakta bahwa kau pernah kerja paruh waktu sebagai pelayan di Starbucks saat masih kuliah dulu.”

“Karena aku bekerja sebagai pelayan Starbucks itulah… Aku sudah mual duluan karena setiap hari harus menghadapi ratusan cangkir kopi yang berbeda. Aroma mereka membaur menjadi satu, membuatku pusing.”

“Kalau begitu aku akan membuatmu menyukai kopi sekarang.”

“Apa-apaan kau ini? Seperti tidak punya kerjaan yang lebih bermutu saja!”

“Biar kita bisa sering-sering pergi ke sini saat coffee break.”

Rose tersenyum menanggapi. Dasar modus, pikirnya.

Roses are red, 

violets are blue.

Cappuccino is boring,

especially for a lovely lady like Rosemary Hwang.”

Tidak nyambung? Memang Minho peduli? Yang penting ia bisa menjadi faktor utama timbulnya rona merah di wajah Rose.

***

e1a394e335df73f5953a1c1a1705ce0d

“Trust me, I’m a nice man.”

SEUNGHOON X YOONSUK

Yoonsuk menghela nafas setelah membaca pesan singkat dari saudara kembarnya, Yoongi. Pria itu tidak bisa menjemputnya dari kantor malam ini, lantaran ia sendiri sedang lembur di kantornya. Huh, andai saja mobil milik Yoonsuk tidak bermasalah, ia tidak perlu kerepotan seperti ini.

Yoonsuk baru saja hendak berjalan menuju stasiun subway, saat sebuah sedan hitam mengkilap berhenti di depannya. Kaca jendelanya terbuka, menunjukkan sosok di balik kemudi yang tengah tersenyum ramah pada Yoonsuk.

“Butuh tumpangan?” tawar si pemilik sedan, dibalas senyuman sungkan dari Yoonsuk.

“Tidak perlu, aku bisa naik subway ke rumah,” tolak Yoonsuk. Pemilik sedan itu bernama Lee Seunghoon, pegawai baru di kantornya, pun pemilik kubikel di belakang milik Yoonsuk. Ramah, namun Yoonsuk merasa belum terlalu mengenalnya. Sebagai wanita, ia tidak boleh sembarangan percaya pada pria, bukan?

“Bukannya stasiun subway-nya cukup jauh dari sini?” tanya Seunghoon. “Apalagi sekarang sudah malam. Kan bahaya buat seorang wanita berjalan sendirian malam-malam.”

“Baik, baik, bisakah kau mengantarku sampai stasiun subway?”

Pria itu nampak berpikir sejenak, kemudian tersenyum mengiyakan. “Oke! Silahkan masuk!”

Sepuluh menit terasa seperti satu jam bagi Yoonsuk. Atmosfer keheningan meliputi keduanya, hanya sesekali saja bibir Seunghoon menggumamkan tembang lawas penyanyi Barat.

“Eumm, Seunghoon? Maaf, tapi bukannya kalau mau ke stasiun seharusnya belok kanan, ya?” tanya Yoonsuk tatkala Seunghoon terus membiarkan sedannya membelah jalanan lurus.

“Aku berubah pikiran. Aku akan mengantarmu sampai rumah,” jawab Seunghoon santai.

Menyadari kerutan tidak terima di dahi Yoonsuk, Seunghoon sekilas menoleh, melemparkan senyum lebar khasnya. “Maaf, tapi aku benar-benar tidak tega membiarkan wanita pulang sendirian, sekalipun naik transportasi umum. Lagipula ini ‘kan sudah mulai musim liburan. Subway pasti sepi, jadi lebih beresiko buatmu.”

Yoonsuk mendesah. Sekilas diperhatikannya wajah Seunghoon. Walaupun punya garis wajah tegas dan terkesan judes, Seunghoon adalah pria paling ramah kedua yang pernah ia temui setelah mendiang kakeknya. Ia murah senyum dan ramah, pun baik hati. Oh, tambahan. Gentleman.

Tapi bukan tidak mungkin ‘kan orang baik tidak punya niat jahat? Yoonsuk menggelengkan pelan kepalanya. Ia memang harus waspada, tapi tidak boleh berprasangka buruk berlebihan.

“Terimakasih ya, Seunghoon,” Yoonsuk mengulas senyum. Oke, hal pertama yang harus ia lakukan adalah berterimakasih.

Seunghoon tertawa pelan. “Formal sekali! Kita sudah saling mengenal selama hampir tiga bulan, lho.”

“Tapi aku merasa tidak enak. Aku jadi merepotkanmu, kan? Padahal rumahku jauh.”

“Tidak apa-apa,” jawab Seunghoon. “Soalnya aku akan lebih tidak enak lagi kalau membiarkan wanita cantik sepertimu pulang sendirian tengah malam.”

***

287a79e305b45315d636574feef0b58a

“And last… When one sweet line could make you giddy and can’t sleep.”

JINWOO X HANA

Hana mengerang, melepaskan seluruh beban yang diletakkan di pundaknya seharian ini, bebarengan dengan tubuhnya yang ia rebahkan di kasur. Besok adalah hari kerja terakhir dalam pekan ini. Ah, membayangkannya saja sudah bikin pusing.

Meski enggan, namun wanita itu tetap mengecek ponselnya sekali lagi sebelum benar-benar terlelap. Siapa tahu ada notifikasi penting dari teman kerja maupun grup kantornya.

From : Jinwoo

Sudah tidur? Apa aku mengganggu? 

Hana tersenyum tipis. Biasanya ia akan membiarkan notifikasi yang baginya tidak terlalu penting sampai besok pagi. Tapi ini Kim Jinwoo. Seniornya di kantor yang baik hati dan-sepertinya-lambat laun mulai mendapatkan tempat khusus di hati Jung Hana.

To : Jinwoo

Belum. Insomnia, ya?

From : Jinwoo

Begitulah… Bagaimana harimu?

To : Jinwoo

Melelahkan, seperti biasa.

Tapi sekarang aku sudah bisa kembali bercumbu dengan kasurku, hehe…

From : Jinwoo

Bercumbu?

To : Jinwoo

Hanya sebuah kiasan karena aku begitu mencintai kasurku.

From : Jinwoo

Ckckck… Pantas saja kau tidak punya pacar.

Kau lebih sayang pada kasur daripada pria.

To : Jinwoo

Jangan bawa-bawa urusan pacar, dong! -_-

From : Jinwoo

😀 Bercanda… 

Eumm… Tidak keberatan kalau kita mengobrol besok lagi?

To : Jinwoo

Sure! 

Night, Jinwoo!

Tidak ada balasan. Mungkin tadi Jinwoo mengetiknya sudah sambil terkantuk-kantuk, sehingga sekarang ia sudah terlelap. Baru saja Hana menutup kedua kelopak mata, ponselnya bergetar.

From : Jinwoo

Night, Hana…

P.S. : Jangan marah, ya? Tapi sepertinya aku bakal memimpikanmu malam ini.

Oh.

Jinwoo benar-benar kurang ajar.

Dia pikir dengan mengirim pesan seperti itu Hana bisa tidur dengan tenang sekarang?

.

.

.

-fin

Notes :

THIS IS MY FIRST WINNER FANFICS, GUYS!

Well, dulu Extra Cheese bertokoh Song Minho nggak keitung ya, karena itu cuma gombal-gombalan ga mutu, hehehe… 😄

Sesuai judulnya, Just One Day alias cuma sehari. Jadi semuanya terjadi di hari yang sama. Pagi diawali Taehyun-Minji dan malemnya diakhiri sama Jinwoo-Hana. Sengaja aku balik maknae duluan, hehehe… Karena kayaknya, Taehyun with all the sass he has, bukanlah tipe cowok yang kurang kerjaan ngechat gebetan tengah malem kayak Jinwoo.

Last, hope ya enjoy >.<

Advertisements

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s