Summer Writing Prompts – Baby, I’m Yours

BvCr0gLCIAAJ9-u

.

.

.

“Terus kenapa kalo banyak yang suka sama aku?”

.

.

.

“Ini sudah setahun lebih kita jadian dan kamu masih ragu-ragu?” Sehun menatapku dengan sebelah alis terangkat, wajahnya nampak tengil sementara mulutnya tak berhenti mengunyah permen karet.

“Ya… Gitu deh…” sahutku, mendadak gagu. “Maksudku, aku kan cuma cewek biasa. Aku nggak cantik, nggak populer, nggak kaya, nggak pintar-“

“Emangnya aku cowok apaan? Aku bukan cowok yang cuma sayang sama cewek karena dia cantik, populer, kaya, atau pintar.”

“Terus aku juga nggak romantis-“

“Aku juga nggak romantis, kok.”

“Aku nggak feminin. Aku nggak suka dandan, aku berantakan, nggak anggun-“

“Nggak masalah.”

Sehun menatapku dalam-dalam. Sepasang manik coklatnya yang tajam dan angkuh membuatku sedikit bergidik.

“Apa lagi?” tanyanya, mungkin mulai jengah atas keraguanku.

Aku melarikan pupilku ke langit-langit apartemen, barangkali hal yang ingin aku ucapkan menguap dan menempel di sana.

“Eung…”

“Tck, kamu tuh jadi orang kok pesimis!” Sehun mencolek ujung hidungku.

“Ya gimana nggak pesimis? Aku pacaran sama cowok populer di sekolah yang punya banyak fans,” jawabku. “Kalo aku primadona kayak Krystal Jung mungkin aku nggak sepesimis ini.”

“Apaan deh!” ia memutar bola matanya. “Dulu-dulu kamu santai aja.”

“Ya sekarang yang suka sama kamu tambah banyak.”

“Hah?”

“Tambah banyak yang ngejudge aku juga.”

“Lah-“

“Tambah banyak juga yang modusin kamu,” kali ini aku mendengus. “Yang minta dijelasin soal pelajaran, diajarin main basket, ada-ada aja!”

Sehun melongo. Kalau saja aku sedang tidak kesal, aku pasti akan mencubiti wajahnya dan mengacak-acak rambut coklatnya gemas.

“Oh, jadi kamu-” ia menyeringai. “-cemburu?”

“Nggak cemburu juga, sih. Tapi risih aja. Coba kamu punya pacar tapi didempelin terus sama orang lain, apa nggak dongkol?”

“Sama aja, Neng! Itu namanya cemburu.”

Biasanya aku ikut tertawa mendengar gelak tawanya yang khas, tapi kali ini tidak. Malah rasa jengkel yang bercokol di hatiku makin bikin mangkel saja.

“Terus kenapa kalo banyak yang suka sama aku?” ia mengacak rambutku. “Toh aku sayangnya kan cuma sama kamu.”

“Dih gombal!” ketusku, tapi Sehun buru-buru menyambar bahuku dan menyandarkan kepalaku di dadanya.

“Woy-“

“Denger nggak?”

“Hah?”

“Dengerin deh!” Sehun menempelkan telingaku di dada kirinya. “Can you hear my heartbeat?”

“Ini apaan lagi-“

“Cuma ada dua alasan kenapa jantungku bisa deg-degan. Waktu abis olahraga, samaaaaa… Waktu ada kamu.”

“ANJIRR APAAN SIH GOMBAL BANGET!!!” pekikku tepat di telinganya, membuat ia mengumpat pelan dan menatapku dendam.

“Jangan tai deh! Jadi cowok jangan kebanyakan gombal!” aku menyentil dahinya.

“Gombal apaan? Kan aku cuma mau ngasih bukti kalo aku cuma sayang sama kamu.”

Aku terdiam. Bingung mau menjawab apa. Kecapan berisik dari mulut Sehun lah yang memecah keheningan super canggung di antara kami. Aku menatapnya yang mengunyah permen karet dengan kasar dan tergesa, pertanda ia sedang kesal.

“Nyebelin,” gumamku.

“Kamu juga nyebelin.”

“Kamu aja deh.”

“Kamu aja.”

“Kamu paling nyebelin.”

“Kita berdua nyebelin aja gimana?”

“Lo aja kalik.”

“Kampret.”

Aku mengumpat keras-keras saat Sehun menjepit kepalaku di ketiaknya dan mulai menjitaki aku tanpa ampun.

“Percaya nggak aku sayangnya sama kamu?” tanyanya

“Eh anjir anjir- Sayang apaan gue dibully gini- Kampret!”

Sehun tergelak. Lagi. Gelak tawa puas setelah berhasil menyiksa orang yang katanya ia sayangi ini.

“Sorry sorry hehehehehehe…….” nyengir bajing, Sehun mengusap-usap kepalaku dan kembali menyandarkannya di dadanya.

Aku hanya bisa mendengus. “Tau ah.”

“Wets wets jangan ngambek elah…”

“Siapa juga yang ngambek?”

“Masih nggak mau ngaku juga.”

“Berisik.”

“Biarin. Berarti aku sayang sama kamu.”

“Nggak nyambung, Bego.”

“Disambung-sambungin aja.”

“Bebas dah…”

“Kamu bilang kamu disirikin fans-ku?”

“Iye.”

“Harusnya kamu bangga dong! Itu tandanya mereka iri karena kamu itu beruntung bisa jadi pacarnya Oh Sehun.”

“Beruntung apaan? Yang ada capek tau nggak.”

“Dinikmati aja. Kan orang pacaran nggak melulu riang gembira bahagia selama-lamanya kayak dongeng pengantar tidur.”

“Ya terserah.”

“Butuh bukti lagi nggak kalo aku sayang kamu?”

“Nggak, makasih.”

Sayangnya penolakanku tidak berlaku bagi Oh Sehun. Toh pada ujungnya ia tetap menciumku.

.

.

.

-fin

Notes :

HAIIII SAYA KAMBEK LAGI!!!

Hehehehe…. This is so pointless tapi ya gimana Oh Sehun terlalu ganteng, aku lelah, dan aku hanya bisa menuangkan delusinasiku di sini //kemudian curhat sampe pagi XD

Advertisements

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s