#BTSWhiteDay – How Did I Fall in Love with You?

tumblr_n739kyPHm91svtlk8o1_500

.

.

.

“You’re an asshole but I love you.”

.

.

.

Recommended backsong : P!nk ft Lily Allen – True Love

JIN X DAYOUNG

“Pergilah, Seokjin. Aku tidak apa-apa.”

“Tidak sebelum kamu makan.”

“Aku tidak mau makan kalau kamu tidak menyingkirkan brokolinya.”

“Sayuran baik untukmu, apalagi kamu sedang sakit.”

Dayoung membenamkan wajahnya di bantal dan mengerang kesal. Punya pacar yang perhatian seperti Seokjin adalah idaman semua gadis di seantero dunia. Namun ada kalanya Seokjin menjadi terlalu perhatian dan itu membuat Dayoung kesal.

Seperti saat ini. Ia baru saja sakit demam lantaran kemarin kehujanan dan Seokjin bertamu ke rumahnya hari ini, membawakan sup sayuran buatannya. Romantis, sih… Tapi keromantisan itu sirna tatkala manik mata Dayoung memergoki beberapa potong brokoli mengapung di sana. Dayoung sampai mengusir Seokjin dari rumahnya lantaran pria itu terus memaksanya makan brokoli.

“Ayolah, Dayoung… Sekali ini saja makan brokoli, oke?” Seokjin masih berusaha membujuknya. “Nanti setelah kamu sembuh, aku janji aku akan membelikanmu es krim, bagaimana?”

“Memangnya aku anak kecil yang mudah diiming-imingi dengan es krim?” protes Dayoung dan Seokjin tak bisa menahan tawa gelinya.

“Kamu kan memang seperti anak kecil,” ucap Seokjin dan Dayoung melotot tak terima. Hei, umurnya sudah dua puluh tahun dan tinggi badannya nyaris seratus tujuh puluh sentimeter, ia tak terima dibilang anak kecil!

“Aku bukan anak kecil!” protes Dayoung sekali lagi.

“Kalau kamu bukan anak kecil, kamu tidak akan merajuk ketika dipaksa makan sayur.”

Dayoung bungkam. Sialan. Iya juga, mana ada orang dewasa yang merajuk kalau dipaksa makan sayur?

“Nah, kalau kamu mau aku menganggapmu sebagai wanita dewasa, ayo makan brokolinya.”

“Ugh!” Dayoung menyuapkan dua potong brokoli sekaligus dan sekali lagi, Seokjin tertawa, membuat gadis itu makin sebal.

Well, ia benci Seokjin ketika ia mulai terlalu perhatian dan khawatir padanya, namun di saat yang sama, ia merasa beruntung. Tidak semua gadis di dunia ini beruntung punya pacar seperhatian Kim Seokjin, kan?

***

SUGA X JINHEE

“Yoongi, ada film bagus di bioskop!” ucap Jinhee. “Kamu ingat Divergent, kan? Yang pernah kita tonton dulu? Nah sekuelnya sudah mulai tayang di bioskop!”

“Oh,” timpal Yoongi pendek, tak mengalihkan pandangan dari ponselnya sedikitpun.

Oh? Hanya itu komentar Yoongi? Jinhee mendengus. Padahal ia kan sedang memberi kode pada Yoongi!

“Kamu tidak penasaran dengan sekuelnya?” tanya Jinhee. Yoongi cuma mengangkat bahu.

“Aku saja lupa akhir dari Divergent.”

Oh, ya. Jinhee baru ingat. Yoongi tertidur pulas di menit-menit terakhir film Divergent waktu itu. Jinhee makin dongkol saja. Ia tahu Yoongi tidak begitu suka menonton film, tapi tidak bisakah ia menjadi pacar yang sedikit romantis sekali saja?! Jinhee tidak begitu suka musik hip hop, namun ia tak pernah protes saat Yoongi menyetel musik hip hop keras-keras atau memintanya menjadi pendengar pertama setiap saat ia baru saja menyelesaikan sebuah komposisi lagu.

Belum sempat Jinhee mengomel, Yoongi sudah terlebih dulu angkat bicara,”Kamu pasti mau mengajakku menonton film, kan? Kamu pikir aku tidak tahu?”

“Dan kamu pasti takkan mau kuajak, sekalipun aku menawarkan akan membayari tiketnya,” sahut Jinhee sambil melipat kedua tangan di depan dada. Kapan sih Yoongi bisa romantis sedikit saja?

“Jadi kamu ingin aku lebih romantis?”

Hah? Sial! Yang tadi itu tidak cuma dibatin? Jinhee merutuki kebiasaan ceplas-ceplosnya, sementara Yoongi melemparkan seringai menyebalkan padanya.

“Katanya yang menyebalkan itu bikin kangen,” ucap Yoongi. “Nanti kalau aku jadi romantis dan tidak menyebalkan lagi, kamu malah kangen dan minta aku berubah seperti semula.”

Yoongi tersenyum lebar, membuat tangan Jinhee gatal ingin merobek wajahnya. “Kamu tahu kenapa aku tidak mau menonton film bersamamu?”

“Karena kamu tidak suka menonton film, menurutmu film bergenre sci-fi itu rumit, dan kamu tidak mau membuang-buang uang!” cerocos Jinhee.

“Ada satu lagi alasannya,” ucap Yoongi. “Aku tidak mau menonton film bersamamu, karena ujung-ujungnya bukannya berkonsentrasi pada jalan cerita filmnya, aku malah lebih tertarik memperhatikan ekspresimu saat menonton film. Bukankah itu artinya satu tiket terbuang sia-sia?”

………

………

………

“Menjijikan,” desis Jinhee sambil mengubah posisi duduknya, memunggungi Yoongi yang tengah menertawakan gombalan murahannya. “Sekarang aku mulai berpikir ulang untuk mengajakmu menonton film.”

***

J-HOPE X KYUNGRIN

PLAK!!

“Aww- Hei, kenapa kamu memukul tanganku?” protes Hoseok sambil meringis, mengusap-usap punggung tangannya yang memerah akibat pukulan maut Kyungrin.

“Harusnya aku yang bertanya lebih dulu. Kenapa kamu jorok sekali?” tanya Kyungrin galak. “Kamu kan baru saja bermain basket dan berkeringat, pakai acara guling-guling di lapangan segala. Masa iya kemudian kamu mau makan tanpa mencuci tangan lebih dulu?”

“Tck… Tidak ada air!” elak Hoseok. “Jangan suruh aku cuci tangan dengan air minumku. Tinggal sedikit.”

Hoseok hendak meraih kembali sepotong roti isi di kotak bekal yang dibawa Kyungrin, namun gadis itu terlebih dahulu menyodorkan sebotol hand sanitizer. Hoseok mendengus, heran mengapa gadisnya ini begitu terobsesi dengan kebersihan, kerapian, kedisiplinan, pokoknya serba perfeksionis.

“Sekali-sekali makan tanpa cuci tangan terlebih dahulu tidak akan membunuhku, tahu,” kata Hoseok seraya mengunyah roti isi buatan Kyungrin.

“Masalahnya, kamu tidak hanya melakukannya sekali dua kali,” jawab Kyungrin. “Kamu sudah lupa dua minggu lalu kamu sekarat karena typhus? Mau diulangi lagi?”

“Iya, iya, sudah jangan ceramah!” Hoseok mengibaskan tangannya. “Kamu itu lebih muda dariku, kurang ajar sekali menceramahiku.”

“Hei, itu bukan kurang ajar!” Kyungrin membela diri. “Bagaimana bisa aku tidak ceramah panjang lebar kalau kamu jorok? Aku kan cuma tidak mau kamu sakit.”

Namun kali ini, Hoseok nyengir. Secerewet apapun Kyungrin, bagaimanapun kecerewetan Kyungrin lah yang membuatnya merasa diperhatikan. Ia mengabaikan protes Kyungrin saat lengannya merangkul pundak gadis itu.

“Hei, jangan rangkul aku dengan lenganmu yang lengket dan berkeringat itu!”

“Aku suka mendengar omelanmu,” ucap Hoseok dan Kyungrin menatapnya aneh.

“Kalau dipikir-pikir tidak ada salahnya kamu jorok,” Kyungrin tersenyum geli. “Aku juga suka mengomelimu.”

“Hei, kapan opera sabun ini berakhir?!” protes Yoongi yang masih berada di lapangan.

“Padahal aku sudah ngiler melihat roti isi Kyungrin, tapi bocah ini malah menggelar sebuah drama! Norak sekali!” Namjoon menoyor kepala Hoseok sambil menjulurkan tangan hendak meraih sepotong roti isi.

PLAK!!

“Cuci tangan dulu, Kim Namjoon!” Hoseok tersenyum penuh kemenangan, sementara Kyungrin terkekeh geli melihat Namjoon yang mati-matian menahan untuk tidak menghajar Hoseok saat itu juga.

***

RAP MONSTER X CHAN

“Namjoon, aku capek!” keluh Chan sambil membenturkan kepalanya pada meja belajar. Sore itu, Namjoon sedang membantunya mengerjakan tugas dari dosennya. Meski beda jurusan, Chan tak mengerti bagaimana Namjoon bisa dengan mudah memahami tugas dari dosennya Chan.

“Kalau mengeluh terus, sampai kiamat pun tugasmu tidak akan selesai,” jawab Namjoon santai. “Kamu ini baru semester tiga sudah banyak mengeluh, bagaimana kamu akan lulus nanti?”

Ya, Namjoon bisa bebas berkomentar sesuka hatinya. Level IQ-nya kan sundul langit! Namjoon tak perlu merasa kesulitan dalam belajar dan mengerjakan tugas.

“Aku mau ke dapur sebentar,” ucap Chan. “Aku mau membuat kopi.”

“Nanti saja. Selesaikan dulu tugasnya.”

“Tapi aku mengantuk! Kalau mengantuk kan tidak bisa konsentrasi!”

“Alasan. Pasti nanti kamu tidak cuma membuat kopi.”

Namjoon sudah hapal betul tabiat Chan kalau mulai suntuk belajar. Pertamanya ia akan bilang entah mau membuat kopi atau ke kamar mandi, tapi kemudian belok kemana-mana. Entah mencari cemilan, membalas pesan singkat dari teman-temannya, bahkan malah tidur di sofa.

“Kamu menyebalkan!” cetus Chan sambil memajukan bibirnya, kemudian membenamkan wajahnya pada meja. Kalau sudah begini, biasanya Chan akan benar-benar ngambek dan mengabaikan ucapan Namjoon. Namjoon menghela nafas, diam-diam mengulum senyum. Baginya ada tiga momen dimana Chan terlihat imut di matanya : saat bingung, saat mengantuk, dan saat ngambek.

“Hei, Chan,” panggil Namjoon. Namun Chan tetap tidak bergerak dari posisi semula. Entah ia memang sengaja mendiamkan Namjoon atau ketiduran.

“Maaf kalau aku terlalu strict, tapi aku tidak mau kamu gagal semester ini,” kata Namjoon, mengingat bahwa Chan baru saja mendapat nilai D beberapa hari lalu dan nilainya yang sedikit menurun semester ini. “Kamu bilang sendiri kan kalau kamu bisa dihajar ayahmu jika kamu sampai gagal? Nah, sekarang kamu pilih. Kamu mau belajar denganku atau dihajar ayahmu?”

Kali ini, Chan mengangkat wajahnya. Ia menatap Namjoon tanpa ekspresi, namun kemudian tatapan matanya beralih ke laptopnya yang masih menyala. “Sampai mana aku mengerjakannya tadi?”

Namjoon tersenyum, mengacak rambut Chan tanpa peduli akan erangan kesal gadis itu. Sebenci apapun Chan akan Namjoon yang strict dalam urusan belajar, ia akan lebih benci lagi kalau harus menerima pukulan dari ayahnya.

***

JIMIN X NAT

“Haruskah kamu tersenyum seperti kucing Chesire sepanjang hari, Nat?” tanya Jimin.

“Kamu tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang, Jim!” gadis itu masih saja cengengesan seperti orang hilang akal, sementara Jimin memutar bola mata lelah.

Bagaimana tidak? Dua hari lalu Nat baru saja menonton konser Royal Pirates-grup indie favoritnya-dan beruntungnya lagi, ia menjadi salah satu lucky fans yang mendapatkan pelukan serta kesempatan berfoto bersama mereka. Tentu saja itu membuatnya tak bisa berhenti tersenyum sepanjang hari!

Dan- Ugh, bagi Jimin ini menyebalkan! Nat saja tidak tersenyum sepanjang hari setelah mendapatkan ciuman pertamanya dari Jimin dulu! Parahnya lagi, Nat mengganti wallpaper ponselnya yang tadinya adalah fotonya dengan Jimin menjadi fotonya bersama anggota grup Royal Pirates. Bagaimana Jimin tidak dongkol setengah mati?

“Jim?”

“Jimin?”

“Chim-chim?”

“Park Jimin?”

“Zimiiiiiinnnn~”

Jimin cuma melirik Nat kemudian berdecak kesal. “Hei, kamu cemburu?” tanya Nat. Tanpa perlu bertanya pun, jawabannya dapat dilihat jelas dengan mata telanjang.

“Aww, Chim-chim cemburu~” bukannya berusaha membujuk Jimin supaya tidak semakin ngambek, Nat malah menggodanya sambil mengacak-acak rambut kecoklatan Jimin, membuat pria itu mengerang sambil berusaha menyingkirkan tangan Nat dari kepalanya.

“Chim-chim marah?”

“Terimakasih sudah bertanya,” jawab Jimin sarkastik. “Aku TIDAK marah, Nat. Tentu saja, untuk apa aku marah?!”

Di luar dugaan, Nat malah tertawa keras-keras. Tak peduli dengan wajah Jimin yang makin masam. “Terimakasih sudah cemburu.”

Apa?! Bagaimana bisa Nat malah berterimakasih atas betapa cemburunya Jimin?! Kadang ini membuat Jimin berpikir bahwa jalan pikiran Nat tidak lebih waras dari Kim Taehyung, sahabatnya yang super aneh itu.

“Kalau kamu cemburu, berarti kamu sayang denganku, kan?” tanya Nat. Jimin melengos, membuat Nat tertawa sekali lagi.

“Jangan sok jual mahal. Aku jadi ingin membully-mu terus.”

“Kenapa kamu jahat sekali, sih?” protes Jimin. Nat tersenyum, kemudian mencubit ujung hidung Jimin.

“Lagipula kamu ini aneh sekali. Buat apa kamu cemburu pada pria-pria yang jelas-jelas tak mungkin dapat kumiliki?” ucap Nat. “Segila apapun aku pada mereka, aku menyukai mereka sebagai idola, tidak lebih.”

Kali ini hati Jimin mulai luluh, pun mulai menyesal mengapa ia harus cemburu. Benar juga. Nat kan tidak mungkin akan meninggalkannya dan mengencani satu dari ketiga anggota Royal Pirates. Ia cuma manggut-manggut, entah mengapa harga dirinya berkata ia masih harus sok jual mahal di depan gadis yang sudah berhasil membully-nya habis-habisan.

Tapi kemudian sebuah kalimat terlintas di pikirannya, membuat Jimin tersenyum dan melemparkan tatapan iseng pada Nat. “Iya, ya… Segila apapun kamu pada Royal Pirates, kamu akan tetap lebih tergila-gila padaku.”

***

V X HYOJIN

“Hyojin?”

“Hmm?”

“Kamu masih marah?”

“Aku kan sudah bilang, Tae. Aku tidak sedang marah,” Hyojin meringkuk di balik selimut tebalnya. “Aku cuma sedang tidak dalam mood yang bagus.”

“Tidak ada bedanya bagiku.”

“Ya, terserah kamu sajalah. Sekarang sebaiknya kamu diam atau kamu boleh pulang karena aku sedang tidak ingin beradu mulut denganmu.”

Bagi Hyojin (dan sebagian besar kaum Hawa), kedatangan ‘tamu bulanan’ adalah bencana. Semuanya rusak, mulai dari mood sampai fisiknya yang terasa beberapa kali lipat lebih lemah. Hyojin yang pada dasarnya sudah galak jadi semakin galak karenanya. Dan secara tidak langsung, berimbas pada pacarnya-Taehyung-yang menjadi korban mood swing Hyojin.

“Memang sesakit itu, ya?” tanya Taehyung dengan nada polos. “Bukannya tidak ada bedanya dengan sakit perut biasa-“

“Tae, kalau kamu tidak pernah merasakannya, kamu tidak perlu banyak berkomentar,” potong Hyojin cepat. “Sudah aku bilang, diam atau pulang.”

Taehyung cemberut. Ia tidak suka melihat Hyojin seperti ini. Dengan wajah pucat, rambut berantakan, dan cuma bisa meringkuk di balik selimut. Ia lebih suka Hyojin yang biasanya. Yang galak dan bisa ia bully.

“Hyojin, mau es krim?” tanya Taehyung lagi. “Well, kita tidak perlu keluar rumah karena aku tahu kamu pasti bakal marah-marah kalau aku mengajakmu, sebenarnya aku membawakanmu es krim tadi, tapi aku taruh di kulkasmu-“

“Taeeee kenapa tidak bilang daritadi?” rengek Hyojin kesal. “Aku mau es krim!!”

“Oh?” Taehyung melongo. “Aku pikir kamu bakal memarahiku selama aku di sini, jadi daripada aku membiarkan es krimnya mencair sembari menunggu omelanmu selesai-“

“Tidak usah banyak bicara!” Hyojin setengah membentak Taehyung. “Bawa saja ke sini es krimnya, tidak usah pakai penjelasan panjang lebar segala mengenai mengapa kamu meninggalkan es krimnya di kulkas dan blablabla…”

Tanpa banyak bicara, Taehyung mengambil es krim coklat yang ia bawa beserta dua sendok bertangkai panjang, dan menit selanjutnya… Hyojin sudah terlihat lebih baik. Tidak ‘seganas’ sebelumnya.

“Enak, ya?” tanya Taehyung, sekedar basa-basi.

“Seperti es krim pada umumnya,” Hyojin menimpali pertanyaan tak penting Taehyung dengan jawaban sarkastik, namun tampaknya Taehyung tak begitu peduli. “Omong-omong, terimakasih.”

“Hah? Untuk?”

“Es krimnya. Kamu sepertinya tahu bahwa es krim selalu bisa membuat perasaanku lebih baik.”

“Oh ya?” Taehyung tersenyum bangga, seolah ia baru saja menemukan sebuah teori fisika baru. “Baguslah kalau begitu.”

Hyojin tersenyum tipis, kemudian menyuapkan sesendok penuh es krim ke dalam mulutnya sekali lagi. Dirinya nyaris tersedak es krim saat ia merasakan bibir Taehyung yang dingin menyentuh pipinya.

“Aku juga tahu bahwa yang ini bisa membuat perasaanmu jauh, jauh, jauh lebih baik lagi.”

……..

……..

……..

Omong-omong, Taehyung tidak salah.

……..

……..

……..

“Sialan kau, Kim Taehyung!”

***

JUNGKOOK X KEIKO

“Kei, kalau aku berkata ‘Keiko, maaf aku tidak sengaja menjatuhkan kameramu dan lensanya pecah!’, maka apa reaksimu?”

Dahi Keiko berkerut akan pertanyaan aneh Jungkook ketika mereka sedang makan siang bersama di kantin siang itu. Setelah menelan makanannya, ia berujar,”Aku akan marah padamu, tentu saja. Tak peduli apapun alasanmu dan janjimu untuk menggantinya, aku akan tetap marah.”

Jungkook cuma manggut-manggut, membuat Keiko makin heran. “Kenapa sih kamu bertanya seperti itu? Jangan-jangan kamu hendak mencoba merealisasikannya, ya?”

“Apa? Tentu saja tidak!” Jungkook tertawa. “Masa iya aku tega membanting kamera yang kamu beli dengan hasil tabunganmu sendiri?”

“Siapa tahu?” Keiko ikut tertawa.

“Sebenarnya, aku masih punya pertanyaan lain.”

“Oh, ya? Apa?”

“Tapi apa kamu juga akan bereaksi sama?”

“Maksudmu?”

“Marah.”

“Tergantung apa pertanyaanmu.”

“Soalnya aku takut kalau kamu marah akan hal yang ini,” Jungkook nyengir. “Sebenarnya aku cuma mau tanya, kalau aku berkata,’Keiko, maaf aku membuatmu tergila-gila padaku dan merusak sistem kerja otakmu serta kewarasanmu!’, maka apa reaksimu?”

.

.

.

-fin

Notes :

Hi there!!

Okay, so I’m back with this super disgusting cheesy drabbles compilation to celebrate White Day, which actually still a week later. And it’s not really about White Day thingy because if I made kind of fics like that, it’s all will be 7 drabbles with same plots. So I decided to made fics about ‘love-hate’, like… Yeah, you’re an asshole but I love you. How did I fall in love with you? I am in love with you, but you are a little shit. Lol what am I saying?

Okay, so hope you like it and see ya in the next fic!!

Advertisements

2 thoughts on “#BTSWhiteDay – How Did I Fall in Love with You?

  1. Hahaha hai ranee!! Aku berkunjung!! ♥

    SUMPAH YA INI LUCUK BANGET. Dan part favku itu yg versi taehyung. Plis itu anak emang otaknya miring nyebelin tapi emang bikin sayang banget. Noona nyerah tae, noona nyerah!! ((Angkat tangan))

    Dan buat mbak dayoung, plis itu mas seokjin udah pacar-able banget, kenapa masih sebel pas dia peratian sih? X) makan brokoli enak tauuu huhuhu

    Terus yg bagian mas yoongi, aku nyerah juga. Alesannya itu nyebelin tapi bikin senyum2 sendiri errrr
    Tadinya aku mau review semuanya, tapi nanti malah kepanjangan. Berhubung aku cuma bisa komen lewat hape… Huhuhu ((maap)) 😦

    Tapi tulisan kamu udah terbilang rapi, kok ran(?) Meski aku nemu beberapa typo (ada kata ‘sekedar’ yg seharusnya ‘sekadar’, terus ‘memperhatikan’ seharusnya ‘memerhatikan’ dan ‘cemilan’ seharusnya ‘camilan’) hehe tapi gak ngurangin kelucuan ficnya kok :3

    Isi semua bagian emang mereferensikan judulnya. Jadi pass!

    Mungkin segitu dulu, nanti aku dateng lagi, ya! ;))

    1. Hai juga, Kak Tita! Wah makasih sudah nyempetin buat mampir lho 🙂
      Aku gatau mau ngomong apa, yang jelas terimakasih (lagi) sudah baca, komen, dan ngasih masukan ^^

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s