#IceCreamCakeSeries – Take It Slow

tumblr_nft11hwsgc1qapcswo1_500

.

.

.

“You suddenly talk like an adult.
It’s cute but it’s making things weird.”

.

.

.

Whoa, Jungkook… You look so…

…handsome? Yeah, I know it already, Kei.”

Keiko mendengus, seketika menyesal sudah memuji penampilan Jungkook. Tapi ia memang tidak bisa menampik fakta kalau Jungkook terlihat tampan dalam balutan jas dan kemeja, sih… Oke, ralat. Sangat tampan. Sekarang ia tahu mengapa banyak gadis hormonal di sekolah yang naksir Jeon Jungkook. Pacarnya ini memang super menawan. Ya, andai saja Jungkook tidak bersikap menyebalkan dan hobi meledeknya, dengan senang hati gadis Jepang itu akan menyiraminya dengan pujian saban hari.

“Kamu juga,” ucap Jungkook. Keiko mengangkat sebelah alis.

“Juga apa?”

“Juga ganteng,” Jungkook memutar bola mata, berucap dengan nada sarkatis. “Cantik lah! Apa lagi?”

“Oh,” sahut Keiko. “Kamu tidak terdengar ikhlas.”

“Memang yang ikhlas yang seperti apa?” tanya Jungkook.

“Lupakan saja. Kenapa kamu tidak pakai dasi?”

“Tanpa dasi saja aku sudah tampan, apalagi pakai dasi. Nanti kamu tidak kuat dengan pesonaku.”

“Jungkook?”

“Hmm?”

I hate you.

I love you too.

Keiko memutar bola mata, lantas menatap sekeliling. Mereka tengah menghadiri acara high school homecoming dance yang diselenggarakan oleh sekolah mereka malam ini. Atau singkatnya, orang lebih suka menyebutnya ‘semi-formal‘.

“Jungkook, menurutmu kalau kita duduk di- Lho?” dahi Keiko mengernyit bingung saat didapatinya Jungkook absen dari sisinya. “Kemana lagi si anak tuyul itu?”

Ugh, Keiko tidak heran sih kalau Jungkook tiba-tiba menghilang hanya demi menghampiri teman-temannya. Ia laki-laki dan tentu saja, ia tetap kepingin bertemu para sahabatnya. Jadi Keiko memilih menunggu sambil masih mengedarkan pandangannya, melacak keberadaan teman-temannya sendiri, dan mungkin juga keberadaan Jungkook.

“Ow- Hey, that’s impolite!” protes Keiko yang baru saja berjengit kaget karena Jungkook menempelkan segelas soda dingin di lengannya. Jungkook hanya terkekeh pelan menanggapi.

“Kapan sih dansanya dimulai?”

“Eew, kenapa kamu tidak sabar dengan yang satu itu?” Keiko sedikit bergidik, membayangkan dirinya berdansa dengan Jungkook membuatnya sedikit-banyak mau muntah. Mereka sudah latihan dua-tiga kali sebelumnya, dan Keiko harus menelan bulat-bulat kenyataan pahit kalau ia adalah penari yang buruk. Tak jarang ia menginjak kaki Jungkook dan membuat bocah itu merintih-rintih kesakitan seperti bayi. Apalagi sekarang ini Keiko memakai sepatu hak tinggi. Well, ia bertanggungjawab penuh kalau nanti ia kembali menginjak kaki Jungkook hingga pacarnya itu kesulitan berjalan.

“Aku mau berdansa denganmu, yah… Walaupun kamu bodoh banget soal dansa berpasangan, tapi karena kamu pacarku jadi aku maafk- Ampun iya ampun Keiko turunkan gelasnya, oke? Jangan siram aku pakai soda, itu mengurangi kadar ketampananku.”

Keiko menurunkan gelas berisi soda miliknya yang tadi sudah ia angkat tinggi-tinggi, sedianya hendak ia siramkan ke Jungkook yang dengan santai menyebutnya ‘bodoh’. “Watch your mouth, Peasant. I’m five months older than you.

“Hanya lima bulan, Kei. Freaking five months. And it doesn’t make you more mature than me.

“Aku hanya berusaha menyesuaikan diri. Sebenarnya aku bisa bersikap dewasa, tapi lantaran aku mengencani seorang anak tuyul yang tidak tahu ada sebuah proses bernama ‘pendewasaan mental’, maka mau tidak mau aku harus menyesuaikan diri dengan sikapnya.:

“Ouch, you hurt my pride, Missy…

Did you ever have a pride?

Jungkook memberengut, namun ketika MC mengumumkan bahwa acara dansa berpasangan akan segera dimulai, kedua mata rusanya lantas berbinar senang. Sementara Keiko hanya bisa menghela nafas. This is gonna be a little tough, pikirnya.

***

Once again you step on my foot, I’ll kiss you, Keiko Ino.”

What? You can’t do that, Pervert!

Stop stepping on my foot, then! Do you even realize that you’re wearing high heels?

Keiko cemberut. “I told you, I’m a terrible dance partner.

Jungkook terkekeh, yang mana membuat Keiko makin dongkol saja. “Again, because you’re my girlfriend, I’ll forgive you.

Keduanya kembali bergerak perlahan, mengikuti irama lagu yang lembut (dan jujur saja membuat Keiko mengantuk, sialan). Gadis itu mengernyit jijik saat dilihat olehnya tak sedikit pasangan yang mulai melakukan hal-hal diluar berdansa. Oke, sebelum kalian berpikir kemana-mana, perlu kalian ketahui bahwa yang kumaksud barusan adalah semacam mencium pipi atau memberikan kecupan singkat di bibir. Tentu saja tidak lebih dari itu, mereka masih bisa membedakan mana lantai dansa dan mana kamar.

“Apakah setiap orang melakukannya?” tanya Keiko.

“Melakukan apa?” Jungkook bertanya balik.

“Berciuman di tengah-tengah dansa.”

“Entahlah, biasanya sih begitu di film-film. Kamu mau coba?”

“Ih, Jungkook! Kan aku cuma tanya!” Keiko mencubit lengan Jungkook kesal.

“Aku bercanda, tahu! No need to be so violent,” sahut Jungkook yang merasa lengannya seperti terbakar setelah dicubit Keiko. “Lagipula aku sudah pernah menciummu, kok… Yah tapi yang di bibir belum, sih- Apa? Apa? Kamu mau mencubitku lagi?”

“Dasar tuyul mesum.”

“Tapi Keiko sayang.”

“Eew- Hey!”

Keiko hendak memprotes saat Jungkook menariknya mendekat, lantas menyandarkan kepala gadis itu di dadanya. Namun entah mengapa tiba-tiba ia kehilangan kata-kata. Kehangatan yang tiba-tiba saja datang, menyapa seluruh permukaan kulitnya, menghantarkan semu merah muda di kedua pipinya.

“Keiko itu cantik. Lebih cantik lagi kalau diam seperti ini,” ucap Jungkook. “Omong-omong, kamu pendek juga, ya?”

Demi semua yang kudus… Kemana perginya kemampuan Keiko untuk berbicara? Kenapa tiba-tiba ia membisu seperti ini, sih?!

“Tapi tidak apa-apa sih… Our height fit perfectly, jadi kamu bisa bersandar di dadaku, hehehe…”

“K-kamu bicara apa, sih?”

“Tidak apa-apa, suddenly I feel like we’re already tied in fate.

Stop talking about pointless things.

I wonder if we can do this again someday.

This?

This, dancing like this.

“Tck… We can do it again at our graduation party next year, if we’re still in relationship.

“Hmm… And we will do it again at our wedding, maybe seven years later.

………what?

Apa Jungkook baru saja bilang-

Hell no, why are you talking about wedding all of a sudden?!” serta merta Keiko menjauhkan diri dari Jungkook, membuat pemuda itu berdecak.

I’m pretty sure we will get married seven years later.

“Kenapa kamu yakin banget, kamu ‘kan bukan cenayang! Lagipula kita masih kelas dua SMA! Jangan bicara aneh-aneh, deh!”

“Hmm…” Jungkook menggumam sebagai tanggapan, lantas kembali menarik Keiko agar bersandar padanya. Lagi.

“Jungkook?”

“Ya?”

“Jangan bicara seperti orang dewasa.”

“Lah?”

Keiko tersenyum, kemudian mendongak menatap wajah bingung Jungkook. “It’s weird.

What’s so weird about our future?” gerutu Jungkook.

“Pokoknya jangan, deh… Mending aku dengar kamu mengejekku seharian daripada bicara seperti tadi.”

Kita ‘kan masih delapan belas tahun, lanjut Keiko dalam hati selagi mengeratkan pelukannya pada Jungkook. Aku tidak mau buru-buru menjadi orang dewasa, aku suka Jungkook yang sekarang.

Oh, omong-omong, sebenarnya alasan gadis dengan gengsi ketinggian seperti Keiko rela memeluk Jungkook erat-erat hanyalah untuk menyembunyikan wajahnya yang tersipu akan ucapan-ucapan Jungkook tadi.

Tck, dasar remaja-remaja labil.

.

.

.

-fin

Advertisements

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s