[Drabble] Di Sebuah Pukul Sembilan Malam

tumblr_n3nz5qls741qguxtro1_500

.

.

.

“Di sebuah pukul sembilan malam di kota itu,

ia tengah bergumul bersama secangkir kehangatan pahit

dan sesosok dewi yang manis.”

.

.

.

Di sebuah pukul sembilan malam, ia ada di sana.

Di kamarnya yang mahal dan nyaman. Di atas ranjang empuk dan hangat. Bersama secangkir kehangatan pahit meluncur bebas di kerongkongannya. Dan sesosok dewi kecantikan yang merengkuh pinggangnya, menyandarkan kepalanya yang beraroma floral pada dada bidangnya, serta obrolan-obrolan ringan tidak penting.

Di sebuah pukul sembilan malam, ia tengah menikmati penghujung pekan yang sederhana dan menenangkan. Bersama Aphrodite kesayangannya dalam rengkuhan, menyingkirkan dingin yang berusaha mencumbu tubuhnya.

Di sebuah pukul sembilan malam, ada sebersit kebahagiaan. Menghapus segala lelah setelah lima hari bergumul bersama arsip-arsip keparat dan perangkat komputer yang sama keparatnya, mungkin pula atasan dan rekan-rekan kerja yang sedikit bajingan, atau bahkan pegawai minimarket tempatnya membeli sekaleng bir kemarin sore yang melayaninya dengan galak-yang mungkin sedang dalam masa pra menstruasi-dan sedikit-banyak membuat dongkol bercokol di hati kecilnya.

Di sebuah pukul sembilan malam, ia merasa tenang. Tak lagi dipedulikan film laga di televisi, toh Aphrodite-nya dengan segala kecantikan yang terpancar dari tubuh serta hatinya, malam itu berhasil menyita seluruh atensinya. Membuatnya berpikir mungkin ini akan menjadi satu dari sekian banyak malam-malam panjang dalam hidupnya. Yang meski melelahkan namun sedikit-banyak menghilangkan beban yang berkecamuk dalam pikirannya yang berharga.

Di sebuah pukul sembilan malam- Oh. Sekarang nyaris sepuluh, sepertinya.

Sebaiknya kita tinggalkan ia yang hendak berbagi cinta dengan dewi kecantikannya.

Di sebuah pukul nyaris sepuluh malam, ia berbahagia.

Meski di belahan dunia yang lain, tidak semuanya merasa sama.

Aku misalnya.

Di saat ia berbahagia, aku di sini.

Duduk sejak dua jam lalu di sebuah kursi plastik yang buat bokongku mati rasa.

Layar monitor yang tak berhenti pancarkan cahaya yang berpotensi menambah minus di kedua manik legamku.

Secangkir kopi dinginku yang entah mengapa rasanya aneh sudah habis kusesap, barusan saja kucuci cangkirnya bersama tumpukan piring bekas ‘pesta’ kecil perayaan ulangtahun ibuku.

Di sebuah pukul nyaris sepuluh malam, aku di sini.

Menulis baris-baris tak bermutu tentang ia yang kini sedang melucuti pakaian Aphrodite.

Ironis sekali.

.

.

.

-fin

Notes :

Fin?

Fin?

Iya udah. Selesai. Bubar.

Tida ada esensi. Miskin faedah.

Sebenernya tadi aku nulis apa?

Kenapa aku jadi bermonolog kayak orang bego gini?

Jadi… Ceritanya… Aku menuliskan… Tentang sebuah ironi di malam hari.

Dengan bahasa yang kacau.

Mana ada di sebuah pukul sembilan malam.

Ah bodo amat. Gua yang nulis juga.

Lah.

So fucking pathetic.

Bye.

Advertisements

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s