30 Days Blogging Challenge – #Day3 “Favorite Quotes”

30-day-blogging-challenge

Challenge of the day : favorite quote.

Actually, I have many favorite quotes ’til I’m not sure that I can count, and I have my own quotes (that made by myself).

Sebenarnya kalo ditanya gunanya quote tuh buat apa, orang malah bingung mau jawab apa. Karena rata-rata quote jaman sekarang cuma buat diedit-edit onyo di tumblr, terus buat memancing kebaperan para anak jaman sekarang, dan unfortunately gue salah satu korbannya. Fuck it. Padahal setau gue quote tuh adalah kata-kata yang digunakan buat memberi motivasi, inspirasi, dll. Bukannya buat berbaper ria //padahal diri sendiri salah satunya //bunuh saja gue di rawa-rawa

Kalo favorite quote, gue yakin nggak mungkin orang-orang punya cuma satu yang mereka favoritkan. Mesti ada banyak, karena fav quotes juga tergantung sikon. Gimana sih kok bahasanya bikin bingung? I mean, kalo situasinya kayak pas jaman gue baper ditinggal Kris itu, mesti quote yang buat encourage beda dengan ketika gue stress mau UN.

Ketika gue baper ditinggal Kris, mungkin encouraging quote-nya macem ‘the ones who will leave will never come back no matter how hard we beg’. Kan nggak mungkin quote macem gitu dipake buat encourage gue yang stress mau UN. Atau sebaliknya, misalnya mau UN kemudian encouraging quote-nya adalah ‘practice makes perfect’ kan juga gabisa dibuat encourage gue dan jutaan anak Hawa dengan hormon esterogen ambyar yang nyaris satu tahun lalu menangisi Kris.

Daaann… Instead of ngeshare quotes favorite dari orang-orang ternama yang kesebar di tumblr (yang pasti sebagian besar orang udah tau), gue bakal ngeshare quotes buatan gue sendiri. Pertama kali bikin quotes tuh waktu bantuin temen buat ngasih quote untuk foto-foto yang bakal diaplot sama dia di tumblr, dengan tema friendship. Terus lama-lama suka tetiba bikin quotes sendiri buat semacem self-encourage.

Harapan gue sih semoga quote buatan gue juga bisa jadi motivasi buat orang lain, hehehehe…

Yodalah daripada banyak bacot, here we go!!

***ABOUT FRIENDSHIP***

Gue bikin banyak banget yang ini ya salah satunya seperti yang udah gue sebutkan di atas, gara-gara temen gue itu.

Dan dari banyak quotes yang gue bikin, berikut adalah beberapa yang bener-bener ngena feelsnya buat gue.

Maksudnya, nggak kerasa bikin ya bikin doang, tapi juga punya makna buat diri sendiri.

***

“Someday, I will see you as a genius,

but I’m pretty sure when we meet again,

we will be idiots who only know how to cursing and making dumb jokes.”

###

Ya. Mungkin seperti itulah gue akan melihat temen-temen gue beberapa tahun mendatang.

Mungkin mereka semua udah jadi orang-orang sukses, pinter, tajir, tapi tetep… Yang gue inget bukanlah mereka yang tajir-tajir itu, melainkan beberapa tahun sebelumnya alias sekarang, dimana yang gue kenal adalah mereka yang bego, misuhan, rame, dll.

Ehe.

“They said home is a person.

So I found ‘home’ in my friends.”

###

Ini bukan berarti gue mau jadi anak durhaka yang memprioritaskan temen lebih dari keluarga.

Ya namanya ABG labil yang susah dimengerti, pasti kadang merasa lebih nyaman bareng temen kan? Bareng orang-orang sepantaran yang masih sama-sama labil dan belajar menjadi orang yang lebih baik.

Diibaratkan ‘rumah’ karena rumah adalah tempat paling nyaman di dunia. Percaya deh, sekalipun lo mendapat liburan setahun penuh di Maladewa pun, lo pasti bakal kangen rumah lo sendiri.

Temen itu sama kayak rumah. Bikin kita merasa nyaman dan bebas, bikin kita bisa jadi diri sendiri. Sama seperti kita pas ada di rumah, kita kan bebas mau jungkir jempalik, petakilan, dll. Gitudeh…

“There are only 3 things that could change my whole life.

Friends, love, and school.”

###

Nah, menurut gue tiga hal di atas adalah hal yang paling memberikan pengaruh di masa remaja tiap orang.

Sahabat, cinta (monyet), dan sekolah.

Karena ketika kita remaja, rata-rata kita menemukan jati diri kita bukan di keluarga, melainkan melalui temen, melalui kisah cinta monyet kemlenyek itu juga, dan di lingkup sekolah.

“Parents understand you but they never listen.

Sometimes friends don’t understand you but they always listen.”

###

Ini pengalaman pribadi aja sih.

Orangtua pasti tahu apa yang kita mau karena mereka pernah muda seperti kita, tapi terkadang mereka nggak mau denger dan bahkan nggak mau tahu. Katanya ‘alah biasa anak muda, labil!’. Sometimes it hurts when everyone said you’re immature for an excuse to let’s say ngacangin.

Sedangkan temen?

Kadang mereka nggak tahu kita maunya apa, karena sama-sama masih labil, jadi clueless. Tapi mereka tahu kalo kita cuma pengen didengerin. Kita cuma pengen membagi ‘ini lho sekarang gue lagi ngerasa begini’.

Dan buat gue pribadi, banyak saat-saat dimana gue tahu apa yang tengah atau akan gue hadapi, hanya saja gue cuma butuh untuk share ke orang lain. Didengerin sama orang lain. And my friends did.

“We will grow up, we will change, we will be separated by time and distance,

but we will never forget our memories of friendship.”

###

Ini sebenernya paling klise sih.

Kita bakal bertambah dewasa, kita berubah, bahkan kita bakal dipisahkan oleh waktu dan jarak.

Tapi yang namanya memori-apalagi sama sahabat-pasti akan susah dilupain.

Udah itu aja //krik krik

“I believe that every man’s jerk except my boy friend.”

###

Perlu ditekankan, bahwa di sini adalah boy(space)friend alias temen cowok. Ehe.

Buat gue, semua cowok brengsek. Ya, semua cowok punya posibilitas dan probabilitas untuk menjadi brengsek. Bahkan mungkin temen cowok gue sendiri. Tapi gue yakin, yang namanya cowok, sebrengsek apapun dia, dia nggak akan sampai hati buat ngebrengsekin temen ceweknya sendiri.

Ea.

“Friendship is a cup of craziness.”

###

Ini sebenernya ngasal bikinnya biar terdengar fluffy onyo menye-menye aja sih XD

Kenapa gue milih ‘cup’? Yah yang namanya gila-gilaan gaosa banyak-banyak atuh, segelas aja cukup.

Kebanyakan ntar gila beneran.

“Always fooling around and cursing each other doesn’t mean our friendship is bad. Someday you’ll realize that all dumb things we did made our friendship unforgettable.”

###

Nah ini juga pengalaman pribadi.

Temen sejati nggak harus diukur dengan kita selalu manggil mereka beb/say/sis/etc kemudian sering-sering hang out like a sassy bitch.

Temen sejati bisa jadi adalah temen yang saling memanggil nyet/jing/cok/etc sambil geplak-geplakan dan misuh-misuh.

Bukan berarti pertemanan kita buruk. Karena suatu hari, hal-hal konyol yang kita lakukan lah yang akan menjadi sebuah memori yang sulit buat dilupain.

Weanjeng bahasanya…

“How much we fight each other,

I always forgive you

‘cause you’re my best friend and I don’t wanna lose you.”

###

Hehe… Ini… Juga… Gimana ngomongnya?

Yang namanya sebuah relasi-apapun itu-pasti nggak ada yang sempurna kan? However, pasti akan ada saat-saat dimana sebuah argumentasi mencuat di antara kita dengan orang lain dalam relasi itu. Sama halnya dalam pertemanan.

Sedekat apapun gue dengan anak-anak Sudi Mampir, bukan berarti nggak ada kemungkinan kita bakal berantem. Kita pernah kok berantem yang serius sampe diem-dieman.

Dan tanpa perlu kita ‘eh maafin gue dong, gue tau gue blablah…’ yang justru bikin suasana tambah awkward, kita udah baikan dengan sendirinya. Entah gimana awalnya pokoknya tetiba udah blend ngakak-ngakak bareng lagi. Padahal beberapa jam sebelumnya masih lirik-lirik judes.

Begitulah yang namanya sohib. Nggak peduli berapa sering berantem, yang namanya sohib mesti bakal maafin. Sebab katanya sahabat tuh susah dicari, jadi jangan sampe kita nyia-nyiain mereka.

“Maybe I’m the poorest, the dumbest, and the ugliest person in the world.

But I’m also the luckiest ‘cause I had a best friend like you.”

###

Buat gue, gue nggak peduli ketika suatu hari nanti gue nggak jadi orang tajir, gue nggak jadi orang yang pinternya melebihi Einstein, atau cantiknya bikin the whole world stopped and stare for a while kayak lagunya Bruno Mars. Apalah artinya tajir, pinter, dan cakep kalo lo gapunya sahabat di samping lo?

Gue akan merasa lebih beruntung ketika gue punya sahabat yang selalu mendukung dan nerima gue apa adanya, daripada gue hidup dalam gemerlapan duniawi tapi sejatinya kesepian. Eak bahasa.

“Best friend will protect behind so you won’t fall,

will stand beside so you won’t be alone,

and will hold your hand in front so you won’t be lost.”

###

Ini mirip-mirip quotenya Ki Hajar Dewantara yang ‘ing ngarsa sung tuladha, ing madya mbangun karsa, tut wuri handayani’ alias ‘di depan ngasih contoh, di tengah memberikan kekuatan, (yang terakhir rada lupa) di belakang ngasih dukungan’.

Sahabat itu orang yang bakal ngelindungin lo di belakang sehingga lo nggak akan jatuh, yang bakal berdiri di samping lo sehingga lo nggak akan merasa kesepian, dan yang bakal menggandeng lo di depan lo sehingga lo nggak akan ilang di tengah dunia yang fana dan naujubillah kejemnya ini.

Lah.

“A friend makes absurdity feels precious to do.”

###

Simple, tapi cukup ngena sih buat gue.

Temen selalu bikin lo merasa bahwa hal setolol apapun seru buat dilakukan, karena dia bikin lo nyadar bahwa akan datang hari dimana lo nggak bisa ngelakuin itu lagi, entah karena kalian udah dewasa atau karena hidup jauh-jauhan sama temen.

“Never count how long we spent our time together,

‘cause precious moments are uncountable.”

###

Ya. Kita nggak perlu ngehitung seberapa lama kita bersahabat dengan si A, si B, si C. Boleh sih yang namanya bikin anniv taonan cem Sudi Mampir, tapi nggak perlu kemudian ketika kita berantem, terus kita ‘ternyata selama ini gue udah ngebuang taun-taun yang ga berguna buat jadi temen lo ya BHAY’. Kesannya kayak kita nggak tulus banget temenannya.

Momen berharga sama temen itu susah dilupain, tapi juga susah diitungin.

Gue dalam hampir dua tahun terakhir sama Sudi Mampir aja, udah banyak momen-momen seru yang kita lewatin, tapi gak ada satupun yang bisa gue itungin. Gitu lho.

***ABOUT LIFE***

Daripada postingan ini makin panjang, langsung ajalah.

***

“Life is a suggestion.”

###

Buat gue pribadi, hidup adalah masalah sugesti. Memang sih hidup itu udah ada garisan takdirnya di tangan Tuhan, tapi bukan berarti kemudian kita harus selalu go with the flow ‘alah udah takdir’ ‘ah yaudah namanya juga nasip’, gitu kan?

Hidup itu sugesti dan gue udah membuktikannya.

Ketika gue bilang ‘gue pasti bisa ngelakuin ini’ dan gue beneran bisa. Ya meski nggak sesempurna ekspektasi but at least I can do it, right? Dan ketika gue bilang ‘duh anjir kayaknya gue gabisa ntar kalo gue begini begitu gimana?’ beneran kacau ambyar gabisa.

Ya kira-kira begitu.

“Life is a war field so no one should be pitied.”

###

Jahat sih, but admit it. Hidup kan emang keras. Kayak di medan perang. Kayak di Hunger Games maupun The Maze Runner. Pola ‘selalu ada yang menang dan kalah’ selalu berlaku dalam kehidupan. Ada yang nggak bisa survive, ada yang bisa.

Karena hidup adalah persaingan, maka nggak ada orang yang perlu dikasihani. Bahkan ketika gue melihat ada orang meninggal dan orang lain bilang ‘tck kasian padahal keluarganya kan masih butuh’ atau ‘ya ampun dia kan masih muda, belum sempet apa-apa, udah diambil aja sama Tuhan’ dan gue cuma menanggapi ‘yaudah sih namanya takdir gausah dikasihani’.

Jahat banget, tapi mati kan juga takdir. Atau dalam konteks peperangan tadi, ketika lo udah ketembak mungkin right on your left chest or head, lo gabisa apa-apa lagi kan selain ‘Ya Tuhan, jika memang sudah tiba waktuku…’? Dan dalam peperangan, ketika kita malah sibuk menangisi dan mengasihani yang ketembak tadi, yang ada malah kita ikut ketembak.

Ya gitulah intinya.

“Let’s live our life and do whatever we want as long as it’s not bothering other people’s business.”

###

Yha. Idup kan sekali doang. Sekalipun ada yang namanya reinkarnasi, juga kita akan merasakan kehidupan yang berbeda dengan sebelumnya.

Jadi dalam kehidupan yang cuma sekali itu, kita harus memaksimalkannya sebaik mungkin. Lakukan apapun yang kita pengen selama itu nggak ganggu kepentingan orang lain.

“Don’t live for people’s dream.”

###

Ini adalah quote yang muncul ketika gue kesel sama orang-orang di sekitar gue yang suka memberi wejangan soal masa depan tapi entah mengapa terdengar sok tahu.

Contoh :

“Ran, kelas berapa sekarang?”

“Kelas sembilan, Tante.”

“Ooo… Nanti kuliahnya mau kuliah apa?”

“Hehe, belum tahu, mungkin komunikasi.”

“Lhoo… Jadi dokter aja. Ibumu bidan to? Ibumu bidan kamu dokter to. Dokter tuh kehidupannya menjanjikan, blablabla…”

atau

“Anak cewek kalo masuk hukum tuh menjanjikan lho, blablabla…”

Ya bukannya gue mau sok-sokan gabutuh wejangan orang yang udah lebih tua, tapi gue sebelnya ketika gue bilang ‘Hehe, ya nggak tau sih, tapi kayaknya nggak ada minat ke situ, pengen masuk jurusan komunikasi atau hubungan internasional aja.’ kadang emang ada yang terus ‘ooo nggak ada minat ya? yaudah daripada nanti malah ndak lulus-lulus.’, tapi ada juga yang ngotot ‘Loh kamu tuh anak cewek ndak usah aneh-aneh, blablabla…’, ‘Loh tapi kan jurusan ini lebih blablabla…’ YAKALI LU NGOMONG GITU KE ANAK LU SENDIRI NAPA KENAPA GUE JADI KORBAN BETAPA NGOTONYA ELU //banting semuanya

Intinya, gue gamau hidup hanya untuk nurutin pengennya orang lain. Kayak si Farhan di film 3 Idiots, yang kuliah teknik cuma demi nurutin ayahnya, padahal interest dia ada di fotografi alam liar.

Sebenernya kalo quote tentang life gue gapunya banyak sih. Mungkin karena gue idup juga masih lima belas tahun, hehe…

***

Gue gamau ngomong soal cinta-cintaan soalnya… Yah ngapain sih alay banget? Masih kecil juga. Terus ya kira-kira di atas itu quote yang bisa ngasih self-encourage buat gue.

Btw ini postingan panjang bener ya? Gue aja kayaknya males buat re-read sebelum ngepost. Hehehehe…

See you in the next post, bye~

.

.

.

-fin

Advertisements

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s