#XOXODrabblesProject – Coffee Shop

coffee-love-wallpaper

.

.

.

“I was perfectly fine as I walked into this coffee shop.
I’m used to it, the caramel scent that came from your body, right?”

.

.

.

Ia bukanlah seorang pecandu kopi. Ia bukan wanita yang setiap pagi harus menyesap secangkir kopi sembari sarapan sandwich, mengerjakan desainnya ditemani secangkir kopi, atau lembur hingga larut malam juga bersama secangkir kopi.

Tapi sejak hari Kamis minggu lalu, saat salah seorang sahabat lama semasa sekolah menengah pertamanya mengajak ia bertemu untuk rehat sejenak dari kesibukan di sore hari di sebuah kedai kopi di pusat kota, mendadak kopi masuk dalam daftar hal-hal yang ia sukai.

Namanya Kim Eunyoung. Usianya dua puluh tiga tahun, namun namanya sudah cukup tersohor sebagai seorang desainer interior. Semasa remaja, ia dikenal sebagai seorang komikus berbakat yang telah menerbitkan nyaris selusin komik yang diimpor hingga luar negeri dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Entah apa yang menjadi alasan mengapa ia memutuskan untuk mencopot penghargaan sebagai komikus muda nan berbakat dan memilih hidup sebagai desainer interior.

Kamis minggu lalu, Josephine Jo-sahabat lamanya-baru saja pulang dari New York dan mengajaknya bertemu. Pukul lima sore di sebuah kafe kopi bernama ‘Sweet’s ‘N Treat’s’. Kafe yang usianya baru setahun lebih beberapa bulan itu memang sudah menjadi semacam trend di kalangan masyarakat Seoul, terutama para kawula muda sekelas pelajar sekolah menengah maupun mahasiswa.

Memiliki nuansa vintage yang ringan dan menenangkan, alunan musik indie maupun jazz yang selalu disenandungkan melalui speaker yang terpasang di setiap ujung ruangan, menu makanan maupun minuman yang murah pun rasa tidak mengecewakan, membuat kafe ini menjadi salah satu tempat nongkrong favorit.

Eunyoung cukup tahu tentang kafe itu. Pun tahu bahwa pemiliknya adalah seorang pria muda berusia dua puluh tujuh tahun yang telah memiliki lisensi barista-nya sendiri. Namun ia tak pernah sekalipun tertarik pergi ke sana, karena kopi bukanlah favoritnya untuk menjadi candu.

Sore itu, Jo mengajaknya bertemu di sana. Ia suka dengan suasananya, tapi tak pernah punya pikiran panjang untuk kembali mampir ke sana lagi jika saja matanya tak mendapati sosok pemilik kafe yang tengah membantu para karyawannya melayani pelanggan yang cukup membludak.

Pria muda yang meski tubuhnya tak terlampau tinggi, namun memiliki aura dewasa sekaligus manis. Pria dengan pipi agak chubby, sepasang mata bulat, dan senyum yang lebih patut disebut seringai. Suaranya tanggung, tidak terlampau dalam namun juga tidak cempreng.

Eunyoung tak pernah percaya pada cinta pada pandangan pertama. Baginya itu hanyalah omong kosong para remaja labil belaka yang belum bisa membedakan mana cinta, mana suka, mana kagum, mana nafsu.

Tapi sayangnya, pria itu membantah telak opini Eunyoung. Ia membawa Eunyoung kepada sensasi aneh khas gadis yang tengah dimabuk cinta. Membuat jantungnya berdegup kacau, memompa aliran darah banyak-banyak ke wajahnya hingga merona merah, dan mengakibatkan efek ratusan kupu-kupu menari di perutnya.

Seolah Dewi Fortuna memahami isi hati dan pikiran Eunyoung, ia membuat kebetulan dimana pria itu menjadi pelayan yang mengantarkan pesanan Eunyoung serta Jo. Sekilas dibaca olehnya name tag di kemeja putihnya.

-Kim Minseok-

“Owner”

Namanya Kim Minseok. Tiga suku kata itu terus berdengung di pikiran Eunyoung bak kaset rusak.

Sore ini adalah kali keempat Eunyoung kembali berkunjung ke kafe Minseok. Seolah tak peduli bahwa ini bulan Januari dan kebetulan cuaca sedang tidak begitu bersahabat, Eunyoung tetap membulatkan tekad pergi ke sana. Kafe sore itu cukup sepi, mungkin memang faktor cuaca menjadikan orang-orang enggan bepergian.

Lagi-lagi, Dewi Fortuna sepertinya sangat menyayangi Kim Eunyoung. Satu cup hot americano dan fettucini carbonara pesanan Eunyoung diantarkan sendiri oleh Minseok.

Minseok begitu dekat sampai Eunyoung dapat menghirup aroma karamel yang menguar dari tubuhnya, bercampur dengan aroma biji kopi dan parfum maskulin yang memabukkan.

“Aku melihatmu beberapa kali mampir ke sini,” ucap Minseok seraya meletakkan pesanan Eunyoung di meja. “Keberatan jika aku mengajakmu mengobrol?”

“Oh, tentu saja tidak!” jawab Eunyoung sembari tersenyum tipis, tak boleh semena-mena mengekspresikan euforianya.

“Kim Minseok,” ucapnya seraya tersenyum dengan seringai ramah khasnya. “Aku yang punya kafe ini.”

“Kim Eunyoung,” sahut Eunyoung sesaat setelah menyesap americano-nya.

“Sepertinya aku familiar dengan nama dan wajahmu.”

“Eumm… Yah, mungkin kau pernah mendengar Kim Eunyoung seorang komikus muda beberapa tahun silam-“

“Ah, iya!” potong Minseok sumringah. “Pantas saja! Dulu kau sangat terkenal! Seingatku salah satu temanku adalah penggemar berat komikmu dan aku meminjam beberapa darinya untuk kubaca.”

Eunyoung menunduk sopan, sarat menunjukkan kerendahan hati.

“Kau keren! Ngomong-ngomong, kudengar kau tidak lagi membuat komik sekarang?”

“Thanks! Iya, aku adalah desainer interior sekarang.”

“Kenapa berhenti menjadi komikus?”

“Entahlah… Aku berpikir itu tidak cukup menjanjikan.”

“Sayang sekali… Tidak berminat membuat lagi?”

“Eumm… Mungkin? Aku sedang berusaha membuat komikku lagi, mungkin prosesnya sedikit lama.”

“Oh, tenang saja! Aku akan sabar menunggunya terbit!”

“Thanks!!”

“Bagaimana kopinya?” tanya Minseok.

“Enak,” jawab Eunyoung, kehabisan kata-kata untuk berkomentar.

“Aku yang membuatnya sendiri,” ujar Minseok. “Begitu juga fettucini-nya.”

“Ini luar biasa! Since I’m bad at cooking,” Eunyoung tersipu.

“Thanks, aku masih harus banyak belajar, kok!” Minseok terkekeh.

Eunyoung nyaris mabuk dengan aroma karamel pria itu yang begitu manis. Nyaris membuatnya lupa diri.

“Eumm… Kim Eunyoung?”

“Ya?”

“Maaf jika ini terlalu lancang, tapi… Apakah kau sudah memiliki kekasih?”

“Tidak.”

“Oh, oke… Jadi, kalau misalkan aku meminta nomor telepon dan alamatmu, kau tidak keberatan, kan?”

Oh, Eunyoung benar-benar ingin menangis di bawah kaki Dewi Fortuna detik ini juga.

.

.

.

-fin

Notes :

Ended so awkwardly >.<

Ini masih kepanjangan juga buat disebut drabble, sejauh ini satu-satunya drabble dari #XOXODrabblesProject dengan bahasa paling formal (dan canggung).

P.S. : Quote taken from : B.A.P – Coffee Shop

Advertisements

2 thoughts on “#XOXODrabblesProject – Coffee Shop

Leave A Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s