Summer Writing Prompts – Melted

tumblr_n9x73z4nLd1qijeudo1_250

.

.

.

“Entah kapan terakhir kali ia merasakan kehangatan.”

.

.

.

Walaupun beberapa minggu belakangan ini suhu udara melonjak drastis dan tiba-tiba langit berbaik hati menurunkan hujan, namun Jo tak berniat berterimakasih kepada langit. Hujan turun di saat ia baru saja hendak meninggalkan sekolah dan menunggu bus di halte. Dan sekarang, ia hanya bisa menunggu hujan mereda lantaran payung merahnya tertinggal di rumah.

Sudah pukul empat sore. Sekolahan sudah sepi, terlebih lagi cuaca yang membuat orang-orang enggan berlama-lama di luar rumah. Mungkin hanya beberapa orang yang masih berada di sekolah, karena terjebak hujan sepertinya atau mengerjakan tugas.

Dan Jo mengernyitkan alisnya tatkala ia merasa sesuatu menaungi kepalanya. Ia mendongak, menatap sebuah payung transparan besar kurang dari setengah meter di atas kepalanya.

Oh… Dan Jo lebih kaget lagi ketika menyadari siapa yang tengah memayunginya.

“Oh Sehun,” gumam Jo, nyaris tanpa suara. “Eung… Hai?”

Seperti yang telah diduga olehnya, pemuda yang ia sebut namanya barusan hanya mengangguk menanggapi sapaan canggung darinya. Ia terlalu dingin bahkan hanya untuk balas mengucapkan ‘hai’.

“Kupikir kau sudah pulang,” ucap Jo. “Karena hari ini hujan jadi kau tak bisa berlama-lama di sekolahan untuk bermain basket.”

“Hujan tidak akan mereda secepat yang kau harapkan,” Sehun memilih untuk tak menanggapi ucapan Jo sebelumnya. “Ayo.”

Mereka selalu satu kelas sejak tahun pertama. Sama-sama sering tanpa sengaja menunggu bus di halte yang sama dan naik bus dengan rute yang sama pula. Dan mereka sama-sama orang Asia yang terdampar di New York karena mengikuti orangtua mereka. Tetapi baru kali ini mereka berjalan berdampingan dan bernaung di bawah payung yang sama.

Oh Sehun adalah seorang pemuda yang dingin. Ia tak banyak bicara, namun karismanya tetap saja meluap-luap. Lahir dari keluarga berada, cukup pandai, tampan, center tim basket, dan seorang streetdancer. Siapa yang tidak suka?

Jo mengakui Sehun tampan. Tubuhnya tinggi tegap dan kurus, garis wajahnya tegas dengan rahang tajam, sepasang mata rubah yang intimidatif dan awas pada mangsa yang siap ia terkam, bibir tipis yang ranum, dan hidungnya yang tinggi. Lekuk fisiknya nyaris tanpa cacat, seolah ia adalah Aphrodite yang turun ke bumi dan menjelma menjadi seorang pria. Tapi entahlah… Jo tidak tertarik. Atau mungkin lebih tepatnya, belum tertarik pada Sehun.

“Jo?”

“Ya?”

Don’t you think that I’m too cold?

Jo terdiam. Mereka tidak pernah benar-benar terlibat sebuah konversasi sebelumnya, dan tiba-tiba Sehun melontarkan satu pertanyaan yang berpotensi sebagai awal mula sebuah percakapan panjang lebar, mungkin hingga mereka telah berada dalam bus nanti.

Uh, to be honest, yes,” sahut Jo. “And can I ask you why do you act so cold?

Sehun mengangkat bahu. “I used to be a warm person before my parents divorced.

Jo merasa tidak enak hati. “Oh, sorry. I didn’t mean to-

No, it’s okay. It has been few years ago.

Keheningan kembali menyelimuti keduanya ketika sampai di halte yang sepi. Hanya ada seorang pria muda memakai pakaian kerja yang tengah sibuk dengan ponselnya.

If you wasn’t born as a cold person, apa akan ada kemungkinan kau akan berubah menjadi dirimu yang sebenarnya?” tanya Jo.

If someone can change me, tho…” sahut Sehun, lantas menutup payungnya. “I’m waiting for that ‘someone’.

Sehun mengusap lengannya yang dingin. Nyaris tersentak saat sebuah jaket kelabu tersampir di bahu tegapnya.

I’m okay with cold temperature,” ucap Jo, tersenyum tipis. “And your frozen heart… Need a little warmth.

Sehun menatap Jo yang fokusnya mulai teralihkan ke jalanan yang basah oleh hujan. Entah kapan terakhir kali ia merasakan kehangatan. Kehangatan yang membuatnya seperti bongkahan es yang perlahan meleleh. Kehangatan yang membuat garis tajam di wajahnya perlahan melembut. Kehangatan yang membuatnya mengulas sebuah senyum tipis tatkala Jo menoleh sekali lagi ke arahnya.

Dan sepasang manik coklat gelap milik Jo yang tampak terkejut melihatnya tersenyum, membuat Sehun ingin tersenyum lebih lebar lagi… Dan lebih tulus.

Jo perlahan turut mengulas senyum. “Nah, lihat. Kau tampak lebih tampan bila tersenyum.”

“Kau yang membuatku tersenyum,” ucap Sehun.

Jo terkekeh. Tawa ringannya membaur dengan udara dingin beraroma khas hujan. Sepertinya ia mulai tertarik dengan sosok yang berdiri di sampingnya ini.

Dan mungkin itu juga yang Sehun rasakan.

Ia mulai tertarik dengan Jo.

Sepercik api yang mampu melelehkan bongkahan es yang beberapa tahun terakhir mengurung hati kecilnya.

Mungkin Jo lah orang itu. Orang yang selalu Sehun tunggu.

.

.

.

-fin

Notes :

Yha sudah mulai musim gugur di luar negeri dan Summer Writing Prompts-nya belum kelar. Bebas deh…

Advertisements

One thought on “Summer Writing Prompts – Melted

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s