[Ficlet] A Young Lady on Table Number Three

wine

.

.

.

“Untuk wanita cantik di meja nomor tiga,

mari kita minum bersama setelah ini.”

.

.

.

Recommended backsong : Ben I’Oncle Soul – Etre Un Homme Comme Vous

Kafe mahal bernuansa barat seperti ini sebenarnya sangat bukan style Jihyun. Jika saja bukan karena sahabatnya yang merayakan ulang tahun pernikahannya yang pertama di sini, maka ia takkan pernah sekali-kali bersukarela menginjakkan kaki di kafe yang bisa membuatnya bangkrut seketika (untung saja sahabatnya itu yang membayar bill, ia kan yang mengadakan acara).

Jihyun lebih suka nongkrong di coffee shop dengan nuansa indie yang kental atau kedai bubble tea dekat SMA tempat ia menuntut ilmu beberapa tahun silam. Selain tidak merogoh kocek terlalu dalam, ia lebih bersahabat dengan nuansa ala kawula muda, tak peduli meski umurnya sudah nyaris seperempat abad.

Sementara para sahabatnya sedang mengobrol tentang kapan menikah, kapan mendapat momongan, dan berbagai topik pembicaraan yang sama sekali tak menarik atensi Jihyun, wanita itu memilih memerhatikan keadaan sekitar. Meja-meja bundar yang dipenuhi oleh orang-orang bergaun indah maupun berjas rapi dengan tampang sukses dan bermasa depan cerah (memang ada tampang seperti itu?), atmosfir keramaian yang teratur dan riuh rendah oleh suara tawa dan cengkrama mereka bersama nyanyian penyanyi kafe di panggung kecil di sudut sana.

Dan manik matanya bertemu pandang dengan sepasang manik mata lain yang tanpa ia sadari sudah memandanginya entah sejak kapan. Bukan memandangi penuh curiga layaknya seorang agen rahasia yang tengah mengincar teroris buronan FBI atau apa, tapi tatapan teduh dan ingin tahu.

Sadar akan hal itu, pemilik sepasang manik mata itu yang merupakan seorang pria muda berjas lantas tersenyum sopan, yang mana dibalas senyum manis dari Jihyun. Pria muda itu mengangkat gelas anggurnya hingga sejajar dengan wajahnya, memberikan gestur yang seolah berucap,‘enjoy your wine, Lady.’. Sungguh gerak-gerik yang manly sekali. Wanita mana yang tidak melayang sampai langit ketujuh?

Jihyun tersipu, turut mengangkat gelasnya malu-malu, dan membuka mulutnya tanpa suara.

Thanks, you too.

“Ehem… Good evening, Ladies and Gentlemen,” terdengar suara sang penyanyi kafe, menarik atensi dari nyaris seluruh pengunjung kafe. “First, I want to say welcome for you who just arrived here and enjoy the dinner for you who already have your dinner here. Dan karena aku sudah terlalu sering menyanyi untuk Anda semua di sini hingga sepertinya Anda bosan mendengar suara aku, maka aku akan mengundang orang lain untuk menggantikanku.”

Penyanyi kafe tersebut tersenyum, menggesturkan tangannya ke arah pria berjas yang tadi tersenyum pada Jihyun. “Mungkin akan menyenangkan bila kita punya kesempatan untuk mendengar nyanyian dari pemilik tempat ini sendiri, Kim Joonmyeon. Kudengar ia memiliki suara yang merdu.”

Pria yang disebut namanya tadi tersenyum menolak, namun tetap berdiri dan berjalan ke depan. “Applause for him, Ladies and gentlemen!”

Tepuk tangan riuh rendah mengiringi langkah pria muda bernama Kim Joonmyeon tersebut, tak terkecuali dari kedua tangan Jihyun sendiri. Wow, ia tak menyangka bahwa pria semuda itulah yang merupakan empunya kafe yang bisa meraih omset sebanyak harta Paman Gober ini. Dasar orang jaman sekarang, pandai sekali mencari uang.

“Terimakasih, Laura. Baiklah, aku tak bisa bilang suaraku merdu karena tentu saja suara Laura jauh lebih merdu. Jadi aku harap aku tak membuat kalian semua membuat janji dengan dokter THT besok setelah mendengar suaraku malam ini,” ucap Joonmyeon, matanya kembali menaruh atensi pada Jihyun. “Aku ingin menyanyikan sebuah lagu dari Eric Benet yang berjudul ‘Chocolate Legs’. Dan secara khusus, lagu ini kupersembahkan pada wanita cantik di meja nomor tiga.”

Mengikuti arah gestur tangan Joonmyeon, kini seluruh pasang mata di kafe tersebut tertuju pada Jihyun yang hanya bisa tersenyum malu. “Jujur aku baru melihatnya dan aku tidak mengenalnya, namun aku berharap setelah ini aku punya kesempatan untuk berkenalan dengannya.”

Ugh, sial. Jihyun merasa pipinya memanas dan seolah ada ratusan kupu-kupu menari-nari di dalam perutnya. Pria ini benar-benar sukses membuatnya malu dan senang di saat bersamaan.

Dan sebelum bernyanyi, Joonmyeon kembali berkata,”Untuk wanita cantik di meja nomor tiga, mari kita minum bersama setelah ini.”

Oh, oke… Kau pikir Jihyun bisa menolak?

.

.

.

-fin

Notes :

Fic ketiga yang aku post hari ini. Entahlah kalo ngeliat Suho yang ada di bayanganku adalah “he’s a type of rich young guy who will flirt to a young lady at a high class Western restaurant.” dengan nuansa jazz yang kental, hahaha… Maafkan imajinasiku.

Advertisements

2 thoughts on “[Ficlet] A Young Lady on Table Number Three

  1. WOHOOOO YOU RELEASED A NEW FIC TONIGHT! :3

    Ugh Kim Joonmyeon tuh emang pantes banget dibuat beginian soalnya tampang orang kaya melebih pamannya Donal Bebek sih wkwk XD Aku suka imagenya disyiniii. Mereka pasti bakal jadi high-class couple terus entar naik limousine buat candle light dinner bareng di restoran bintang lima lalu Joonmyeon bakal lamar dia dengan cincin bertahtakan berlian WAHAHAHAHAHAHAH /dibuang.

    FLUFFNYA BIKIN TERBANG YA AMPOONN. INI DISELINGI KOMEDI ALA KAMU DAN AKU SAYANGG SAMA FIC INI :3 /peluk /hah. YOU DID GREAT, KAK! XD
    Nice fic untuk entah keberapa kalinya malem ini hahaha! XD Keep writing! XD

    1. Hehehe mumpung lagi banyak ide jadi segera aku tulis aja sebelum menyublim //emangbisa
      Iya aku juga pengen jadi Jihyun punya cowok tajir tapi da aing teh saha atuh cuma remah-remah kerupuk di piring A Suho -_-
      Makasih ya, Hani ^^

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s