30 Days Blogging Challenge – #Day6 “Biggest Fear(s)”

30-day-blogging-challenge

A little story, sebenernya gue lupa bahwa challenge hari ini belon gue post. Ingetnya hari ini masih day 5 wahahahaha bego 😄

Challenge of the day : What are you afraid of?

WHAT KIND OF QUESTION IS THIS ASDFGHJKL-

Setelah kemarin gue menjadi orang sok bijaksana yang bicara soal momen-membanggakan-dari-sudut-pandang-lain dan iman-tanpa-perbuatan-adalah-sia-sia, kenapa sekarang–

Apa sih yang gue takutkan?

Mungkin gue bisa menjawab ‘minyak panas’, ‘reborn baby doll’, ‘cicak’, dan sejumlah alasan bodoh lainnya untuk merasa takut. Tapi karena ini adalah sebuah blogging challenge, tentu yang dimaksud nggak sesederhana dan sekonyol itu. Pasti lebih serius.

Seperti takut untuk mati, misalnya. Ketakutan yang klise sebagai manusia biasa. Semua orang-sepasrah apapun dia sama Tuhan-gue yakin pasti ada aja saat-saat dimana dia merasa takut untuk mati. Takut mati sementara dia masih punya urusan ini-itu, sementara keluarganya cuma menggantungkan tali kehidupan padanya, sementara orangtuanya belum sempet ngelihat dia sukses dan dibawa naik haji, etc.

Gue sendiri juga nggak jarang takut mati. Karena kalau gue mati sekarang, kematian gue adalah sia-sia. Gue merasa nggak pantas mati di saat gue masihlah seorang remaja bego yang nilainya merah terus di mapel matematika dan belon bisa bahagiain ortu. Walaupun kalau dihitung-hitung, sebenernya kalo gue mati keluarga gue rada untung juga karena dapet uang dari asuransi gue.

Yakali.

But actually, my fear of death before everything has finished yet isn’t as big as my fear of my beloved people’s death. Ya, sebejat-bejatnya gue, gue masih sayang sama orang-orang yang selama ini bener-bener deket dan membawa perubahan besar dalam hidup gue. Tapi, kematian bukanlah ketakutan utama gue.

Gue kadang nggak tahu apa yang gue takutkan.

Gue nggak takut hantu, since I was born with sixth sense dan it’s common for me buat dikit-dikit ‘laelah lu lagi lu lagi ngapain di sana’.

Gue juga nggak takut sama orangtua, karena buat gue orangtua bukan buat ditakuti, tapi dihormati. Berarti kalo ada ortu yang kalo marahin anaknya ‘DASAR ANAK KURANG AJAR NGGAK PUNYA RASA TAKUT SAMA ORANGTUA!!!’ tuh tipe ortu yang adigang adigung adiguna ya? Dia pengen eksistensinya ditakuti oleh anak-anak, bukannya disegani. Padahal kalo kita ngebiasain anak kita supaya takut sama kita, nanti berpengaruh ke mentalnya. Dia akan belajar prinsip yang salah bahwa ‘kalo gue begini, maka gue akan bikin takut semua orang sama gue’. Kemudian dia juga bakal jadi orang adigang adigung adiguna gitudeh, yang ada malah bikin orang lain nggak respek sama dia. Orang lain bakal cuma berpikir ‘alah si X menang galak doang tau gak, mulut doang yang gede kek toa!’.

Lah ini kenapa malah macem konsultasi orangtua dan anak? Lanjut!

Gue nggak takut sama Tuhan. Well, I respect Him as King of kings, or whatever we call it, tapi respek bukan berarti gue harus takut. Yaiyalah, kalo gue takut sama Tuhan, gue nggak akan pernah berdoa sama dia. Takut dimarahin soalnya kalo doa suka songong.

Tapi kalo bicara soal masa depan, yang namanya ABG labil macem gue pasti adalah saat-saat dimana gue takut akan apa yang bakal terjadi suatu hari nanti.

Gimana kalo nanti gue nggak sukses?

Gimana kalo nanti cita-cita gue ditentang sama orangtua?

Gimana kalo nanti gue gagal pas kuliah?

Gimana kalo nanti, nanti, dan nanti…

Gue akui gue juga sering insecure soal masa depan gue. Bedanya, kadang gue takut untuk bertambah tua. Simply called me a female version of Peter Pan, who didn’t want to growing up.

Seeing what this cruel world has done to every adults I knew, such as my mom, my dad, and others… It makes me feel so insecure. How if one day I can’t survive? I know it’s kinda unrealistic karena pastinya semakin kita dewasa, mental kita juga makin dikuatkan buat menghadapi ‘dunia yang sebenarnya’, dunia yang selama ini keliatan ‘kampret kok idup kayaknya susah banget’.

Hahaha… Mungkin gue takut bertambah dewasa karena gue belum bener-bener menghadapi dunia. Gue belum tahu gimana rasanya menjadi orang dewasa. Mungkin sebenernya rasanya biasa aja (buat orang dewasa). Susahnya juga susah biasa aja, nggak sampe bikin ngerasa kayak ini hari terakhir kita hidup di dunia. Cuma karena gue masih inexperienced itulah, gue memandang bertambah dewasa sebagai hal yang cukup menakutkan.

…………kemudian gue kehabisan kata-kata.

Ya intinya, di atas adalah beberapa hal yang gue takutkan. And my biggest fear is growing up.

But I know that as time goes by, that fear to growing up will disappear. Pasti akan menghilang seiring gue bertambah dewasa dan menikmati bagaimana hidup sebagai orang dewasa.

Gitu ajasih.

Bye.

.

.

.

-fin

Advertisements

2 thoughts on “30 Days Blogging Challenge – #Day6 “Biggest Fear(s)”

  1. 0m0 you are so bijak Kak Ran. Suka bgt sama bagian orang tua yang minta ditakutin. Sama bagian your–eh, tepatnya, our fear to growing up. H3h3 :” ((iya)) ((udah))

    1. Hai haiiii 😀
      Hehehe iya soalnya suka sebel aja kalo liat ortu yang bukannya minta supaya anaknya respek, malah minta ditakutin, emang dia monster apa gimana -_-
      Btw, makasih suka baca ya, Hani!!

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s