[Vignette] Hujan di Sore Hari

tumblr_inline_nazs4nugIw1s6uwrt

.

.

.

“Jangan memandang melalui jendela terlalu lama ketika hujan turun di senja hari.”

.

.

.

Ketika langit petang semaking gelap dan matahari mulai terlelap dalam tidur, petir menyambar-nyambar langit sesekali, menimbulkan percik-percik garis keperakan tidak beraturan serta gemuruh yang membuat umat manusia enggan untuk keluar dari rumah barang sedetik saja. Karena mereka tahu, sebentar lagi langit mau menangis dan mereka tak mau ambil resiko basah-basahan atau terjebak hujan.

Gadis kecil itu menerawang jauh keluar melalui jendela yang mulai dihiasi titik-titik air. Sepasang manik legamnya menatap polos titik-titik air yang menderas membasahi apa saja yang ada di permukaan bumi. Lantas menatap langit gelap yang masih dihiasi kilat sekali-dua kali, yang mana sama sekali tak membuatnya gentar.

“Taegeuk,” panggil seseorang. Gadis itu cuma menoleh sebentar, lalu kembali asyik dengan dunianya.

“Sedang apa?” tanya orang itu, sembari menyamakan tinggi badannya dengan gadis yang dipanggil Taegeuk tadi.

“Lihat hujan,” jawab Taegeuk. “Kok bisa air turun dari langit banyak sekali, ya?”

“Karena langit sedang menangis.”

“Memang bisa?”

“Bisa. Taegeuk saja bisa menangis, masa langit tidak?”

Taegeuk manggut-manggut mengiyakan jawaban irasional ayahnya, toh nalarnya masih belum sampai untuk menjangkau logika mengapa-hujan-turun yang sebenarnya. Taehyung-ayah gadis berusia tiga setengah tahun itu-kini turut menerawang jauh keluar. Sejenak kemudian maniknya bergulir ke samping kanan, menatap Taegeuk.

“Sudah, yuk! Kita nonton film saja!” ajak Taehyung.

“Sebentar, tunggu langitnya selesai menangis dulu,” sahut Taegeuk.

“Hah? Buat apa?”

“Nanti kalau langit sudah selesai menangis, Taegeuk mau tanya kenapa ia menangis.”

Taehyung menghela nafas. Kepolosan putrinya memang menggemaskan, namun bisa-bisa Taegeuk berakhir kesurupan kalau kelamaan melamun. “Taegeuk, jangan memandang melalui jendela terlalu lama ketika hujan turun di senja hari.”

Taegeuk menatap ayahnya penuh tanya. “Kenapa?”

“Nanti kamu didatangi hantu.”

“Hah? Masa sih?” Taegeuk mulai penasaran.

“Iya, kalau kita memandang terlalu lama melalui jendela saat hujan, kita akan didatangi hantu. Konon ia adalah seorang pria muda yang baru saja pulang dari kantor dan hendak melamar pacarnya. Dulu, sebelum tempat kita ini jadi perumahan, di sini adalah jalan pintas yang biasa dilalui orang kalau tidak mau terkena macet di sore hari.”

“Terus, terus, kenapa orang itu jadi hantu, Yah?” Taegeuk makin tertarik. Bokongnya dihempaskan begitu saja ke lantai, diikuti oleh Taehyung.

“Taegeuk tahu tikungan dekat rumah Bu Han yang galak itu, kan? Nah, mobil pria itu tiba-tiba mogok di sana. Saat itu jalanan benar-benar sepi sehingga tidak ada yang bisa ia mintai bantuan,” cerita Taehyung. “Hujan mulai turun dan ia memutuskan untuk meninggalkan mobilnya, lalu berjalan ke rumah pacarnya yang tidak jauh dari sana. Namun tiba-tiba, beberapa orang preman datang dan merampok pria itu. Ia juga membunuh pria itu dan meninggalkan mayatnya tergeletak di jalan, basah terguyur hujan.”

Manik Taegeuk membulat, dipenuhi rasa ingin tahu yang bercokol dalam hatinya, serta pertanyaan-pertanyaan polos yang ingin sekali ia lontarkan dalam sekali tarikan nafas. Taehyung mendekatkan wajahnya ke wajah Taegeuk. “Konon, arwahnya masih penasaran. Ketika hujan turun di sore hari, ia akan mengetuk jendela rumah-rumah, meminta untuk menumpang berteduh, namun saat dibukakan pintu, ia menghilang begitu saja. Atau kadang ia tetap ada di sana, tapi penampilannya berubah. Bajunya menjadi sobek-sobek dan berantakan, wajahnya penuh luka, pokoknya mengerikan!”

Kedua mata Taegeuk mengerjap-ngerjap, antara penasaran dan terkesima oleh cerita ayahnya. Sementara Taehyung diam-diam bangga akan dirinya sendiri. Mungkin sehabis ini aku jadi penulis kisah-kisah horror saja, batinnya.

Sementara itu, Hyojin yang entah sejak kapan mendengarkan cerita Taehyung dan duduk di sofa tak jauh dari mereka cuma bisa memutar bola mata dan menggelengkan kepala berkali-kali. Ia kan tidak melahirkan Taegeuk dengan susah payah hanya untuk mendengarkan bualan ayahnya.

Ia sudah sejak kecil tinggal di daerah ini dan cerita Taehyung 90% omong kosong. Memang, sih dulu tempat ini adalah jalan pintas di antara kebun milik pemerintah sebelum dijadikan kompleks, namun tidak pernah ia dengar ada kisah soal pria yang dirampok dan sebagainya.

“Entah kenapa, Taegeuk, tiba-tiba Ayah mendapat firasat buruk,” ucap Taehyung.

“Kenapa, Yah? Apa hantunya akan datang ke rumah kita?” Taegeuk yang biasanya tidak takut akan kisah-kisah gaib mendadak ikut merinding juga, membayangkan bagaimana kalau hantu yang ayahnya ceritakan benar-benar datang ke rumah mereka. Bagaimana kalau hantu itu datang karena ia terlalu lama berdiri di depan jendela tadi?

“Mungkin. Pokoknya firasat Ayah benar-benar tidak ba-“

“Tentu saja firasatmu buruk, Kim Taehyung,” sela Hyojin yang sudah tidak tahan melihat putrinya dibodohi oleh Taehyung.

“Hantunya akan datang ke rumah kita, Ma?” tanya Taegeuk.

“Bukan hantu, Sayang,” kini Hyojin menatap malas Taehyung. “Tebak celana dalam siapa yang belum diangkat.”

………….

………………….

…………………………

“HUAAAAAA KIM HYOJIN KENAPA KAMU JAHAT SEKALI, SIH PADA SUAMIMU SENDIRI?!”

Yeah, kurasa itu jauh lebih mengerikan daripada hantu. Apalagi kalau kau tidak punya banyak pakaian dalam kering dan bersih lagi di lemarimu.

***

Hyojin terkekeh puas seraya mengaduk kopinya. Samar-samar masih terdengar suara ribut yang dibuat Taehyung, yang kini sedang sibuk mengeringkan pakaian dalamnya entah bagaimana caranya. Biar saja ia dibilang istri yang kejam. Ia sedang ingin mengerjai Taehyung (yang notabene lebih sering mengerjainya). Atau lebih tepatnya, membully Taehyung.

Hyojin membawa cangkir kopinya ke ruang keluarga, menghempaskan pantatnya di sofa, dan meraih remote. Sudah lama ia tidak menonton film atau drama di televisi.

Tuk, tuk, tuk…

Hyojin mendesah, lantas beranjak dari sofa. Ketukan di jendela barusan menginterupsi acara santai di sore harinya. Namun tiba-tiba tubuh Hyojin membeku di tempat. Bulu kuduknya meremang, kakinya melemas, dan matanya membulat tak percaya melihat pemandangan apa yang disuguhkan di luar jendela.

Sayup-sayup didengarnya suara Taegeuk dan Taehyung yang tengah mengobrol.

“Yah, kata Mama hantunya tidak ada!” protes Taegeuk. “Mama cerita ke Taegeuk kalau Mama sudah tinggal di dekat sini sejak kecil. Tidak ada orang yang pernah tewas dirampok di sini.”

Well, asal kamu tahu, Taegeuk,” sahut Taehyung.

Hyojin melihat dengan jelas siapa di luar sana.

Seorang pria muda. Berpakaian ala pegawai kantor. Basah kuyup.

Dan yang terpenting, wajah yang separuhnya rusak dan bersimbah darah.

“…..kejadian itu sudah lama sekali. Bahkan sebelum Mama lahir.”

.

.

.

-fin

Notes :

Hi! How was it? Creepy enough? I know I’m not really good at this kind of story, but hope you enjoy!

P.S. : Semoga di masa depan nanti Taehyung nggak dapet istri sekejem Hyojin. Kasian anak orang.

P.S.S. : Sebenernya lagi ujian sekolah, tapi tetep nekat ngeblog dengan alasan ‘pengen refreshing’. Anak baik, mohon jangan ditiru.

Advertisements

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s