30 Days Blogging Challenge – #Day5 “Proudest Moment”

30-day-blogging-challenge

Bicara tentang challenge hari ini, sebenernya gue sedikit bingung mau jawab apa.

Proudest moment?

Momen dimana gue berada dalam titik paling bangga dalam hidup gue, gitu?

Maksudnya gimana?

Momen dimana gue merasa bahwa hidup gue nggak sia-sia dan punya achievement yang bisa dibanggakan?

Au ah.

Yha gitulah. Sebenernya gue bingung apa yang mau dibanggakan dalam hidup gue yang baru berjalan hampir limabelas tahun dan itu aja udah lebih berantakan daripada tumpukan celana dalem yang belon dicuci dua minggu terakhir. Gue bukanlah tipe bocah dengan kepinteran sundul langit yang ikut olimpiade sana-sini, menang lomba ini-itu, dan disirami pujian dari setiap orang. Atau gue juga bukan tipe bocah femes primadona sekolah yang lebih sering absen daripada masuk karena kebanyakan ikut fotosyut majalah atau malah syuting FTV kisah cinta menye-menye.

Jika yang dimaksud ‘proudest moment’ sesempit itu maknanya.

Kenapa gue bilang sempit?

Karena buat gue, momen membanggakan tuh nggak melulu ketika kita menang olimpiade, jadi pemeran utama dalam sebuah film layar lebar, atau apapun yang membuat kita menyandang predikat sebagai ‘si nomor satu’. Buat gue, momen membanggakan tuh sesederhana ketika seorang ibu ngeliat anaknya pertama kali jalan tanpa pegangan apa-apa.

Ya sesederhana itu aja. Momen membanggakan nggak harus ketika kita jadi juara, tapi ketika kita berhasil mencapai sesuatu-apapun itu-yang membuat sebuah kemajuan atau perubahan positif dalam hidup kita.

Wasek bahasa gue!!

Ehem.

Yagitude. Buat gue yang selalu memandang bahwa ‘semua hal bisa terasa sederhana kalau kita mau memandangnya dengan sederhana juga, tanpa perlu memikirkan teori ini-itu’, maka gue juga memandang bahwa momen membanggakan tuh sederhana.

Ketika gue yang biasanya males, kalo liburan bangun jam 11, sekarang kalo liburan bisa bangun jam 7 dan bantuin nyokap beberes rumah, apakah itu bisa dibilang sesuatu yang membanggakan?

Ketika gue yang biasanya tukang tidur di kelas dan sekarang bisa lebih fokus, apakah itu bisa dibilang sesuatu yang membanggakan?

Ketika gue yang biasanya nggak pernah berdoa-bahkan setidaknya berucap ‘Ya Tuhan terimakasih atas hari baru yang Kau berikan’ dalam hati-mulai melakukannya, apakah itu bisa dibilang sesuatu yang membanggakan?

Selama itu adalah perubahan dan kemajuan positif dalam hidup, itu cukup membanggakan. Setidaknya di mata gue.

Sama seperti seorang ibu yang punya anak preman brengski abis, namun pada suatu hari ngeliat anaknya bertobat dan masuk biara, atau malah seminari biar jadi pastor sekalian, apa ibu itu nggak bangga? Ngeliat anaknya yang tadinya bikin pengen tobat nasuha, sekarang udah melakukan perubahan besar untuk menjadi seseorang yang mengabdikan sisa hidupnya pada Tuhan dan orang lain.

Begitulah.

Bagi gue, proudest moment is when you make one achievement or good change in your life, not when you stand on the first position and hold a big trophy. Bukan ketika kita dihujani tepuk tangan meriah dan puji-pujian yang bikin pengang kuping.

That’s it.

Proudest moment in my point of view.

.

.

.

-fin

Advertisements

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s