#IceCreamCakeSeries – Somethin’ Kinda Crazy

tumblr_inline_nevqwwovxr1qb2nv2

.

.

.

“It became reality when it was just something that happened in the movies before.”

.

.

.

P.S. : This is the prequel of two previous stories, so it was when Jungkook and Keiko haven’t got into a relationship yet.

Ini pasti gila.

Ya, Keiko tahu hidup sebagai remaja memang serba gila, diluar dugaan, dan terkadang irasional. Pada dasarnya sih begitu.

Tapi Keiko-gadis yang ramah namun tak pernah sekalipun berpengalaman soal cinta monyet dan blablabla-tidak pernah tahu kalau yang selalu teman-temannya sebut dengan cinta monyet itu bakal seperti ini.

Ia tidak bisa mengatakan itu rumit, karena- Ayolah, ini hanya cinta monyet belaka. Ia sadar betul soal itu. Cinta monyet takkan bertahan lama kecuali Tuhan memang sudah menghendakimu berjodoh dengan dia. Namun ia juga tidak bisa bersikap abai begitu saja karena semakin hari, cinta monyet sialan nan ababil ini membuat detak jantungnya makin tidak terkontrol saja.

Satu kata yang bisa mendeskripsikan Keiko dan cinta monyetnya. Gila.

Keiko gila.

Cinta monyetnya gila.

Menjadi remaja adalah hal yang gila.

Dia gila.

Ah, iya. Dia. Oknum dibalik semua kegilaan ini. Ya Tuhan, kenapa fiksi ini menjadi berbelit-belit? Aku terlalu banyak menggunakan kata-kata ‘gila’, tapi aku tidak mau disalahkan. Salahkan dia.

“Hai, Keiko.”

NAH, ITU DIA!!! IYA, DIA YANG MEMBUAT KEIKO GILA SETENGAH MATI SAMPAI-SAMPAI IA MERASA HARUS MENGATUR JADWAL UNTUK BERKONSULTASI DENGAN PSIKIATER!!!

“Hai…” Lidah Keiko bahkan terasa kelu hanya untuk menyebut namanya yang terdiri dari dua suku kata itu. “…Jungkook.”

Keiko mau mati saja, terlebih saat sosok bernama Jungkook itu menarik kedua sudut bibirnya, memamerkan cengiran kelinci khasnya yang menyebalkan namun imut. Ya ampun, apa yang sedang Keiko pikirkan, sih?

“Kamu ada kelas setelah ini?” tanya Jungkook dan Keiko hanya bisa mengangguk kaku layaknya robot buatan seorang amatir.

“Aku ada kelas matematika setelah ini,” Keiko berdehem, berharap groginya dapat hilang dalam sekali deheman. Sayangnya tidak.

“Matematika?” Jungkook lagi-lagi tersenyum. “Membosankan.”

“Ya, seperti itulah. Tidak ada yang suka matematika, kecuali kamu adalah kutu buku yang sama membosankannya dengan matematika,” kali ini, Keiko merasa harus memberikan penghargaan pada dirinya sendiri. Great! Karena sejak ia menyadari cinta monyet diantara dirinya dan Jungkook, frekuensi dirinya bisa berbicara panjang lebar tanpa terbata-bata maupun terdengar canggung bisa dihitung dengan jari.

Jungkook terkekeh pelan. “Aku juga ada kelas kok sehabis ini.”

“Kelas apa?”

“Bahasa Inggris.”

“Hei, itu tidak adil!” Keiko memberengut.

“Tentu saja adil! Aku ‘kan tidak bisa Bahasa Inggris,” sahut Jungkook.

“Oh ya,” Keiko menyeringai. “Kamu hanya betul empat dari seratus soal yang diberikan Miss Jung minggu kemarin-“

“Jangan mengejekku,” kali ini Jungkook yang memberengut. “Setidaknya aku tidak dapat C saat ulangan matematika.”

“Lihat siapa yang mengejek sekarang.”

“Baiklah, kita impas.”

Keiko mengulum senyum. Ia tidak bisa berbohong kalau ia suka saat ia bisa mengobrol dan bercanda bersama Jungkook seperti ini. Ya, ia suka andai saja detak jantung dan keringat dingin tidak merecokinya.

“Eumm, Kei? Kalau begitu, kamu tidak keberatan ‘kan kalau kita makan siang bersama sehabis kelas kita nanti?”

Ugh. Sial. Lagi-lagi Jungkook mengajaknya makan siang bersama. Terakhir kali mereka makan siang berdua, Keiko tak sengaja tersedak jus apel dan nyaris saja menyemburkannya tepat di wajah Jeon Jungkook. Bagaimana kalau kali ini, Keiko akan melakukan kebodohan yang lebih memalukan? Bisa saja ia tidak sengaja menumpahkan seluruh isi nampannya di atas seragam Jungkook saking gugupnya.

“Eumm, aku…”

“Tidak apa-apa kalau kamu memang tidak bisa atau…” Jungkook menghela nafas dan tersenyum tipis. “…tidak mau.”

“Tidak, tidak! Aku bukannya tidak mau! Aku-“

“Mau?”

Lagi-lagi. Keiko pasti terdengar kegatelan sekali tadi. Gadis itu semakin ingin menggali liang kuburnya sendiri.

“Uhh, maaf… Aku tidak bermaksud terdengar- Umm… Genit,” Keiko meringis. “Yah, tapi aku tidak menolak. Kamu tahu? Aku, hanya saja… Aku kesulitan-“

“Mencari kata-kata yang tepat hanya untuk mengiyakan ajakanku?”

“Ya, seperti itu, deh! Begitulah, jadi perempuan itu susah. Salah berkata-kata, kamu akan langsung mendapat label negatif dari orang-orang yang selamanya bakal menempel di jidatmu.”

Jungkook tertawa pelan. “Aku tidak akan memberimu label negatif hanya karena kamu mengatakan ‘iya’ atas ajakanku.”

Bel tanda masuk yang berbunyi nyaring baru saja menyelamatkan Keiko dari atmosfer yang makin canggung ini. Andai saja menyembah berhala itu halal, Keiko pasti sudah menyembah-nyembah bel sekolah. “Huft, padahal aku masih ingin mengobrol denganmu.”

Duh, Keiko harap ia salah dengar.

Ya, harapannya sih begitu. Kenyataannya mereka ‘kan hanya berdua sekarang. Mana mungkin salah dengar? Lebih tidak mungkin lagi ada hantu siang bolong yang lewat dan membisikkannya di telinga Keiko.

“Baiklah, sampai ketemu lagi jam dua belas?”

“Umm, oke…”

Jungkook tersenyum kemudian menepuk bahu Keiko dengan akrab. “Nikmati kelas matematikanya, ya! Tahun depan kita sudah lulus, kok!”

***

“Kamu bisa kerasukan kalau terus melamun seperti itu, Kei.”

Keiko tersentak, lantas menatap tajam Yugyeom-teman sebangkunya-yang balas menatapnya dengan tatapan datar. “Siapa yang melamun?”

“Bahkan orang mati pun tahu kamu melamun,” sahut Yugyeom santai. “Apa yang kamu pikirkan, hmm? Aku?”

“Percaya diri sekali!” Keiko memukul lengan Yugyeom pelan, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara ‘plak’ terlalu keras yang bakal mencuri perhatian dari guru matematikanya yang sedang menerangkan materi di depan kelas. “Apa aku harus mengingatkanmu kalau kamu sudah punya pacar?”

Yugyeom tersenyum geli. “Lalu apa? Ayolah, kita selalu berada di kelas matematika yang sama sejak kelas sepuluh. Aku sudah mengenalmu nyaris dua tahun dan Keiko yang aku kenal tidak pernah melamun seperti ini. Kamu sedang ada masalah?”

Keiko terdiam, menghela nafas, lantas mengangkat bahu. “Maaf, kalau memang itu adalah masalah keluarga yang terlalu personal aku takkan memaksamu untuk-“

“Ini bukan masalah keluarga!” potong Keiko cepat. “Ya, ini memang bersifat personal, namun bukan masalah keluarga. Ini masalah…”

Bola mata gadis Jepang itu bergulir ke kiri dan ke kanan, mencari kata-kata yang tepat, meski pada akhirnya tidak dapat menemukannya. “…cinta monyet.”

“Apa? Keiko Ino jatuh cinta?” desis Yugyeom, kelewat girang. “All I know that all of your friends are girls and you hang out with them a lot so I thought you were a lesbian- Aww!”

I’m straight, Yugyeom. I am freaking straight and I’m still fall for hot boys.

Okay, so did you fall in love with school’s hot boy? Maybe he’s the jock or kingka?

No, he isn’t that hot. More cute for me. Yeah, could be considered as kingka, but not that kind of cocky and sassy kingka, ya know?

Who’s the boy?

I can’t tell it. You know him so well that you might blurt it out to him that I fall in love with him.

Okay, okay, so… What’s the problem?” tanya Yugyeom. “I’ve through that puppy love once before I got into relationship with my girlfriend. It’s pretty complicated, but it didn’t make me zoning out in the class like you.

It’s because you’re a boy so it’ll be more easier. When you fall in love you could just ask her straightforward and… Bam!! If she likes you back, congrats then. But if she doesn’t, you could just walk away and find another girl without a shame.

So it was a shame for a girl if she’s falling in love?

It’s not that! It’s just… Semuanya serba salah, Yugyeom! Kalau aku cuma menyimpannya dalam hati, itu mengganggu konsentrasiku. Toh aku tidak mungkin akan terus-menerus berakting layaknya ‘teman’ di hadapannya ‘kan? Tapi kalau aku menyatakannya, itu ‘kan memalukan. Tidak lazim perempuan menyatakan perasaannya terlebih dulu. Apalagi kalau ternyata ia tidak menyukaiku.”

“Ayolah, Kei… Ini sudah tahun 2015 dan ini sudah bukan jamannya ada kesenjangan di antara perempuan dan laki-laki! Sudah bukan sesuatu yang mengherankan kalau perempuan menyatakan perasaannya terlebih dulu.”

“Tetap saja, buatku itu tidak lazim dan memalukan.”

“Bagaimana kalau ternyata ia juga menyukaimu?”

“Eumm…”

“Apakah kalian sering mengobrol?”

“Ya.”

“Apa ia sering mengajakmu mengobrol terlebih dulu?”

“Ya, biasanya sih begit-“

“Apa ia pernah mengajakmu pergi? Jalan-jalan, menonton film, atau sekedar duduk-duduk tampan di kafe?”

“Ia pernah mengajakku ke Starbucks, tapi aku tolak karena aku sudah ada janji lebih dulu dengan temank-“

“Oke, apa ia pernah mengajakmu-let’s say makan siang atau ke perpustakaan atau apalah?”

“Ia baru saja mengajakku makan siang tadi.”

“Nah, sekarang menurutmu apakah cowok yang tidak punya perasaan apa-apa padamu akan mengajakmu mengobrol, jalan-jalan, dan blablabla sesering itu?”

“Eumm, bisa saja?”

Seriously, Kei. Kamu belum pernah mengalami cinta monyet atau apa?” Yugyeom memutar bola mata.

“Eung, pernah sih… Tapi itu waktu masih SD, jadi tidak begitu aku pikirkan,” jawab Keiko. “Jadi, dia juga menyukaiku?”

Yugyeom memukul jidatnya sendiri tanpa menimbulkan bunyi ‘plak’, lalu menatap lelah gadis di sampingnya. “Menurutmu?”

“…………”

You’re so inexperienced, Girl.

“…………what am I supposed to do?

“Kamu mau melanjutkan cinta monyetmu ini atau tidak?”

“Ya-“

“Kuanggap sebagai iya, karena cepat atau lambat, dia akan menyatakan perasaannya padamu.”

“Tapi aku harus apa kalau dia menyatakan perasaannya?”

“Ya terima, dong!” desis Yugyeom gemas. “Gosh, sometimes I wonder why are you even 18, Kei… You’re too innocent even for little puppy love stuff!

Yugyeom menatap jam yang melingkari pergelangan tangannya. Sepuluh menit sebelum bel istirahat berbunyi. Lantas kedua matanya bergulir menatap Keiko yang terdiam sambil mengetuk-ngetukkan ujung pensil mekaniknya di meja. “Kamu punya sepuluh menit untuk berpikir, Kei.”

“Hah?” tanya Keiko.

“Kamu bilang kamu mau diajak makan siang dengannya, kan? Nah, brace yourself, don’t embarrass yourself by doing something idiotic in front of your crush.

***

“Jadi, bagaimana kelas matematikanya?” tanya Jungkook, sesaat setelah melahap lauknya. Keiko mengendikkan bahu.

“Boring, as always. Sebenarnya tadi aku tidak terlalu memperhatikan, sih… Aku mengobrol dengan Yugyeom.”

“Oh, aku tidak tahu kalian di kelas matematika yang sama.”

Jungkook meminum jusnya. “Aku juga tidak tahu kamu dekat dengan Yugyeom.”

“Bukannya Yugyeom sahabatmu?”

“Ia tidak pernah cerita,” sahut Jungkook. “Sejak kapan kalian berteman?”

Katakan Keiko gila, karena ia malah tersenyum simpul dan…

“Kenapa? Kamu cemburu?”

Tidak. Sejak kapan Keiko Ino yang grogi dan pemalu di depan Jeon Jungkook bisa bicara seperti itu? Ha, mungkin ia kerasukan dan bakal berakhir menyedihkan seperti Emily Rose di film The Exorcism of Emily Rose. Ah, tapi kalau setan yang merasukinya adalah setan yang mampu membuatnya lebih percaya diri di depan Jungkook, ia takkan membiarkan pastor manapun melakukan ritual pengusiran setan untuknya.

“Eh, apa?” Jungkook nampak terkejut. “A-aku? Tentu saja tidak! Hahaha… Yugyeom ‘kan sudah punya pacar!”

Keiko tertawa pelan sebelum menyendok yogurt ke dalam mulutnya. Ha, lihat siapa yang grogi sekarang? Pikirnya begitu bangga. Jungkook berdehem pelan, lantas nyengir bajing. “Aku tidak cemburu.”

“Oh ya? Lalu kenapa kamu sepertinya peduli sekali dengan relasi di antara aku dan Yugyeom.”

“Eung… Karena aku…” Jungkook kehabisan kata-kata. Tidak, tidak. Dia sudah merencanakan acara katakan-cinta-pada-Keiko yang manis, bukan di kantin dan serba mendadak. “…peduli?”

Dahi Keiko berkerut. Jawaban macam apa itu?

“Ehehehehe…” Jungkook tertawa garing. Dalam hati ia merutuk karena baru saja mempermalukan dirinya sendiri di hadapan Keiko.

“Ah, lupakan saja,” sahut Keiko pada akhirnya, tidak mau menimbulkan kecanggungan lagi di antara mereka. Walaupun sebenarnya ia penasaran setengah mati tadi. Ia ‘kan mau membuktikan ucapan Yugyeom kalau Jungkook-bisa saja-suka padanya.

“Kei?”

“Hmm?”

“Kamu- Euhh, besok Sabtu… Ada acara?”

“Tidak, tuh. Kenapa?”

“Kita… Aduh… Bisa pergi berdua? Maksudku… Oke… Menonton film, makan, jalan-jalan, apapun-“

“Kamu mengajakku kencan?”

“A-apa? Hey, aku- Aku- Ugh, oke… Kamu boleh menganggapnya kencan atau sekedar menghabiskan akhir pek-“

“Tidak apa-apa, aku bisa perg-“

“Yamemangseharusnyakamutidakbolehmenolakkarenaakusudahmerencanakaninisejakduaminggulalu.”

“…kamu mengatakan sesuatu?”

“Lupakan saja, tidak penting,” Jungkook menghela nafas. “Jadi… Kamu bisa pergi?”

Keiko mengangguk dan melahap sesendok terakhir yogurt-nya sambil menahan tawa. “Jungkook lucu, ya?”

“Apa?”

Uhuk!

“Kei! Keiko, ada apa, sih?” Jungkook sekonyong-konyong panik saat Keiko tersedak yogurt. Buru-buru ia menyodorkan jus milik gadis itu untuk Keiko minum.

“Ugh, tidak apa-apa, kok. Sepertinya aku memang harus belajar makan dengan baik.”

Ya. Makan siang dengan Jungkook membuat Keiko seperti anak down-syndrome yang tidak bisa makan dengan benar. “Kamu bicara apa tadi?”

“Apa? Kapan?”

“Tadi, sebelum kamu tersedak.”

“Ugh, memang aku bicara apa?”

“Entahlah, aku juga tidak dengar.”

Huft, syukurlah kalau Jungkook tidak dengar! Keiko tersenyum. “Hehehe… Bukan apa-apa.”

Jungkook mengangkat bahu, lantas membereskan sisa-sisa makan siangnya dan mengumpulkannya di atas nampan, kemudian kedua manik rusanya kembali menatap Keiko. Ya, sepertinya drama murahan akan kembali dimulai.

“Kei?”

“Ya?”

Jungkook tersenyum. “Kamu benar.”

“Benar? Benar apanya, ya?”

“Kamu memang harus belajar makan dengan baik.”

“Uhh-“

Keiko membeku saat Jungkook mengusap dagunya dengan selembar tisu. “Ada sisa yogurt.”

Keiko hendak berbicara, namun bel mendahuluinya. Jungkook lantas berdiri, mengangsurkan sisa makanan di atas nampannya ke tong sampah dan meletakkannya di tempat nampan kotor.

“Jadi…”

“Jadi…?”

“Ketemu lagi pulang sekolah?”

“Kita-“

“Pulang bersama lagi?”

Keiko memejamkan mata sejenak dan menghela nafas. Entah mengapa semakin lama ia semakin mual. Aku juga jadi ingin muntah sekarang. Ya Tuhan… Aku memang belum duduk di sekolah menengah atas dan aku lebih muda dari Keiko maupun Jungkook, namun aku di sini diam-diam memanjatkan doa kepada Tuhan…

…semoga saat aku sudah seusia mereka nanti, aku tidak mengalami cinta monyet penuh drama seperti mereka.

Tidak.

Aku tidak mau.

Aku hanya mau menuliskannya untuk kalian.

Sudahlah.

Cinta monyet itu gila. Dan sedikit menjijikan, kalau boleh aku tambahkan.

.

.

.

-fin

Notes :

HAHAHAHAHAHA BENTAR AKU BENERAN MAU MUNTAH-

ENDING MACAM APA ITU HAH TOLOL GAMUTU BANGET 😄

INI PANJANG BANGET YA ALLAH UDAH PANJANG NGGAK BERMUTU LAGI DUH RANI BLOON KAMU //mentally scolding myself

Sesuai doaku di atas, aku nggak mau SMA nanti bernasib sama kayak Keiko. Apalagi cowoknya bukan Jungkook bye

Advertisements

2 thoughts on “#IceCreamCakeSeries – Somethin’ Kinda Crazy

  1. ALL HAIL THE MAGIC CONCH! ULULULULULUL~ ((eh)) ((bukan)) ((itu mah sponsbob han))

    WAH PARAH INI KEREN BANGET NGGAK NGGAK BISA GITU NGGAK BISA ENDING GITU AJA TOLONG KAK IT’S LIKE I’M NOT GOING TO DIE IN PEACE //EH.

    Oke, biarkan aku mengapresiasi tiap kalimat yang Kak Rani sajikan di sini sehingga fic yang satu ini bisa jadi perfect seutuhnya. FLAWLESS ;;__;;
    Sukak bangettt. The way you write this fic in writer’s point of view it’s just amazing. Maksudku, Kak Rani bener-bener nulis dari sudut pandang penulis. Berani bangett 0m0 0m0 senpai you are the truly mastaaahh ;;___;; POKOKNYA SUKA SAMA BAGIAN YANG SATU ITU. LUCUK HAGHAG xD

    Komedinya, fluffnya, romancenya. Semua dapet. Terus soal karakter……….gatau kenapa Yugyeom favorit akuuu WAHAHAHAH. NGGAK SERIUS INI NGGAK SUBJEKTIF BENERAN .__.v Maksudku, di sini keliatan banget kalo dia adalah seorang love expert yang walopun udah ada ciweinya masih sempet tebar pesona sana sini sehingga membuat hidup gadis-gadis hormonal ((nyicip/? dikit ungkapan Kak Rani di fic sebelumnyaa WAHAHAH xD)) nggak tenang. Terus Keiko. Hah. Ini anak kenapa polos banget coba kutanya xD

    Sukaaaaaaaaaaaaaa huhu entah berapa kali aku harus bilang ‘KEREN’ buat Kak Rani ;;___;; Guyonan Kak Rani selalu segaarr. Terus cara Kak Rani deskripsiin tentang cinta monyet versi si KeikoxJungkuk yang beda dari yang lain baguss bangett THAT’S ILLEGAL YA KNOW.

    OKE FIX.

    BAPER HARI INI DISPONSORI OLEH FIC KAK RANI.

    BHAY ❤

    1. Wakakakak about this one, I wasn’t expected to write that long dan berakhir penulisnya malah curhat sendiri berharap nanti SMA nggak ngalamin cinta monyet cem KeiKook 😄
      Aku juga gatau apakah cinta monyet ala anak SMA itu sekacau itu hahaha kalau iya (sekali lagi) no thanks aku gamau ngalamin.
      Makasih udah baca, like, sama review ^^

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s